Hawa dingin yang menusuk tulang mendadak terasa semakin menyesakkan dada ketika pendaran cahaya kebiruan dari dinding es kuil purba berkedip-kedip lemah, seolah kehabisan tenaga untuk melawan kegelapan yang kian merayap. Di dalam ruangan utama kuil yang luas dan sunyi itu, bayangan-bayangan pilar es memanjang bagai jari-jari raksasa yang mencengkeram lantai kristal transparan. Waktu seakan berhenti berdetak di tengah keheningan yang mencekam; tidak ada lagi suara angin menderu dari luar jurang, yang terdengar hanya suara tetesan air es lambat dan ritmis, berpadu dengan deru napas yang memburu di ujung kematian. Di lantai ruangan yang membeku itulah Sekar terbaring tak berdaya, tubuhnya dikelilingi oleh genangan darah segar yang mulai membeku membentuk kristal kemerahan.
Suasana di sekitar Sekar begitu sunyi dan penuh duka, menyisakan kepedihan mendalam yang merayap ke setiap sudut ruangan. Jubah putih yang dikenakannya kini telah berubah warna menjadi merah pekat oleh ceceran darah akibat luka tusukan telak di bagian dada kirinya. Di dekatnya, serpihan topeng perak pimpinan Aliansi Bayangan berserakan hancur berkeping-keping, menandakan betapa ganasnya pertempuran maut yang baru saja terjadi di tempat tersebut. Bayu melangkah maju secara perlahan, setiap langkah kakinya di atas lantai kristal terasa begitu berat, seolah dibebani oleh ribuan ton rasa bersalah yang menghimpit batinnya.
"Sekar... bertahanlah, kumohon," bisik Bayu dengan suara bergetar parah, melutut di samping tubuh gadis itu sementara kedua tangannya gemetar hebat saat mencoba mendekati tubuh yang sudah terasa dingin.
Sekar perlahan membuka kelopak matanya yang sayu, menatap wajah Bayu dengan seulas senyuman tipis yang menyayat hati, meskipun bibirnya tampak pucat pasi tanpa sisa warna darah.
❖ ❖ ❖
"Aku harus menyelamatkannya, apa pun taruhannya!" tekad Bayu membara di dalam hati, membuang jauh-jauh rasa putus asa yang sempat merayap di pikirannya.
Tujuan mutlak Bayu saat ini bukanlah lagi mengejar kemenangan atas musuh atau menyelamatkan dunia persilatan, melainkan mempertahankan nyawa Sekar yang berada di ambang garis kematian. Gadis itu telah mengorbankan dirinya sendiri untuk menahan serangan mematikan dari pimpinan Aliansi Bayangan yang mengincar punggung Bayu di detik-detik terakhir pertempuran. Bayu menyadari bahwa jika ia gagal menyalurkan tenaga dalam tingkat tinggi untuk menghentikan pendarahan internal di tubuh Sekar, nyawa gadis yang paling dicintainya itu akan melayang dalam hitungan menit.
"Jangan banyak bicara dulu, Sekar. Aku akan menyalurkan chi untuk menutup lukamu," ucap Bayu dengan nada panik yang berusaha ia kendalikan seraya menempelkan kedua telapak tangannya tepat di punggung Sekar.
Sekar menggelengkan kepalanya pelan, jemarinya yang dingin meraih pergelangan tangan Bayu dengan sisa-sisa tenaga yang sangat lemah. "Sudah terlambat, Bayu... racun hitam itu telah menyebar ke seluruh pembuluh darahku. Tenanglah, jangan habiskan tenagamu untukku."
"Tidak! Aku tidak akan membiarkanmu pergi begitu saja setelah semua penderitaan yang kita lalui bersama!" balas Bayu tegas, memaksa mengalirkan energi Ilmu Pernafasan Semesta ke dalam tubuh Sekar guna melawan racun mematikan tersebut.
❖ ❖ ❖
Ruangan kuil es mendadak bergetar hebat ketika aliran tenaga dalam keperakan yang dipancarkan Bayu berbenturan dengan energi hitam beracun yang menggerogoti tubuh Sekar. Pendaran cahaya terang benderang memantul dari dinding-dinding kristal, menciptakan bayangan siluet yang menari-nari liar di sekeliling mereka. Ki Ranu dan beberapa pendekar yang tersisa berdiri beberapa tombak di belakang Bayu, menyaksikan detik-detik penuh ketegangan itu dengan napas tertahan dan mata berkaca-kaca.
"Apakah Tuan muda bisa menyelamatkan Nona Sekar dari racun iblis itu?" bisik salah seorang pendekar dengan nada cemas yang teramat sangat.
Ki Ranu mengepalkan kedua tangannya erat-erat hingga buku-buku jarinya memutih, menatap lurus ke arah pusat cahaya keperakan. "Racun dari pimpinan Aliansi Bayangan bukanlah racun biasa. Itu adalah kutukan darah hitam. Hanya keajaiban besar atau pengorbanan jiwa yang bisa melawannya."
Di tengah pendaran cahaya tersebut, wajah Sekar tampak berkerut menahan rasa sakit yang luar biasa ketika energi keperakan Bayu mencoba membakar racun di dalam dadanya. Keringat bercucuran deras di kening Bayu, sementara titik Dan Tian miliknya mulai terasa nyeri akibat dipaksa bekerja di luar batas normal ketahanan tubuh manusia.