Kalau di rumah gue punya nyokap yang hobi memanggil gue Engky dan bokap yang pantang menyerah memanggil gue Franky, di kampus gue punya satu orang lagi yang memegang lisensi penuh untuk mengatur hidup gue.
Namanya Rara.
Pacar gue.
Kami sudah pacaran sejak masa putih abu-abu. Artinya, dia adalah salah satu dari sedikit manusia di muka bumi ini yang tahu dengan detail seluruh evolusi nama gue—dari Franky yang penuh mimpi, Engky yang merakyat, Pengki yang disamakan dengan alat kebersihan, sampai Rombeng yang bikin harga diri rasanya rontok seketika.
Rara kuliah di kampus yang sama dengan gue, meskipun beda fakultas. Kalau gue sibuk berurusan dengan kehidupan mahasiswa tingkat akhir yang ritmenya nggak jelas, Rara justru termasuk tipe mahasiswi yang hidupnya jauh lebih terstruktur.
Salah satu rutinitas gue yang cukup sering dilakukan setiap sore adalah mengantarnya pulang.
Sore itu, kami sedang menuju parkiran motor. Rara duduk di belakang sambil merapikan tas punggungnya. Setelah memastikan dia sudah nyaman, gue mulai menjalankan motor dan perlahan meninggalkan gerbang kampus.
"Gimana skripsi lo, Engky?" tanyanya dari belakang.
Nah, dengar itu?
Rara memanggil gue Engky.
Di awal-awal pacaran, sewaktu pertama kali mendengar nyokap memanggil gue Engky lewat telepon, dia sempat bingung. Namun, lama-kelamaan lidahnya ikut terbiasa.
Menurutnya, nama Franky terlalu kepagian buat cowok yang kerjanya sering nyasar kalau mencari alamat.
Jadi, resmi sudah. Di telinga Rara, gue adalah Engky.
Panggilan itu berlaku dalam kondisi normal. Kondisi ketika hubungan kami adem ayem, nggak ada tugas menumpuk, dan kondisi keuangan gue masih cukup aman buat traktir bakso.
Tapi situasinya berubah drastis kalau Rara sedang masuk mode Attack.
Kalau gue melakukan kesalahan—terutama yang berhubungan dengan waktu—panggilan kesayangan itu otomatis naik tingkat.
Engky menghilang.
Franky tinggal kenangan.
Yang muncul adalah nama terkeramat dalam sejarah hidup gue.
Pengki Rombeng.
"Engky, lo dengerin gue nggak sih?"
Suara Rara memecah lamunan gue. Nadanya mulai naik satu oktaf karena merasa pertanyaannya nggak ditanggapi.
"Denger, Ra. Ampun, ampun. Kuping gue masih berfungsi dengan baik," jawab gue cepat-cepat.
"Makanya jangan cuma manggut-manggut kayak orang linglung. Soal revisian bab satu kemarin gimana? Jangan bilang lo belum ketemu dosen lagi gara-gara keseringan main bola!"
Pertanyaan itu mengingatkan gue pada sebuah kejadian sial beberapa bulan lalu. Kejadian yang sukses membuat nama Pengki Rombeng bergema seantero lapangan kampung, dengan suara yang jauh lebih melengking daripada toa masjid.
Waktu itu hari Sabtu. Malam minggu.
Jadwal suci yang seharusnya diisi dengan jalan berdua, makan mi ayam langganan, atau minimal duduk di teras rumah sambil pura-pura romantis.