Pengembaraan Cinta Sang Pendekar Langit

Amrullah Ibrahim
Chapter #68

Pengorbanan Sekar

Tepat pukul tiga pagi, ketika langit malam di atas Lembah Kehancuran diselimuti oleh awan badai berwarna lembayung gelap, benteng terakhir Sekte Darah Merah membara dalam lautan api yang mengerikan. Suhu udara terasa sangat panas, bercampur dengan bau sulfur dan debu mesiu yang menusuk hidung, menciptakan atmosfer kematian yang menyesakkan dada. Di tengah lapangan batu hitam yang luas dan retak-retak akibat hantaman tenaga dalam tingkat tinggi, Bayu terdesak hebat di sudut altar runtuh, pedangnya patah menjadi dua bagian setelah berduel sengit melawan Ketua Sekte Darah Merah yang mengamuk bagaikan iblis neraka.

"Kau sudah kehabisan jalan, Pendekar Bayu!" bentak sang ketua sekte dengan suara menggelegar, mengangkat tinggi-tinggi pedang iblisnya yang memancarkan nyala api hitam pekat, siap menghujamkan tebasan maut ke arah jantung Bayu yang sudah tidak berdaya.

Sekar, yang berdiri tidak jauh dari tempat pertempuran setelah selesai merawat pendekar lain yang terluka, melihat ancaman mematikan tersebut dengan mata terbelalak ngeri. Jantungnya seakan berhenti berdetak; jarak di antara mereka terbentang sejauh dua puluh langkah, dan tidak ada lagi waktu bagi siapapun untuk melangkah menolong pemuda itu.

"Bayu... tidak!" teriak Sekar histeris, air matanya tumpah seketika membasahi pipinya yang dipenuhi jelaga dan debu pertempuran.

Suasana di medan pertempuran mendadak menjadi sangat sunyi dalam persepsi Sekar, dipecahkan hanya oleh suara desingan angin panas dari tebasan pedang iblis yang meluncur turun dengan kecepatan kilat mengarah tepat ke dada Bayu.

Tujuan utama Sekar dalam sepersekian detik yang sangat menentukan itu bukanlah menyelamatkan nyawanya sendiri atau melarikan diri dari reruntuhan benteng yang terbakar, melainkan memastikan bahwa Bayu—pria yang telah mencuri hatinya dan menjadi tumpuan harapan terakhir dunia persilatan—tetap hidup, meskipun ia harus menukar masa depannya sendiri dengan nyawanya.

"Aku tidak akan membiarkanmu mati di tempat terkutuk ini, Bayu," batin Sekar bergemuruh kuat di dalam dadanya, menepis segala rasa takut akan kematian yang merayap di pembuluh darahnya.

Dengan mengerahkan seluruh sisa tenaga dalam dari teknik meringankan tubuh warisan leluhurnya, Sekar melesat bagaikan seberkas kilat putih menerobos kobaran api dan debu tebal yang mengepung lapangan batu. Tujuannya hanya satu: menutup jarak sejauh dua puluh langkah itu dan menjadi perisai hidup bagi Bayu sebelum pedang iblis sang ketua sekte merenggut nyawa pemuda tersebut.

Tekad bulat itu lahir dari ketulusan cinta yang mendalam, sebuah keputusan mutlak yang dibuat tanpa ragu, menunjukkan bahwa pengorbanan tertinggi sering kali dilakukan bukan karena kewajiban, melainkan karena cinta yang melampaui batas ketakutan diri sendiri.

Transisi dari kepanikan mencekam menuju tindakan penyelamatan heroik terjadi dalam kedipan mata ketika tebasan pedang iblis hitam pekat milik ketua sekte sudah berada tepat beberapa inci di atas dada Bayu yang terduduk lemas di atas tanah berbatu.

Bayu mengangkat tangan kanannya secara refleks, mencoba menahan serangan maut tersebut dengan sisa tenaga dalam putih yang tersisa di telapak tangannya, meski ia tahu pertahanan itu sudah terlalu lemah untuk meredam kekuatan penuh sang musuh.

Tiba-tiba, sesosok bayangan putih melesat cepat menerobos tirai api dan angin badai, menyusup masuk tepat di antara lintasan pedang maut dan tubuh Bayu.

"Sekar, jangan—!" seru Bayu dengan mata terbelalak lebar saat ia menyadari apa yang hendak dilakukan oleh gadis itu.

Gerakan Sekar begitu cepat, bagaikan kupu-kupu putih yang terbang menubruk nyala api. Ia merentangkan kedua tangannya lebar-lebar, memosisikan punggungnya tepat di jalur jatuhnya tebasan pedang iblis yang mematikan, mengabaikan segala ancaman demi menyelamatkan nyawa orang yang paling dicintainya di dunia ini.

Rintangan terbesar dari pengorbanan nekat ini adalah kenyataan bahwa kekuatan destruktif dari Pedang Iblis Darah Merah tidak bisa dihentikan oleh tubuh manusia biasa, bahkan oleh seorang pengobat yang memiliki aliran tenaga dalam sekalipun.

Lihat selengkapnya