Pengki Naik Daun

Mirza
Chapter #6

BAB 6 Warning Dari Betina

Perpustakaan pusat kampus adalah zona steril. Tempat di mana udara diatur bersuhu sejuk, keheningan dijaga ketat oleh petugas galak yang selalu siap melotot untuk mengintimidasi lawannya, dan aroma yang lazim tercium adalah bau khas kertas tua, lem buku, serta wangi lembut lotion mahasiswa teladan.

Sayangnya, suasana itu mendadak ternoda sejak kehadiran gue.

Duduk di samping Rara yang tampil rapi, wangi, dan khusyuk membuka beberapa literatur untuk kebutuhan skripsinya, gue justru menjadi anomali berjalan.

Setelah Rara menyuruh gue mencuci muka sebelum berangkat, gue memang sempat membasuh wajah dan leher di wastafel rumahnya. Namun, tentu saja itu tidak banyak membantu. Pakaian gue masih seragam tempur latihan tadi pagi: jersey bola yang keringatnya sudah mengering dan meninggalkan bercak putih di bagian kerah, celana kolor pendek, serta aroma tubuh yang memadukan bau rumput liar, debu lapangan, dan balsem otot Geliga.

Kombinasi yang, menurut gue, lebih cocok ditemukan di ruang ganti pemain daripada di perpustakaan ber-AC.

Beberapa mahasiswa yang duduk tidak jauh dari meja kami mulai melirik. Ada yang terang-terangan menutup hidung, sementara yang lain memilih menggeser kursinya sedikit menjauh.

Gue berusaha bersikap biasa saja, meskipun rasanya seperti sedang menjadi objek penelitian tentang pencemaran udara.

Rara, yang sejak tadi fokus membaca buku referensi, perlahan menutup catatannya. Dia menoleh ke arah gue dengan mata menyipit tajam.

"Engky..."

Suaranya pelan, nyaris seperti bisikan kematian. Dia jelas berusaha menjaga agar tegurannya tidak menarik perhatian petugas perpustakaan.

"Apa, Yang?" jawab gue sambil tersenyum.

"Sumpah, bau badan kamu tuh udah kayak orang nggak mandi seminggu."

"Sepertinya hidung kamu terlalu sensitif."

"Jangan mulai, deh!" Rara melirik ke arah beberapa mahasiswa yang mulai memperhatikan kami. "Bisa nggak agak geseran ke sana? Malu-maluin tahu nggak diliatin orang!"

Dengan patuh, gue menggeser kursi sedikit menjauh.

Rara mengembuskan napas, lalu kembali menatap pakaian gue.

"Kayaknya nggak cukup cuma geser."

"Lho, kenapa lagi?"

"Udah, mending kamu tunggu di luar gedung perpustakaan sana. Jangan bikin reputasi aku hancur cuma gara-gara nongkrong bareng makhluk halus kayak kamu di sini."

"Iya, iya."

Dengan senang hati dan sedikit rasa bersalah yang berusaha gue sembunyikan, gue melangkah keluar meninggalkan zona dingin perpustakaan.

Sinar matahari siang langsung menyengat kulit begitu gue sampai di teras depan gedung. Sembari menunggu Rara menyelesaikan urusan pencarian bukunya, gue memilih duduk di bangku taman beton yang dinaungi pohon ketapang rindang.

Baru saja gue hendak menyandarkan punggung dan menikmati angin sepoi-sepoi, sebuah suara berat memanggil nama asli gue dari arah tangga.

"Franky!"

Seorang cowok berjalan mendekat dengan tas ransel tersampir di salah satu bahunya. Posturnya tegap mirip pohon kedongdong, langkahnya mantap, dan wajahnya seperti biasa: serius, bahkan ketika sedang boker sekalipun.

Hendri.

"Eh, Cap!" sapaan gue spontan.

Dia menghampiri bangku, lalu mengambil tempat duduk di sebelah gue.

"Wah, pas banget ketemu lu di sini, Ki. Gue tadinya mau nge-chat lu soal latihan tadi pagi."

Gue menegakkan duduk.

"Kenapa, Cap? Ada yang salah dari latihan kita?"

"Secara permainan sih lumayan solid," jawabnya. "Kombinasi lu sama Rahmat tadi pagi udah bagus buat lini depan. Tapi masih ada beberapa hal yang harus kita benahi."

Lihat selengkapnya