
Malam di ambang puncak Kuil Leluhur Kaukasus meredupkan binar bintang-bintang ketika udara berubah menjadi dingin yang membekukan darah, sementara bayangan hitam sisa-sisa pasukan musuh merayap naik menembus kepulan asap tebal dari reruntuhan gerbang bawah. Di pelataran batu granit putih yang ternoda oleh jelaga dan sisa serpihan es, suasana mendadak senyap dalam ketegangan yang menyesakkan dada, menyisakan deru napas berat para petarung yang tersisa di medan laga. Bayu berdiri kokoh di hadapan altar utama, jubah perjalanannya berkibar liar diterpa angin malam yang menderu kencang, sementara bilah pedang pusakanya memancarkan cahaya biru terang yang bergetar hebat seirama dengan detak jantungnya yang memburu. Di belakangnya, Sekar memeluk erat pilar batu kuil dengan air mata yang membasahi pipinya, menyaksikan kemarahan luar biasa yang mulai membara di dalam diri lelaki yang selama ini melindunginya.
"Kalian tidak akan pernah berhenti sebelum menghancurkan segalanya, ya?" suara Bayu terdengar dingin bagaikan es abadi puncak gunung, memecah keheningan malam dan beresonansi di dinding-dinding kuil yang retak. "Kalian telah merenggut segalanya dari masa laluku, dan malam ini, keserakahan kalian harus berakhir di tempat ini."
Pemimpin sisa pasukan musuh—seorang pendekar bayaran bertubuh raksasa dengan topeng besi berkarat dan mata menyala penuh kebencian—melangkah maju menertawakan kemarahan Bayu, mengangkat kapak perang besar bermata dua yang berlumuran darah segar. "Kau pikir kemenangan kecil di benteng Liskara membuatmu tak terkalahkan, Bayu? Kami adalah badai yang tidak bisa dihentikan oleh kuil tua ataupun dewa-dewa palsu!" bentak sang pemimpin musuh lantang, suaranya menggelegar memecah angkasa.
Bayu tidak menjawab dengan kata-kata; ia hanya merapatkan kudanya, membiarkan aliran darah dan tenaga dalamnya bergolak mendidih di seluruh pembuluh darahnya. Waktu menunjukkan pukul dua lewat lima belas menit pagi, saat titik nadir malam mempertemukan takdir akhir antara sang pendekar keadilan dan musuh terakhir yang membawa kehancuran. Udara di sekitar pelataran kuil mendadak bergetar hebat, menciptakan pusaran angin kecil yang mengangkat serpihan batu dan salju ke udara, menandakan bahwa kemurkaan Bayu telah mencapai batas kesabarannya yang paling ujung.
Tujuan utama Bayu melepaskan seluruh potensi tenaga dalamnya bukanlah untuk memuaskan hasrat balas dendam yang membabi buta, melainkan untuk memastikan bahwa ancaman terakhir terhadap keselamatan Sekar dan kedamaian kuil suci ini musnah untuk selama-lamanya tanpa sisa. Selama bertahun-tahun ia menahan diri, memikul beban penderitaan dan pelarian tanpa akhir, namun kini ia menyadari bahwa kompromi dengan kejahatan hanya akan mendatangkan lebih banyak air mata bagi orang-orang yang ia kasihi.
"Aku tidak akan membiarkan bayang-bayang masa lalu itu menyentuh Sekar atau menghancurkan tempat suci ini," tekad Bayu dalam hati, mengepalkan tangan kirinya hingga kuku-kukunya menancap di telapak tangannya sendiri.
❖ ❖ ❖
Tujuan hidupnya kini telah sepenuhnya menyatu dengan sumpah suci untuk menjadi perisai terakhir bagi dunia yang rapuh. Setiap tetes tenaga dalam yang ia kumpulkan di dalam pusarannya adalah wujud dari tekad baja seorang pendekar yang menolak tunduk pada teror dan ketakutan. Sang pemimpin musuh dan sisa prajurit bayaran di hadapannya harus dienyahkan dari muka bumi hari ini juga, agar fajar baru benar-benar dapat menyingsing tanpa bayang-bayang darah.
"Bersiaplah menghadapi akhir riwayatmu, Bayu!" teriak sang pemimpin musuh sambil menghentakkan kakinya ke tanah, memicu gemetar kecil di lantai pelataran kuil.
"Majulah jika kalian ingin melihat bagaimana kemarahan seorang pendekar yang kehilangan segalanya," jawab Bayu dingin, menatap lurus tanpa gentar sedikit pun.
Tujuannya sangat mutlak dan tidak bisa ditawar lagi; malam ini adalah titik akhir dari seluruh perjalanan panjang penuh darah di tanah perbatasan.
Transisi dari ketegangan batin yang mendalam menuju ledakan kekuatan fisik yang dahsyat terjadi ketika Bayu mengangkat pedang pusakanya tinggi-tinggi ke udara, memicu cahaya biru menyilaukan yang membakar langit malam bagaikan petir menyambar.
Bum!
Gelombang kejut tenaga dalam yang maha dahsyat meledak dari tubuh Bayu, meretakkan lantai lempengan batu granit putih di sekitarnya dalam radius puluhan meter dan mendorong mundur barisan pasukan musuh yang mencoba mendekat.