Matahari tengah malam tidak pernah bersinar di tempat ini, menggantikan siang dan malam dengan pendaran cahaya kebiruan yang redup dari dinding-dinding es abadi di Kuil Penguji Cinta Sejati. Kuil kuno tersebut terletak di atas dataran tinggi paling ujung dunia, dikelilingi oleh jurang kehampaan tanpa dasar yang mengeluarkan suara desau angin purba bagaikan rintihan arwah yang tiada berkesudahan. Di halaman kuil yang berlantai batu kristal transparan, udara terasa begitu dingin hingga membekukan napas, memantulkan bayangan Bayu dan Ki Ranu yang berdiri terpaku menatap gerbang raksasa berlapis emas kusam. Gerbang itu tertutup rapat, diukir dengan relief ribuan makhluk mistis yang tampak hidup di bawah cahaya redup kristal es.
Suasana di sekitar kuil begitu sunyi mencekam, nyaris memekakkan telinga karena ketiadaan suara alam selain deru angin hampa dari jurang di bawahnya. Di hadapan gerbang utama kuil, berdiri sesosok bayangan manusia yang mengenakan jubah putih bersih tanpa noda debu, duduk bersila melayang beberapa inchi di atas lantai kristal. Sosok itu tidak memancarkan hawa membunuh, namun tekanan energi batinnya begitu masif dan agung, membuat siapa pun yang mendekat akan merasa kecil dan tak berdaya. Rambut dan jenggot panjangnya yang berwarna putih perak tergerai rapi tertiup angin gaib, menandakan usianya yang mungkin telah mencapai ratusan tahun.
"Kita telah tiba di gerbang pengujian terakhir, Tuan muda," bisik Ki Ranu dengan suara bergetar tertahan, menatap sosok berjubah putih di hadapan mereka dengan rasa gentar yang luar biasa.
Bayu mengangguk perlahan, merasakan debaran jantungnya berdetak kencang di dalam dada. Ia melangkah maju mendekati sosok tersebut, sementara jubah abu-abunya berkibar pelan ditiup angin dingin kuil. "Siapa kau? Apakah kau penjaga gerbang yang menjaga jalan menuju pusat kuil ini?" tanya Bayu dengan nada tegas namun tetap menunjukkan rasa hormat yang mendalam.
Sosok berambut putih itu perlahan-lahan membuka matanya. Sepasang bola matanya bersinar terang bagai bintang kejora di malam hari, menembus langsung ke dalam lubuk hati siapa pun yang memandangnya.
❖ ❖ ❖
"Aku adalah sisa kenangan dari masa lalu, penjaga abadi yang menguji ketulusan hati setiap pendekar yang berani melangkah melewati batas dunia fana," jawab sosok berambut putih itu dengan suara tenang namun menggema di seluruh ruangan kuil, seolah diucapkan langsung dari dalam kepala Bayu dan Ki Ranu.
Tujuan utama Bayu menembus berbagai rintangan maut hingga sampai di Kuil Penguji Cinta Sejati bukanlah untuk mencari kekuatan fisik tambahan atau kejayaan duniawi, melainkan mendapatkan restu dan kunci kebenaran mutlak guna menghentikan malapetaka yang diciptakan oleh Sekutu Kegelapan. Berdasarkan petunjuk dari peta kuno Rara dan gulungan rahasia para leluhur, gerbang abadi di hadapan mereka hanya bisa dibuka oleh seseorang yang memiliki hati yang bersih dari dendam dan dipenuhi oleh ketulusan cinta sejati terhadap sesama manusia serta alam semesta.
"Aku tidak mencari kekuasaan atau kemenangan pribadi, Pendeta Sepuh," ucap Bayu mantap, menatap lurus ke dalam mata sang penjaga abadi tanpa keraguan sedikit pun di dalam sorot matanya. "Aku datang untuk menyelamatkan dunia persilatan dari kehancuran total, melindungi orang-orang yang kuasiangi, dan mengakhiri lingkaran kebencian ini."
Sang penjaga abadi tersenyum tipis, sebuah senyuman penuh makna yang menyiratkan kebijaksanaan tak bertepi. "Kata-kata mulia selalu mudah diucapkan oleh siapa saja yang datang ke tempat ini, anak muda. Namun, ketulusan hati tidak diukur dari indahnya suara, melainkan dari ujian batin yang harus kau lewati."
"Ujian seperti apa yang harus ku hadapi untuk membuka gerbang ini?" tanya Bayu tanpa gentar, menggenggam erat gagang pedang keperakannya.
"Kau harus membuktikan apakah hatimu benar-benar murni dari racun kebencian, ataukah kau hanya seorang pendendam berkedok pahlawan," jawab sang penjaga sambil melambaikan lengan jubah putihnya perlahan.
❖ ❖ ❖
Sekejap mata, pemandangan di sekitar Bayu berubah total. Lantai kristal kuil dan dinding es abadi seolah lenyap, digantikan oleh bayangan-bayangan masa lalu yang berputar mengitari dirinya bagaikan teater ilusi yang sangat nyata. Bayu mendapati dirinya berdiri di tengah halaman Perguruan Singa Putih pada hari di mana perguruan tersebut pertama kali diserang dan dihancurkan oleh aliran sesat.
Suasana di sekelilingnya dipenuhi oleh kobaran api yang melahap bangunan kayu, jeritan kesakitan para murid perguruan, serta suara tawa kejam para pengikut aliran hitam yang membantai siapa saja tanpa ampun. Di hadapan Bayu, tampak bayangan sang ketua musuh yang sedang memegang pedang berlumuran darah orang-orang yang dicintainya.
"Lihatlah semua kehancuran ini, Bayu! Semua ini terjadi karena kelemahanmu!" bisik suara-suara gaib yang menusuk langsung ke dalam telinganya, membangkitkan kembali bara amarah dan dendam kesumat yang selama ini ia kubur dalam-dalam di dalam titik Dan Tian miliknya.
Bayu merasakan aliran darahnya mendidih panas. Bayangan kepedihan masa lalu itu memicu dorongan yang sangat kuat untuk menghunus pedang dan menebas siapa saja yang ada di hadapannya guna membalaskan dendam kesumat keluarganya yang telah direnggut paksa.
"Balas dendam adalah jalan yang benar... bunuh mereka semua!" bisik suara itu lagi semakin mendesak, menggoda sisi gelap di dalam jiwa sang pendekar muda.
Di tempat asalnya di dunia nyata, Ki Ranu melihat tubuh Bayu tiba-tiba menegang kaku, sementara keringat dingin bercucuran deras di kening pemuda itu. Napas Bayu tersengal-sengal tidak beraturan, dan aura keperakan di tubuhnya mulai bercampur dengan kilatan warna merah kehitaman yang berbahaya.