
Puncak Gunung Kaukasus yang menjulang tinggi menembus lapisan awan putih tampak membeku dalam cengkeraman musim dingin yang ekstrem, menyajikan lanskap putih abadi yang diselimuti oleh badai salju lebat. Di bawah langit senja kelam yang bergemuruh hebat, angin kencang menderu liar, membawa serpihan-serpihan es tajam yang menghantam dinding-dinding batu karang dengan suara gemeretak yang memekakkan telinga. Suhu udara anjlok jauh di bawah titik beku, mengubah setiap tetes embun dan napas menjadi kristal es yang langsung menempel di jubah tebal bulu yak yang dikenakan oleh Bayu. Di sebuah celah gua batu yang tersembunyi dari amukan angin badai, bayangan dua sosok manusia tampak duduk merapat di dekat dinding batu yang dingin, berlindung dari ganasnya cuaca pegunungan tinggi. Sekar merapatkan jubahnya sambil menggigil hebat, kedua tangan dinginnya saling menggosok untuk mencari sisa-sisa kehangatan tubuh di tengah cuaca yang seolah ingin merenggut nyawa mereka.
"Badai ini benar-benar tidak menunjukkan tanda-tanda akan mereda, Bayu," kata Sekar dengan suara bergetar parah, napasnya mengepulkan uap putih tebal di dalam gua yang remang-remang. "Rasanya tempat ini adalah ujung dunia tempat segala kehidupan berhenti."
Bayu menoleh menatap Sekar yang wajahnya pucat pasi karena kelelahan dan kedinginan, lalu ia menggeser posisi duduknya lebih dekat untuk menghalangi terpaan angin es yang menyusup masuk melalui mulut gua. "Kita sudah mendaki sejauh ini, Sekar, dan kita tidak bisa membiarkan badai salju ini menghentikan langkah kita menuju kebebasan sejati," jawab Bayu tegas, suaranya berusaha menembus deru angin badai yang mengamuk di luar. "Bertahanlah sebentar lagi, kita pasti bisa melewati malam badai ini bersama-sama."
Suasana di dalam gua kecil itu terasa begitu sunyi di tengah bisingnya amukan alam, menciptakan keterasingan yang mendalam dari dunia luar yang penuh darah dan kekacauan. Bayu mengulurkan tangannya yang bersarung kulit tebal, menggenggam jemari Sekar yang sedingin es untuk menyalurkan kehangatan dan ketenangan batin. Waktu menunjukkan pukul lima lewat empat puluh sore, saat kegelapan malam musim dingin turun lebih cepat dari biasanya, menyelimuti puncak gunung dalam selimut es yang gelap gulita dan mematikan.
"Aku percaya padamu, Bayu," bisik Sekar lirih, sedikit ketegangannya mencair merasakan kehangatan genggaman tangan lelaki itu. "Selama kau ada di sisiku, aku tidak takut pada apa pun lagi di dunia ini."
Bayu mengangguk perlahan, tatapannya menerawang menembus tirai salju tebal di luar mulut gua, menyadari bahwa perjalanan panjang mereka kini telah mencapai ujian fisik dan mental yang paling berat.
❖ ❖ ❖
Tujuan utama Bayu dan Sekar mendaki puncak gunung tertinggi di perbatasan utara ini bukanlah sekadar untuk mencari tempat bersembunyi dari sisa-sisa pasukan pembunuh bayaran yang terus memburu mereka, melainkan untuk mencapai Kuil Leluhur Kaukasus di puncak tertinggi. Di kuil kuno yang dijaga oleh para pendapa pertapa suci itulah satu-satunya tempat di mana mereka dapat melepaskan ikatan darah kelam dan meminta restu suci untuk memulai lembaran hidup yang baru tanpa bayang-bayang masa lalu.
"Kita harus mencapai kuil itu sebelum badai es benar-benar menutup seluruh jalur pendakian esok pagi, Sekar," ucap Bayu penuh tekad, matanya memancarkan binar semangat yang tidak pernah padam meski tubuhnya telah letih luar biasa.
❖ ❖ ❖
Tujuan hidupnya kini tidak lagi dibebani oleh rasa dendam atau ambisi untuk menghancurkan musuh, melainkan didedikasikan sepenuhnya untuk melindungi keselamatan Sekar dan memastikan gadis itu mendapatkan kedamaian abadi yang layak ia terima. Selama bertahun-tahun berjuang di jalur kematian, Bayu belajar bahwa kemenangan terbesar seorang pendekar bukanlah mengalahkan ribuan musuh di medan perang, melainkan berhasil membawa orang yang dicintainya keluar dari neraka kehidupan.
"Apakah kita benar-benar akan menemukan ketenangan di puncak gunung itu, Bayu?" tanya Sekar dengan mata sayu menatap lurus ke wajah Bayu.
"Ya, aku yakin para pertapa di kuil suci itu akan membantu kita menemukan jalan kedamaian yang kita cari," jawab Bayu mantap, mengeratkan rangkulan tangannya di bahu Sekar.
Tujuannya sudah sangat jelas dan tidak tergoyahkan; badai salju setinggi apa pun tidak akan mampu membelokkan arah langkah mereka menuju puncak kuil leluhur tersebut.