Pengki Naik Daun

Mirza
Chapter #8

BAB 8 Coach Singit

Batas waktu yang diberikan Rara benar-benar bekerja seperti cemeti bermuatan listrik.

Begitu sampai di rumah usai drama di perpustakaan, meja kamar gue mendadak berubah menjadi zona darurat militer. Laptop tua yang biasanya lebih sering dipakai menonton highlight pertandingan Liga Champions atau cuplikan taktik sepak bola, malam itu terpaksa bekerja lembur bagaikan mesin pabrik tekstil.

Kopi hitam pahit diseduh lebih pekat dari biasanya. Gue memang bukan perokok, jadi untuk menemani begadang, semangkuk mi instan rebus pakai telur menjadi pilihan paling masuk akal. Sementara itu, lembar demi lembar catatan revisi dari dosen pembimbing mulai gue bongkar.

Nggak ada waktu buat leha-leha, apalagi rebahan sambil memainkan game di ponsel. Setiap kali rasa kantuk mulai menyerang, bayangan motor matic kesayangan yang digembok Rara selama sebulan penuh langsung berkelebat di kepala.

Bangun, Franky! Masa depan lo dipertaruhkan!

Gue kembali menegakkan badan dan menatap layar laptop.

Masalahnya, revisi dosen ternyata nggak sesederhana mengganti beberapa kata atau memperbaiki tanda baca. Ada paragraf yang harus disusun ulang, ada penjelasan yang perlu diperjelas, dan ada beberapa bagian yang menurut beliau belum cukup kuat untuk mendukung pembahasan.

Beberapa kali gue membaca catatan yang sama tanpa benar-benar memahami maksudnya.

Pernah satu paragraf sudah gue rapikan hampir setengah jam, tetapi setelah dibaca ulang, hasilnya malah terasa lebih berantakan daripada sebelumnya.

"Astaga... ini paragraf apa benang kusut?"

Belum sempat menemukan jawabannya, suara emak dari arah dapur mendadak memecah keheningan rumah.

"Engky! Lo kagak laper emangnye? Dari tadi ngejogrok depan laptop mulu! Kurus kering lu, ntar disangkanye kagak diurusin orang tuanye!"

Gue menoleh ke arah pintu kamar.

Itulah emak. Suaranya bisa menembus dinding beton tiga lapis. Tegas, blak-blakan, dan kalau sedang ngomel, nadanya mirip alarm kebakaran.

"Ntar, Mak! Dikit lagi!"

"Dikit lagi, dikit lagi! Dari tadi juga ngomongnye begitu!"

Kontras seratus delapan puluh derajat dengan bapak. Di sudut ruang tengah, beliau duduk tenang sambil menyeruput kopi manis. Mengenakan kaus singlet putih polos dan sarung kotak-kotak, bapak terlihat anteng nyekrol Tik-Tok seolah tidak terjadi apa-apa di dunia ini.

"Biarin, Mak. Biar kapok dia. Seminggu kemarin maen mulu kerjanya," celetuk bapak dengan nada kalem, matanya sama sekali nggak lepas dari ponsel.

"Ya, tapi bukan berarti kagak makan, Bang!"

"Ntar juga makan sendiri kalau udah lapar."

Gue tersenyum mendengar percakapan mereka.

Terima kasih, Pak. Dukungan moralnya sangat berarti.

Sayangnya, perut gue memang sudah mulai protes. Akhirnya, gue keluar kamar dan menyambar semangkuk mi instan yang sudah disiapkan emak di meja makan.

"Mak, ini mi punya siapa?"

"Ya punye lo, siape lagi? Emang ada orang lain yang mau makan mi tengah malem begini?"

Gue duduk dan mulai menyantapnya.

Emak melirik pakaian gue yang masih belum sepenuhnya rapi.

"Makanye, kalau udah gede jangan kerjaannye main bola mulu. Liat tuh, skripsi belum kelar."

"Iya, Mak. Ini juga lagi dikerjain."

"Bagus deh. Jangan ampe emak denger lagi motor lu digembok si Rara!"

Gue hampir tersedak.

Dari ruang tengah, bapak tiba-tiba menyahut.

"Kalau digembok lagi, sekalian aja jual motornya. Beli sepeda."

"Bapak!" protes gue.

Emak malah tertawa.

Rumah kembali ramai oleh suara mereka. Setidaknya, di tengah tekanan revisi yang membuat kepala gue hampir meledak, masih ada hiburan gratis.

Setelah makan, gue kembali ke kamar dan melanjutkan pekerjaan.

Malam demi malam gue habiskan untuk memperbaiki bagian-bagian yang diminta dosen. Setiap kali berhasil merapikan satu paragraf, masih ada catatan lain yang menunggu. Sesekali gue mencoret tulisan sendiri, mengubah susunan kalimat, lalu membacanya berulang-ulang sampai merasa cukup yakin.

Di sela-sela perjuangan itu, perhatian kecil justru datang dari orang yang paling menentukan nasib motor gue.

Ponsel di sebelah laptop beberapa kali bergetar. Pesan WhatsApp dari Rara masuk, kadang diselingi panggilan video singkat untuk memastikan gue benar-benar mengerjakan revisi, bukan malah ketiduran.

Salah satu pesannya muncul ketika jam sudah menunjukkan hampir tengah malam.

WhatsApp — Rara

Semangat, Engky! Jangan tidur sebelum kelar Bab Satunya. Kalau ketahuan molor, awas, ya!

Gue tersenyum membaca pesan itu.

Diktator berkedok pacar. Tapi kali ini gue akui, diktatornya lumayan perhatian.

Sesekali Rara juga menelepon lewat video call. Dia hanya ingin melihat layar laptop gue, memastikan ada dokumen skripsi yang benar-benar terbuka, bukan video pertandingan sepak bola.

Pernah sekali gue baru saja meminimalkan tab cuplikan gol ketika wajah Rara muncul di layar.

"Engky, itu tadi kamu buka apa?"

Gue langsung duduk tegak.

"Dokumen revisi, Sayang."

"Yakin?"

"Seratus persen."

Lihat selengkapnya