Huh! Apa boleh buat, aku harus membawa belanjaan dengan berjalan kaki hanya seorang diri. Setelah keluar dari warung, mereka membincangkan aku yang tengah hamil tapi tidak diantar suaminya.
"Suaminya gak kasian, ya? liat istrina, ke warung jalan kaki, mana jauh juga"
Ucap salah satu dari mereka, membuatku menahan emosi, ku balas dengan senyum tipis lalu melangkah ke arah jalan pulang.
Siapa juga, sih yang mau istrinya hamil terus jalan jauh begini? Ya! hanya suamiku.
Sesampainya di depan rumah. Aku tidak langsung terburu-buru membuka pintu. Aku berjalan ke pojok rumah untuk menghampiri drum berisi air khusus menampung pembuangan air dari atap dikala musim penghujan saja.
Kaki penuh dengan tanah merah, hasil cipratan si sendal jepit. Untung saja tidak terpeleset, Tuhan masih melindungi ku.
"Neng!"
Terdengar panggilan dari dalam rumah. Kubalas saja nanti setelah masuk ke dalam rumah. Aku masih fokus membersihkan kaki, terdengar suara langkah kaki mendekati pintu.
Krek!
Suara kunci pintu di buka lalu terbuka pintu depan rumah. Terpampang seorang lelaki dengan wajah dingin mencari kehadiran wanita ini. Aku memang melihatnya, tapi terserah! Kakiku lebih utama.