Pengki Naik Daun

Mirza
Chapter #5

BAB 5 Nyaris!

Pertanyaan Rara di ujung layar video call sukses membuat jantung gue nyaris mengundurkan diri. Otak yang tadinya masih fokus memikirkan permainan mendadak error, mirip sistem operasi Jujun kalau sudah melewati menit ketujuh puluh.

Gue berusaha memasang senyum paling biasa. Meski, kalau dilihat dari pantulan layar, senyum gue lebih mirip orang yang sedang menahan pengen boker di dalam angkot.

"Oh... ini?" Gue mengetuk layar ponsel, pura-pura santai sambil mengatur napas. "Tadi baru bangun, terus langsung jogging, Ra. Biar badan nggak kaku gara-gara kemarin malam begadang ngerjain revisi."

"Jogging? Tiba-tiba banget. Tumben rajin. Biasanya kalau Minggu pagi kerjaannya molor sampe siang."

"Ya ampun, Yang. Kesehatan itu nomor satu." Gue mulai berakting seolah-olah sedang mengikuti audisi film. "Biar fisik makin kuat, nggak gampang sakit, dan nggak gampang stres ngadepin revisian dosen. Demi masa depan kita juga, kan?"

Mendengar kata masa depan, ekspresi Rara sedikit melunak. Kerutan di dahinya perlahan menghilang.

"Hmm... iya juga sih."

Gue hampir saja mengembuskan napas lega. Sayangnya, pemeriksaan belum selesai.

"Tapi kenapa jogging-nya pagi-pagi banget? Terus kenapa dihubungi dari tadi nggak diangkat-angkat?"

"Hehe... maaf, Sayang. HP-nya silent, aku masukin tas biar nggak keganggu waktu lari."

Rara masih menatap gue beberapa detik. Tatapannya seolah sedang mempertimbangkan apakah jawaban gue layak dipercaya atau perlu diselidiki lebih lanjut.

"Eh, ngomong-ngomong soal perpus... kamu udah siap-siap?"

"Udah dong. Aku udah rapi nih. Tinggal nunggu kamu jemput." Nada manjanya kembali terdengar. "Jangan lama-lama, ya, Engky. Setengah jam lagi kamu harus sudah di depan rumah!"

Deg!

Setengah jam lagi?

Sementara sesi latihan tanding baru saja mau masuk babak berikutnya. Rahmat masih berada di lapangan, dan gue jelas belum rela meninggalkan permainan begitu saja.

"Ehm... gini, Ra." Gue memutar otak secepat kilat. "Boleh minta waktu setengah jam lagi nggak? Aku harus balik dulu buat mandi dan ganti baju, baru setelah itu ke rumah kamu."

"Ya sudah. Tapi jangan lama-lama, ya! Awas kalau ngaret!"

"Siap, Sayang!"

"Beneran, lho!"

"Iya, beneran!"

"Bukan janji palsu lagi?"

Gue tertawa kecil. "Enggak, dong."

Rara akhirnya tersenyum.

"Yaudah. Aku tunggu."

Bip.

Sambungan video call terputus.

Gue langsung mengembuskan napas panjang. Rasanya kayak baru lolos dari interogasi polisi bandara karena ketahuan bawa hewan langka di koper.

Hampir saja jantungan!

Gue memasukkan ponsel ke dalam tas, lalu berlari kembali ke tengah lapangan. Hendri sudah berdiri di dekat garis tengah sambil memegang bola. Begitu melihat gue datang, dia meniup peluit pendek.

"Udah selesai?"

"Udah, Cap!"

"Kalau begitu, lanjut. Kita masih punya waktu buat latihan."

Gue buru-buru mengambil posisi di lini depan.

"Woi, Ki!" teriak Singit dari tengah lapangan. "Ditelepon beruang betina, ya?"

"Udah, nggak usah banyak tanya! Gas terus!"

Singit tertawa sambil memegang perut.

"Tenang, bro. Cinta memang butuh pengorbanan. Tapi kalau sampai harus meninggalkan lapangan demi pacar, itu namanya pengkhianatan terhadap sepak bola."

"Mulut lo itu yang perlu dikorbankan!" sahut gue.

"Udah! Fokus!" potong Hendri tegas. "Lo pada mau latihan atau mau bikin acara debat?"

Singit langsung menutup mulut, meski masih sempat mengangkat jempol ke arah gue.

Permainan kembali dimulai.

Gue mengambil posisi di depan, sementara Rahmat mengatur serangan dari lini tengah. Dalam game internal kali ini, gue dan Rahmat berada di tim yang sama, sedangkan Singit memperkuat tim lawan. Jujun sendiri dipercaya menjaga gawang tim gue.

Permainan berlangsung semakin cepat. Beberapa kali gue mencoba membuka ruang di antara bek lawan, dan Rahmat beberapa kali mengirimkan umpan yang membuat gue punya kesempatan untuk mengancam gawang.

Namun, kejutan justru datang dari orang yang paling nggak gue duga.

Singit.

Awalnya, dia cuma menerima bola di sisi kanan lapangan. Dua pemain dari tim gue langsung bergerak menutup ruang. Gue bahkan sempat berpikir bola itu sebentar lagi bakal kembali berakhir di semak-semak.

Tapi kali ini ada sesuatu yang berbeda.

Singit menahan bola dengan telapak kaki, lalu menggesernya ke kanan. Bek pertama terkecoh dan bergerak terlalu jauh. Begitu lawannya kehilangan keseimbangan, Singit memutar badan dan membawa bola melewati sisi kirinya.

Satu pemain lagi datang membantu. Singit justru melakukan gerakan tipuan dengan bahu, membuat si bek salah membaca arah larinya.

"Eh, eh, eh!"

Teriakan pemain di pinggir lapangan mulai terdengar.

Gue yang berdiri tidak jauh dari kotak penalti sampai mengangkat alis.

Lihat selengkapnya