
Angin malam di puncak Pegunungan Utara menderu kencang, membawa serpihan es yang bergesekan dengan dinding-dinding batu kuil kuno tempat Bayu dan para pengikutnya beristirahat sementara. Suasana di dalam aula utama kuil itu tampak remang-remang, hanya diterangi oleh pendaran kebiruan dari kristal es abadi yang tertanam di setiap sudut ruangan. Di luar, kegelapan pekat menyelimuti jurang tanpa dasar, menciptakan atmosfer yang sunyi mencekam dan penuh misteri. Setelah pertempuran melelahkan yang merenggut banyak tenaga dalam, sebagian besar pendekar dan pengikut setia memilih untuk memejamkan mata di sudut-sudut aula, memulihkan luka di bawah penjagaan ketat Ki Ranu.
Bayu berdiri seorang diri di dekat altar batu peninggalan leluhur, menatap pantulan bayangannya sendiri pada permukaan pedang keperakan yang tergenggam erat di tangan kanannya. Pikirannya melayang pada rangkaian peristiwa berat yang telah ia lalui hingga sampai ke titik ini. Musuh utama mereka, pimpinan tertinggi Aliansi Bayangan yang dikenal kejam dan licik, telah dikabarkan tewas dalam insiden runtuhnya Benteng Besi Hitam beberapa pekan lalu. Mayatnya bahkan disaksikan sendiri oleh para pengintai jatuh ke dalam jurang lahar panas.
Namun, keheningan malam itu mendadak terusik oleh suara tetesan air yang tidak biasa dari langit-langit kuil—bukan air, melainkan cairan kental berwarna kehitaman yang berbau anyir darah. Bayu langsung mengernyitkan dahi, merasakan getaran aneh yang merayap naik dari permukaan lantai batu di bawah kakinya.
"Ada yang tidak beres dengan tempat ini," gumam Bayu pelan, mengedarkan pandangan ke seluruh penjuru ruangan yang tiba-tiba terasa jauh lebih dingin dari sebelumnya.
❖ ❖ ❖
Bayu bertekad untuk segera membangunkan Ki Ranu dan sisa pasukan guna bersiap meninggalkan kuil terkutuk itu sebelum fajar menyingsing. Tujuan utamanya malam ini adalah memastikan keselamatan seluruh pengikut setianya yang sudah kehabisan tenaga, sekaligus menjaga artefak suci yang baru saja mereka temukan agar tidak jatuh ke tangan yang salah.
"Kita harus keluar dari tempat ini secepat mungkin," ucap Bayu setengah berbisik ketika ia melangkah kembali ke arah barisan pengikutnya yang sedang tertidur pulas.
Namun, sebelum langkah kakinya mencapai tempat Ki Ranu berbaring, sebuah bayangan hitam legam tiba-tiba muncul tanpa suara tepat di belakang punggungnya. Bayangan itu bergerak begitu halus, tanpa menghasilkan embusan angin sedikit pun, seolah-olah wujud tersebut adalah bagian dari kegelapan dinding kuil itu sendiri.
Ki Ranu, yang memiliki kepekaan batin luar biasa tinggi meskipun dalam keadaan lelah, seketika membuka matanya. Alangkah terkejutnya pengawal tua itu ketika melihat sosok bertopeng perak berdiri tepat di belakang Bayu dengan belati beracun yang bersiap meluncur menghujam jantung sang pemimpin muda.
"Tuan muda, awas di belakangmu!" seru Ki Ranu dengan suara serak tertahan, mengerahkan sisa tenaga dalam untuk melompat bangun dan mencoba menerjang ke depan demi melindungi Bayu.
❖ ❖ ❖
Peringatan keras dari Ki Ranu bergema di dalam aula kuil yang luas, membangunkan para pendekar lain yang seketika tersentak kaget dari tidur lelap mereka. Suasana yang tadinya tenang berubah menjadi tegang dalam hitungan detik.
Bayu, yang dianugerahi refleks luar biasa tajam dari latihan bertahun-tahun, tidak membuang waktu sedetik pun. Tanpa sempat berbalik sepenuhnya, ia memutar tubuhnya sambil mengibaskan lengan jubahnya, menciptakan perisai chi tipis untuk menangkis serangan mendadak yang mengarah ke titik mematikannya.
Tring!