Pengembaraan Cinta Sang Pendekar Langit

Amrullah Ibrahim
Chapter #65

Kebijaksanaan Sang Penjaga

Matahari sore baru saja menyentuh garis cakrawala barat di balik gugusan puncak Pegunungan Seribu, memancarkan bias cahaya keemasan yang menembus celah-celah pilar batu candi tua di pelataran kuil terpencil. Angin lembah berembus pelan membawa serta hawa dingin yang mulai menusuk tulang, mengiringi keheningan yang mencekam di antara reruntuhan altar suci tempat pertarungan sengit baru saja terjadi beberapa saat lalu. Debu dan serpihan batu pualam bertebaran di atas tanah, bercampur dengan bau dupa tua yang menguap dari mangkuk persembahan yang retak akibat hantaman tenaga dalam tingkat tinggi. Di tengah pelataran yang luas dan sunyi itu, bayangan panjang manusia terbentang di atas lantai batu, menciptakan suasana magis yang dipenuhi oleh sisa-sisa energi spiritual yang bergejolak.

Bayu berdiri tegak di hadapan pintu gerbang utama kuil, napasnya sedikit memburu namun gerak-geriknya tetap terkontrol dengan sempurna di bawah naungan jubah abu-abunya yang koyak di beberapa bagian. Beberapa langkah di belakangnya, Sekar memegang erat gagang pedang pendeknya dengan jari-jemari yang masih menyisakan ketegangan, matanya awas mengawasi setiap gerakan di sekeliling mereka. Di hadapan mereka berdua, berdiri sosok Sang Penjaga Kuil yang mengenakan jubah putih panjang berhiaskan sulaman benang perak yang berkilauan diterpa cahaya senja. Topeng kayu berukir wajah orang bijak kuno yang dikenakannya tampak retak di sisi kiri, menyisakan sebagian garis rahang tua yang tegas dan sepasang mata tajam penuh kearifan yang menatap lurus kepada sang pendekar muda.

"Kau memiliki tenaga dalam yang luar biasa besar, anak muda, namun gerak-gerik pedangmu masih menyisakan keraguan yang mengganjal di dalam hatimu," suara serak namun penuh wibawa menggema lembut di antara dinding-dinding batu kuil yang kokoh.

Bayu tidak segera membalas perkataan tersebut; ia menurunkan sedikit ujung pedang pusakanya ke arah tanah, menunjukkan sikap hormat tanpa kehilangan kewaspadaan sedikit pun.

"Aku tidak datang untuk menantang kesaktian kuil ini, Guru. Aku hanya ingin mencari jalan keluar bagi nasib dunia persilatan yang kian terpuruk," ucap Bayu dengan nada suara yang tenang dan terukur, membiarkan keheningan senja menyelimuti percakapan mereka berdua di pelataran kuil yang suci itu.

"Tujuan awalku menginjakkan kaki di Kuil di Ujung Dunia ini bukanlah untuk merebut pusaka kuno atau mencari pengakuan sebagai pendekar terkuat di kolong langit, Sekar," ucap Bayu dengan suara berat yang terdengar jelas di telinga rekan perjalanannya.

Sekar menoleh sekilas ke arah Bayu, melihat sorot mata sang pendekar yang kini memancarkan kejernihan batin yang jauh berbeda dari hari-hari pertama pelarian mereka dari Benteng Naga Besi.

"Lalu, apa sebenarnya yang engkau cari dari Sang Penjaga Kuil ini, Bayu?" tanya Sekar dengan nada penasaran yang dibalut rasa hormat yang mendalam.

Bayu menarik napas dalam-dalam, membiarkan aroma dupa dan angin pegunungan memenuhi rongga dadanya sebelum ia kembali membuka suara.

"Aku ingin memohon petunjuk kebijaksanaan agar bisa mengakhiri siklus kebencian dan pertumpahan darah yang terus menerus menghancurkan orang-orang tak berdosa di dunia persilatan," jawab Bayu penuh ketulusan.

Bagi Bayu, pertarungan fisik yang sempat terjadi di pelataran kuil bukanlah sebuah unjuk kekuatan, melainkan ujian akhir untuk membuktikan apakah niat di dalam hatinya benar-benar murni atau masih dikotori oleh ambisi dan dendam pribadi. Selama bertahun-tahun, ia mengira bahwa perdamaian hanya bisa ditegakkan dengan ujung pedang dan kematian musuh-musuhnya. Namun, setelah menyaksikan kehancuran demi kehancuran yang ditimbulkan oleh Aliansi Bayangan Besi, ia menyadari bahwa kekuatan sejati seorang pemimpin bukanlah terletak pada seberapa banyak darah yang bisa ia tumpahkan, melainkan pada kemampuan hatinya untuk merangkul dan menyembuhkan.

"Kita harus mendapatkan restu dan pencerahan dari Sang Penjaga jika kita ingin menyatukan kembali sisa-sisa pasukan perlawanan di Lembah Kemenangan," tambah Bayu dengan keyakinan yang tidak tergoyahkan.

Sekar mengangguk mantap, merapatkan posisinya di samping Bayu sebagai wujud dukungan penuh atas tujuan mulia tersebut.

"Aku percaya kau bisa melakukannya, Bayu. Hati yang tulus tidak akan pernah tersesat di jalan yang benar," bisik Sekar memberi penguatan mental bagi sang pendekar muda.

Suasana di pelataran kuil yang tadinya dipenuhi oleh ketegangan pertempuran kini perlahan-lahan berubah menjadi hening dan khidmat seiring dengan sikap Sang Penjaga Kuil yang menurunkan tongkat bambunya secara perlahan. Sang Penjaga melangkah maju mendekati Bayu, langkah kakinya begitu ringan nyaris tanpa suara di atas lantai batu pualam yang dingin. Cahaya matahari senja yang berwarna kemerahan menyinari separuh wajah tua di balik topeng yang retak, memperlihatkan kerutan-kerutan pengalaman hidup yang terukir jelas di kulitnya.

"Ikutlah ke dalam aula meditasi utama, anak muda. Apa yang kau cari tidak akan ditemukan di tengah debu pelataran ini," ucap Sang Penjaga Kuil singkat, lalu berbalik badan melangkah menuju pintu aula yang terbuka lebar.

Bayu dan Sekar bertukar pandang sejenak sebelum akhirnya mengangguk sepakat untuk mengikuti langkah orang tua misterius tersebut.

Transisi dari suasana pertempuran yang keras menuju kedamaian interior aula kuil membawa gelombang ketenangan batin yang seketika meredakan ketegangan otot-otot mereka yang lelah. Ruangan dalam aula tersebut sangat luas, diterangi oleh deretan lilin besar yang menyala tenang di setiap sudut ruangan, memancarkan cahaya kekuningan yang hangat ke seluruh dinding kayu jati berukir relief kuno. Di tengah ruangan, terbentang tikar jerami tebal di hadapan sebuah patung perunggu raksasa berlambang teratai putih suci. Bayu dan Sekar duduk bersila dengan tertib di atas tikar tersebut, menanti dengan penuh kesabaran apa pun petunjuk bijaksana yang hendak disampaikan oleh Sang Penjaga Kuil.

"Letakkan pedang pusakamu di atas lantai, Bayu," instruksi Sang Penjaga Kuil dengan suara yang tenang namun mutlak.

Lihat selengkapnya