Pengembaraan Cinta Sang Pendekar Langit

Amrullah Ibrahim
Chapter #58

Dingin yang Membekukan Tulang

Pukul tiga pagi di penghujung musim dingin, dataran tinggi Puncak Hati Nurani berubah menjadi kuburan putih yang sunyi dan mematikan. Badai salju jenis blizzard melanda tanpa ampun, membawa butiran es tajam yang menderu kencang bagaikan ribuan jarum tak kasat mata menyayat kulit siapa saja yang berani menantangnya. Di antara celah tebing curam setinggi ribuan kaki, Bayu dan Sekar merayap perlahan menyusuri jalur pendakian sempit yang tertutup salju setebal lutut. Suhu udara anjlok hingga minus tiga puluh derajat Celsius, membuat napas yang diembuskan seketika membeku menjadi Kristal-kristal es di sekitar kerah jubah mereka.

"Badai ini... semakin menggila, Bayu!" teriak Sekar di tengah deru angin kencang, suaranya hampir sepenuhnya tenggelam oleh suara gemuruh guntur es di kejauhan.

Bayu merapatkan pegangan tali pengaman yang mengikat pinggang mereka berdua, matanya yang tertutup kacamata pelindung salju terus memindai dinding batu karang di sebelah kiri. "Kita harus bertahan sedikit lagi, Sekar! Celah gua perlindungan seharusnya berada di balik tikungan batu besar di depan sana!" jawab Bayu dengan suara berat yang dipaksakan menembus badai.

Suasana di jalur pendakian itu benar-benar mencekam. Tidak ada suara burung, tidak ada jejak kehidupan lain selain deru angin es yang mengaum-ngaum di antara ngarai curam. Setiap langkah kaki terasa sangat berat, seolah sepatu bot mereka ditarik oleh ribuan tangan gaib dari dalam timbunan salju yang membeku.

Tujuan utama Bayu dan Sekar di tengah badai salju maut ini adalah mencapai tempat perlindungan tersembunyi di balik dinding batu sebelum hipotermia merenggut kesadaran dan membekukan aliran darah di tubuh mereka. Berdasarkan peta kuno yang disimpan Sekar, gua perlindungan itu adalah satu-satunya benteng alami yang dapat melindungi mereka dari amukan angin utara yang mampu merobohkan manusia dalam hitungan menit.

"Fokus pada langkahmu, Sekar. Jangan biarkan kakimu tergelincir ke jurang di sebelah kanan!" pesan Bayu sambil mengulurkan tangannya untuk menarik tubuh gadis itu yang sempat terhuyung akibat terjangan angin kencang.

Sekar mengangguk kaku, bibirnya sudah membiru karena dingin yang teramat sangat. "Aku... aku akan mencoba bertahan, Bayu. Tujuanku bukan hanya menyelamatkan diriku sendiri, tapi juga memastikan kita berdua bisa keluar dari pegunungan ini hidup-hidup."

Tujuan besar itu menuntut ketahanan mental dan fisik yang melampaui batas kemampuan manusia biasa. Di tengah rasa sakit akibat otot yang membeku, Bayu mengerahkan sisa-sisa tenaga dalam Jurus Inti Bayangan Samudra untuk memancarkan kehangatan internal ke seluruh pembuluh darah mereka, menjaga agar api kehidupan di dalam dada mereka tidak padam diterpa es abadi.

Transisi dari kepayahan fisik di tengah terpaan badai menuju perjuangan putus asa terjadi ketika hembusan angin es yang lebih besar datang menerjang secara tiba-tiba dari arah lembah bawah, menghantam tubuh mereka dengan kekuatan penuh.

"Awas!" jerit Bayu saat sebuah batu es besar menggelinding jatuh dari atas tebing akibat terjangan badai.

Bayu dengan sigap menarik tubuh Sekar mendekat ke dinding batu, menggunakan punggungnya sebagai perisai untuk melindungi gadis itu dari hantaman pecahan batu es yang tajam. Suara hantaman es berbenturan dengan jubah perang tebal terdengar nyaring, memicu gelombang rasa sakit yang menusuk tulang belakang Bayu.

"Bayu! Kau terluka?" tanya Sekar panik, mencoba memeriksa kondisi punggung pemuda itu di balik badai salju.

"Aku baik-baik saja! Cepat, manfaatkan momentum angin yang melemah ini untuk melangkah ke depan!" seru Bayu, menarik tali pengaman dan memaksa kakinya yang sudah hampir mati rasa untuk kembali melangkah menembus badai.

Transisi ini menguji batas kesabaran dan ketahanan mereka, mengubah perjalanan pendakian yang melelahkan menjadi pertarungan hidup dan mati melawan keganasan alam pegunungan bersalju.

Lihat selengkapnya