Mungkin yang dimaksud suami ada benarnya juga supaya aku berhemat. Siapa lagi yang merasakannya, kalau susah, ya aku juga yang merasakannya.
Sudahlah! Sudah malam ini! Cukup memikirkan itu jangan berlarut-larut, enggak baik juga buat si Dede bayi. Hela nafas panjang terdengar dari belakang. Ada apa? Mungkin dia masih marah padaku? Karena uangnya aku pakai? Pelit sekali!
Tanpa pikir panjang aku membalikkan badan ke arahnya, terlihat dia menatapku dingin, sangat dingin seperti es kutub. Aku tidak bicara sama sekali, nampak tangan itu berada di samping bantal yang sedang ditidurinya. Perlahan tangan ini mencoba mendekat, tapi dia langsung membalikan badan ke arah lain.
His! Bisa-bisanya dia menghadap ke sana. Padahal aku hanya ingin dimanja, diperhatikan, romantis seperti pasangan orang lain. Tidak mungkin gara-gara dia sudah menikah dia seenaknya. Dulu zaman pacaran, dia yang selalu perhatian dan mengusahakan segalanya. Kesal sekali, aku tidak bisa meluapkan emosiku.
Betapa sesaknya dada ketika menahan tangis agar tidak bersuara. Ku banting badan ini membelakanginya lagi, terserah dia mau berbuat apa. Sekuat tenaga bertahan, akhirnya air mata lolos tak terbendung. Sialnya, ingus ini ikut serta mengiringi air mata, rencana bisa-bisa ketahuan.
Ya benar saja, dia mendengar isak tangisku. Ia menggoyangkan tubuhku dan menatap tepat di atas wajahku. Sehingga tangisku semakin tak tertolong.
"Kamu nangis kenapa?" tanya penuh peduli
"Hey! Aku tanya, kamu kenapaa? Apa karena aku bilang kamu boros?"
Yap! Itu alasan yang membuatku menangis penuh penyesalan akan ngidam ku ini. Kamu alasannya, ini itu tidak boleh! Emangnya aku bisa cuma makan batu? Hah! Malas sekali aku menjawab pertanyaan yang tidak dia tau jawabannya.
"Mas tanya sekali lagi. Kenapa Kamu nangis?" tanya dengan nada lebih tinggi.
"Aku mau jagung rebus!" timpalku berharap jawaban ini membungkam mulutnya.