Pengki Naik Daun

Mirza
Chapter #1

BAB 1 Nama yang Salah Sejak Lahir

Ada banyak hal yang bisa membuat seorang mahasiswa tingkat akhir kehilangan kewarasan. Dosen pembimbing yang susah ditemui, revisi yang tidak kunjung selesai, teori yang tiba-tiba tidak relevan, sampai pertanyaan sederhana seperti, "Kapan lulus?"

Gue sudah melewati banyak hal. Sayangnya, sebagian besar masih menunggu untuk gue selesaikan.

Usia gue sekarang dua puluh satu tahun. Secara hitungan akademis, seharusnya gue sudah berada di tahap akhir kehidupan mahasiswa. Tinggal menyelesaikan skripsi, menjalani sidang, lalu wisuda. Kedengarannya sederhana kalau dijelaskan dalam satu tarikan napas.

Kenyataannya, membuka dokumen skripsi saja kadang membutuhkan keberanian sebesar orang yang hendak mengakui kesalahan kepada pacarnya.

Nama gue Franky.

Nama yang sebenarnya cukup bagus, setidaknya menurut bokap gue. Beliau yang memilihnya sejak gue masih berada di dalam kandungan. Katanya, gue harus punya nama yang terdengar keren, berkelas, dan punya aura seorang bintang besar.

Bokap gue penggemar berat Frank Sinatra. Penyanyi legendaris yang menurutnya punya suara dan karisma luar biasa.

Jadi, ketika gue lahir, tanpa perlu rapat keluarga, nama Franky langsung disematkan.

Bokap gue bangga sekali.

Sejak kecil, setiap memperkenalkan gue kepada orang lain, beliau selalu menyebut nama itu dengan penuh kebanggaan.

"Ini anak saya. Namanya Franky."

Cara beliau mengucapkannya seolah-olah sedang memperkenalkan calon penyanyi internasional, bukan bayi yang bahkan belum bisa membedakan mana microwave dan magic com.

Sayangnya, kebanggaan bokap gue tidak sepenuhnya didukung oleh nyokap.

Nyokap gue orang Betawi asli. Perempuan yang kalau bicara bisa terdengar sampai rumah tetangga sebelah tanpa perlu bantuan pengeras suara.

Baginya, nama Franky terlalu kebule-bulean.

Mungkin lidahnya merasa kurang cocok menyebut nama itu berulang kali.

Akhirnya, nama Franky mengalami sedikit penyesuaian.

"Engky!"

Begitulah nyokap biasa memanggil gue.

Bokap tentu saja keberatan.

"Namanya Franky, bukan Engky."

"Ya, elah bang, Franky, Engky. Sama aje. Yang penting anaknye nengok."

"Jangan sembarangan ganti nama anak."

"Emang gue ganti namanye di akte?"

Bokap biasanya memilih diam setelah itu.

Gue tumbuh dengan dua nama panggilan. Franky dari bokap dan Engky dari nyokap. Keduanya masih terdengar normal dan belum cukup untuk membuat gue mempertanyakan keputusan orang tua dalam memberi nama.

Setidaknya, sampai gue masuk sekolah dasar.

Di situlah hidup gue mulai mengalami perubahan yang tidak pernah gue minta.

Awalnya, beberapa teman sekolah sering bermain ke rumah. Mereka biasa memanggil gue ketika ingin mengajak bermain bola atau sekedar bersepeda keliling kampung.

Suatu siang, ketika gue sedang berada di halaman, nyokap memanggil dari dalam rumah.

"Engky! Engky! Makan dulu!"

Salah satu teman gue yang sedang berdiri di dekat pagar langsung menoleh.

"Nama lo Engky?"

"Iya. Kenapa?"

Dia memperhatikan gue beberapa detik, kemudian tertawa.

"Kirain Pengki!"

Gue tidak langsung paham maksudnya. Sampai akhirnya dia menjelaskan bahwa pengki adalah alat yang biasa digunakan untuk mengumpulkan sampah bahkan kotoran hewan.

Teman-teman yang lain ikut tertawa.

Sejak hari itu, nama Engky perlahan kehilangan tempatnya.

Awalnya mereka masih memanggil gue Engky sesekali. Namun, setiap kali ada kesempatan, mereka selalu menyelipkan kata Pengki.

Entah sejak kapan, panggilan tersebut mulai menyebar ke anak-anak lain di lingkungan rumah. Teman yang tidak pernah sekolah satu kelas dengan gue pun ikut menggunakannya.

Bahkan tetangga yang sebelumnya mengenal gue sebagai Franky atau Engky mulai terbiasa menyebut Pengki.

Bokap adalah orang yang paling tidak bisa menerima perubahan itu.

Setiap kali mendengar ada anak yang memanggil gue Pengki, beliau langsung mengoreksi.

"Namanya Franky!"

Tapi anak-anak zaman itu punya tingkat keberanian yang sulit dijelaskan.

"Iya, Om. Pengki."

"Franky!"

"Iya, Om. Pengki."

Bokap mungkin berharap kalau dia cukup keras mengoreksi, anak-anak itu akan kembali menggunakan nama pemberiannya.

Sayangnya, harapan tersebut tidak pernah terwujud.

Bertahun-tahun kemudian, beliau mulai terbiasa.

Puncaknya terjadi pada suatu sore ketika beberapa teman gue datang ke rumah.

"Om, Pengkinya ada?"

Bokap yang sedang duduk santai di teras menjawab tanpa mengalihkan pandangan dari televisi.

"Ada tuh di dalem."

Lihat selengkapnya