Pengki Naik Daun

Mirza
Chapter #7

BAB 7 Private Jet

Suara Rara terdengar dingin dan datar. Entah kenapa, suhu di bawah pohon ketapang yang semula terasa sejuk mendadak seperti turun beberapa derajat.

Dia berdiri tegak dengan satu tangan memegang beberapa buku referensi, sementara tangan lainnya terlipat di dada. Tatapannya lurus menghujam ke arah gue, kemudian bergeser sekilas ke Hendri.

Hendri, sang kapten tim yang terkenal garang di lapangan hijau dan tidak pernah gentar menghadapi bek lawan setinggi dua meter, mendadak terlihat salah tingkah. Dia mengerjap beberapa kali, mencoba memahami situasi di hadapan kami.

"Eh... halo, Ra," sapanya kaku.

Sebagai cowok yang kehidupannya lebih banyak berkutat pada jadwal latihan, taktik permainan, dan urusan tim, Hendri tampaknya tidak punya persiapan khusus untuk menghadapi situasi genting seperti ini.

Rara tidak membalas sapaannya. Matanya kembali tertuju kepada gue.

Mati gue.

Skenario terburuk resmi diaktifkan.

Otak berputar mencari alasan paling mujarab untuk menyelamatkan nyawa, harga diri, dan masa depan karier sepak bola yang bahkan belum dimulai.

Di sebelah gue, Hendri yang mulai menangkap sinyal emergency mendadak berdehem.

"Ehm... Ki, kayaknya gue duluan, ya. Ada urusan mendadak di sekretariat UKM."

"Eh, bentar, Hen—"

Terlambat.

Hendri sudah berdiri dan menepuk pundak gue sekilas sebelum melangkah pergi dengan kecepatan yang cukup mencurigakan untuk seseorang yang katanya sedang terburu-buru ke sekretariat.

Pengkhianat! Kapten macam apa yang meninggalkan anak buahnya di tengah peperangan?

Kini gue berdiri sendirian menghadapi sang hakim agung.

Rara menghela napas panjang. Ekspresinya tidak lagi sekedar kesal, tetapi juga menunjukkan kekecewaan yang jauh lebih sulit gue hadapi daripada omelan panjang.

"Udah, nggak usah nyari alibi lagi, Pengki."

Suaranya pelan dan panggilannya berubah, tetapi setiap kata terasa menancap.

"Gue capek dibohongin terus. Kalau memang niat lo cuma mau main bola dan malas ngurusin skripsi, bilang dari awal. Biar gue nggak perlu repot-repot ngingetin lo setiap hari."

Rara memalingkan wajah, lalu mulai menggeser langkah seolah ingin meninggalkan gue sendirian di bangku taman.

Alarm darurat di kepala gue langsung menjerit.

Waduh. Ini bukan lagi soal ancaman gembok motor.

Kalau gue membiarkannya pergi dalam keadaan seperti itu, masalahnya mungkin akan jauh lebih besar daripada yang bisa gue bayangkan.

"Eh, tunggu dulu, Yang!"

Gue buru-buru berdiri dan mencegah langkahnya.

Rara berhenti, lalu menatap gue dengan ekspresi tidak sabar.

"Apa lagi? Mau ngeles apa lagi lo, Rombeng?!"

Gue menarik napas dalam-dalam. Kali ini, gue berusaha tidak asal mengeluarkan alasan. Ada sesuatu yang memang ingin gue sampaikan, meskipun mungkin akan terdengar berlebihan.

"Dengerin aku dulu, Ra. Aku tahu aku salah karena sudah bohong sama kamu. Tapi aku bukan bermaksud mengabaikan skripsi atau sengaja bikin kamu khawatir."

Rara tidak menjawab.

Gue melanjutkan dengan suara yang sedikit lebih pelan.

"Tapi turnamen ini... buat aku beda."

"Beda gimana?"

Gue mengusap tengkuk sebelum mulai menjelaskan.

"Kamu tahu, kan, dari kecil aku punya mimpi jadi pemain bola profesional? Aku tahu sekarang posisi aku masih jauh dari sana. Tapi kesempatan seperti ini nggak datang setiap hari."

Rara menatap gue, kali ini tanpa menyela.

"Dan kabarnya, turnamen ini bakal dipantau langsung sama beberapa pencari bakat dari klub-klub liga profesional."

Lihat selengkapnya