Pengki Naik Daun

Mirza
Chapter #3

BAB 3 Informasi Penting

Ancaman Rara kemarin sore rupanya cukup ampuh untuk merontokkan rasa malas di dalam tubuh gue.

Pagi ini, pukul sepuluh kurang lima menit, gue sudah berdiri di depan ruang dosen. Menghadapi bimbingan, mencatat beberapa poin revisi yang bikin dahi berkerut, lalu berhasil keluar ruangan tanpa perlu kena omel berlebihan.

Sebuah pencapaian monumental bagi mahasiswa tingkat akhir seperti gue.

Karena bimbingan selesai jauh lebih cepat dibanding jadwal kuliah Rara, langkah kaki gue otomatis mengarah ke satu-satunya tempat perlindungan paling aman di kampus: kantin.

Awalnya, Rara bilang kelasnya baru selesai sore nanti. Tapi sekitar setengah jam lalu, dia mengirim pesan lewat WhatsApp kalau dosennya mendadak membatalkan perkuliahan. Artinya, gue masih punya cukup waktu untuk bersantai sebelum mengantarnya pulang.

Kantin kampus siang itu tidak terlalu ramai. Gue memilih meja di pojok, tepat di bawah pohon rindang, lalu memesan segelas es teh manis dan sepiring tahu isi hangat yang baru diangkat dari penggorengan.

Membuka laptop untuk langsung mengerjakan revisi skripsi jelas bukan gaya gue. Jadi, laptop tetap tersimpan rapat di dalam tas, sementara perhatian gue sepenuhnya tertuju pada es teh yang sudah berembun.

Belum sampai gorengan kedua habis, dua orang makhluk Universe lain datang menghampiri meja gue.

Jujun dan Singit.

Jujun langsung menjatuhkan tubuhnya ke kursi seberang gue. Dengan badan yang tinggi menjulang, dia sebenarnya punya postur yang cukup meyakinkan untuk seorang penjaga gawang. Sayangnya, pembawaannya sering kali bertolak belakang dengan penampilannya. Jujun termasuk orang yang gampang linglung, bahkan kadang butuh beberapa detik untuk memahami sesuatu yang baru saja dikatakan kepadanya.

Sementara Singit, ya... dia Singit.

Kalau ada lomba bicara paling absurd tanpa persiapan, gue yakin dia bakal pulang membawa piala. Kepercayaan dirinya juga nggak pernah mengenal batas. Di lapangan, dia menganggap dirinya gelandang elegan sekelas Andrés Iniesta saat masih membela Barcelona. Bedanya, Iniesta bisa mengirim umpan matang ke rekan setim, sedangkan Singit lebih sering mengarahkan bola ke penonton.

Di antara kami bertiga, sebenarnya ada satu orang yang paling bisa diandalkan untuk urusan sepak bola: Hendri. Dia kapten tim sekaligus bek tengah andalan kami. Orangnya lurus, disiplin, dan tegas. Kalau sudah bicara soal latihan atau pertandingan, Hendri nggak pernah main-main. Bahkan Singit pun biasanya langsung menutup mulut kalau kapten satu itu sudah mengeluarkan nada seriusnya.

"Woi, Rombeng!" sapa Singit sambil memegang gorengannya. "Tumben lo jam segini masih nyangkut di kampus. Biasanya habis bimbingan langsung ngacir ke lapangan."

"Nungguin Rara," jawab gue singkat. "Tadinya dia baru kelar kuliah jam empat, tapi dosennya batal masuk."

"Oalah, pantesan," sahut Jujun sambil mengangguk-angguk.

Dia diam sebentar, lalu menatap gue lagi.

"Eh, tadi lo bilang nunggu siapa?"

Gue menghela napas. "Rara, Jun."

"Oh. Iya, iya."

Singit terkekeh melihat tingkah temannya. "Makanya, Jun. Jangan keseringan tidur di ubin."

Jujun cuma mengangkat bahu, lalu mengambil tahu isi dari piring gue tanpa merasa bersalah.

Sebelum obrolan melebar ke mana-mana, Singit mendadak mencondongkan tubuh ke depan. Matanya berbinar-binar seperti orang yang baru saja mendapat warisan keluarga berupa ladang dan ternak.

"Eh, Ki! Lo udah tahu kan kalau tim kita dipastikan ikut turnamen antarkampus resmi dua minggu lagi? Si Hendri udah masukin nama lo di—"

Jantung rasanya copot separuh. Tanpa pikir panjang, gue menendang tulang kering Singit dari bawah meja sambil mendesis.

Lihat selengkapnya