Hari Minggu pagi. Pukul setengah tujuh.
Di saat sebagian besar mahasiswa tingkat akhir memilih menghabiskan waktu dengan tidur lelap atau meratapi tumpukan revisi skripsi di kosan, gue justru sedang melakukan operasi paling berbahaya dalam sejarah hidup gue.
Satu tas ransel hitam ukuran sedang. Isinya bukan laptop, bukan pula buku referensi bab satu, melainkan sepasang sepatu bola tua yang solnya sudah mulai menganga, kaus kaki panjang, dan jersey latihan.
Gue mengendap-endap keluar rumah seperti buronan Interpol. Nyokap sempat melirik dari arah dapur, tempat beliau sedang meracik bumbu nasi goreng. Tapi puji Tuhan, panggilan "Engky" urung meluncur dari mulutnya karena beliau mengira gue mau jogging.
Bagus. Menyamar jadi anak rajin berolahraga ternyata tidak sesulit itu.
Sepuluh menit kemudian, motor matic tua gue sudah terparkir di pinggir lapangan rumput kampus.
Begitu menginjakkan kaki di area lapangan, aroma rumput basah, embun pagi, dan tanah yang masih lembap langsung menyapa hidung. Rasanya seperti mendapatkan oksigen murni setelah seminggu penuh disekap gas air mata bernama revisi dosen.
Di tengah lapangan, anak-anak tim sudah berkumpul. Hendri, sang kapten sekaligus bek tengah andalan, berdiri tegap sambil memegang bola. Dia sedang mengatur pemanasan dan memastikan semua pemain mengikuti instruksi dengan benar.
"Pemanasan yang bener! Jangan asal gerak. Kita latihan buat turnamen, bukan lagi senam zumba!"
Suara Hendri terdengar tegas dari tengah lapangan.
Begitu melihat kedatangan gue, dia mengangkat tangan sebagai sapaan. Wajah seriusnya sedikit melunak.
"Franky. Akhirnya datang juga."
Gue membalas dengan anggukan. Hendri memang satu-satunya orang di tim ini yang selalu memanggil gue dengan nama asli. Selebihnya, jangan harap. Di lapangan hijau ini, julukan Pengki sudah telanjur melekat, lengkap dengan segala cerita konyol yang menyertainya.
"Wah, dateng juga buronan sidang kita!" teriak Singit dari tengah lapangan.
Dia sedang melakukan peregangan dengan satu kaki di atas bola. Entah siapa yang mengajarkan gerakan itu, tapi melihat ekspresinya, gue yakin dia merasa sedang melakukan pemanasan ala pemain profesional.
Bicara soal Singit, cowok satu ini memang punya tingkat kepercayaan diri yang sulit dijelaskan dengan ilmu pengetahuan. Di kepalanya, dia bukan lagi mahasiswa tingkat akhir yang skripsinya entah kapan selesai, melainkan Andrés Iniesta yang baru saja turun dari jet pribadi di Camp Nou.
Setiap kali mendapat bola saat sesi passing, gayanya dibuat-buat selambat dan seanggun mungkin. Badannya meliuk, bola diputar dengan telapak kaki, lalu dia melepaskan umpan terobosan yang menurutnya punya kualitas kelas dunia.
Sayangnya, bola itu lebih sering meleset jauh dari sasaran dan berakhir di semak-semak pinggir lapangan.
"Singit! Fokus ke target!" tegur Hendri.
Singit mengangkat tangan, seolah baru saja menerima instruksi dari pelatih Barcelona.
"Siap, Kapten! Gue memang sedang menguji jangkauan lapangan."
"Menguji apaan? Bola lo aja masuk alang-alang."
"Itu namanya umpan tak terduga, Kap."
Hendri menggeleng, lalu kembali mengatur pemain lain.
Sementara itu, Jujun sudah berdiri di bawah mistar gawang. Dengan badan tinggi menjulang, dia sebenarnya punya postur ideal sebagai penjaga gawang. Refleksnya juga nggak buruk. Kalau sedang fokus, Jujun bisa berubah menjadi Manuel Neuer versi lokal. Tendangan keras jarak dekat pernah dia tepis, bahkan beberapa kali dia berani maju meninggalkan kotak penalti untuk memotong serangan lawan.
Masalahnya, konsentrasinya kadang suka pergi entah ke mana.
Jujun bisa berdiri tegak menghadapi tendangan penalti, tetapi beberapa detik kemudian malah kebingungan mencari bola yang sebenarnya sedang dia pegang.
Dan ada satu kebiasaan buruk yang sudah diketahui seluruh anggota tim: semakin lama bermain, semakin besar kemungkinan otaknya mengalami gangguan sinyal. Terutama setelah menit ketujuh puluh.
"Jun, siap?" teriak Hendri dari tengah lapangan.
Jujun menoleh ke kanan dan kiri sebelum menjawab.
"Siap!"
"Ngapain nengok-nengok?"
"Nyari bola, Hen."
Hendri menunjuk bola yang sedang berada tepat di depan kaki Jujun.
"Itu."
Jujun menunduk, lalu tertawa kecil.
"Oh, iya."
Latihan belum dimulai, tapi hiburannya sudah tersedia.
Di tengah sesi pemanasan, sebuah kejutan kecil muncul di pinggir lapangan. Seorang cowok berpostur gempal tetapi terlihat gesit berjalan mendekati garis lapangan. Dia mengenakan kaus klub Serie A lama dan membawa botol air mineral.