
Angin dingin bertiup kencang menembus celah-celah bebatuan cadas di Ujung Dunia, membawa serta serpihan kristal salju yang berkilauan diterpa cahaya senja kemerahan. Di dalam sebuah gua perlindungan yang tersembunyi di balik air terjun abadi, Bayu duduk bersila dengan punggung bersandar pada dinding batu yang basah oleh tetesan air jernih. Pukul lima sore lewat tiga puluh menit, suasana di dalam gua terasa begitu hening, kecuali oleh suara deru air terjun dari luar dan napas Sekar yang terdengar semakin melemah di atas pembaruan kain wol kasar. Selama berhari-hari perjalanan melintasi dataran es dan lereng curam, luka-luka gaib yang diderita Sekar akibat benturan energi hitam saat pertempuran puncak mulai merusak kestabilan organ vital di dalam tubuhnya. Bayu mengenakan jubah putih yang kini dipenuhi noda debu perjalanan, sementara wajahnya tampak sangat pucat menahan kelelahan fisik dan beban mental yang menghimpit dadanya.
"Sekar, bertahanlah... kita sudah berada di tempat yang aman, tidak ada lagi musuh yang bisa mengejar kita di sini," bisik Bayu dengan suara bergetar, mencoba menyembunyikan kepanikan yang bergolak hebat di dalam hatinya.
Sekar membuka matanya perlahan-lahan, menatap wajah Bayu dengan senyuman lemah yang hampir tak terlihat di bibirnya yang membiru akibat hawa dingin yang menusuk. "Bayu... rasanya lelah sekali, sepertinya cahaya di dalam dadaku mulai meredup dan aku tidak tahu apakah aku bisa melihat matahari terbit esok hari..." ucap Sekar dengan suara parau yang nyaris tenggelam oleh desiran angin gua.
Bayu menggelengkan kepalanya cepat, merapatkan genggamannya pada tangan Sekar yang terasa dingin seperti es. "Jangan berkata seperti itu, Sekar! Aku tidak akan membiarkanmu menyerah pada keadaan setelah semua perjuangan yang kita lalui bersama," balas Bayu penuh penekanan, mencoba mengalirkan kehangatan dari telapak tangannya.
Ia tahu betul bahwa sisa-sisa energi hitam yang mengalir di dalam tubuh Sekar kini telah mencapai titik jantung, mengancam menghentikan detak kehidupan gadis itu dalam hitungan jam jika tidak segera ditangani dengan pengerahan tenaga dalam tingkat tertinggi.
❖ ❖ ❖
Tujuan utama Bayu di dalam gua tersembunyi itu bukanlah untuk beristirahat atau meratapi keadaan, melainkan mempertaruhkan seluruh sisa tenaga dalam dan sirkulasi chi miliknya untuk menstabilkan detak jantung Sekar yang semakin hari semakin tidak beraturan. Di dalam lubuk hatinya yang senantiasa dipenuhi oleh zikir dan muraqabah, ia bertekad untuk menyalurkan seluruh energi kemurnian aliran air miliknya guna melarutkan racun tenaga hitam yang menggerogoti tubuh Sekar dari dalam. Bayu sadar bahwa tindakan ini sangat berbahaya bagi dirinya sendiri; jika ia gagal mengontrol aliran energinya, maka benturan tenaga dalam tersebut bisa menghancurkan meridian jantung mereka berdua sekaligus. Namun, keraguan itu sama sekali tidak mendapat tempat di dalam hatinya, karena bagi Bayu, keselamatan Sekar jauh lebih berharga daripada nyawanya sendiri di dunia persilatan ini.
"Aku akan mengambil alih rasa sakit itu, Sekar, dan membersihkan racun di tubuhmu dengan seluruh tenaga yang kumiliki," batin Bayu meneguhkan niat sucinya, memusatkan seluruh kesadarannya pada titik pusar energi di perutnya.
Sekar menatap lurus ke dalam mata Bayu, membaca ketulusan yang teramat besar di sana, lalu mengangguk lemah sambil memejamkan mata untuk memasrahkan diri sepenuhnya. "Lakukan apa pun yang terbaik, Bayu... aku percaya sepenuhnya padamu," bisik Sekar pelan, menyerahkan sisa-sisa kesadarannya ke tangan sang pendekar.
Bayu menarik napas dalam-dalam, mengatur ritme pernafasannya agar selaras dengan frekuensi alam semesta, lalu mendekatkan posisi duduknya hingga bersentuhan langsung dengan tubuh Sekar yang terbaring lemah.
❖ ❖ ❖