Pengki Naik Daun

Mirza
Chapter #9

BAB 9 FC ROMBENG

Rabu sore.

Selesai mengantar Rara pulang ke rumahnya, gue mengira urusan hari ini sudah selesai dan tinggal bersiap menuju lapangan kampus. Namun, semesta rupanya masih punya satu scene kejutan tambahan.

Tepat saat motor matic gue berhenti di depan pagar rumah Rara dan cewek itu hendak turun, pintu rumah mendadak terbuka. Sosok pria paruh baya berkaus kerah abu-abu keluar sambil membawa segelas kopi.

Bokapnya Rara.

Jantung gue langsung dag-dig-dug.

Waduh. Kalau di sinetron, adegan begini biasanya jadi awal pembicaraan serius soal masa depan anak gadisnya.

"Loh, nggak mampir dulu, Franky?" tanya beliau dengan suara berat dan tenang.

Gue buru-buru melepas helm, lalu tersenyum sopan.

"Eh, nggak usah repot-repot, Om. Ini mau langsung ke lapangan kampus. Ada jadwal latihan bola."

Gue berusaha menjawab sejujur mungkin, berharap beliau nggak menganggap gue sebagai mahasiswa pemalas yang lebih mementingkan bola daripada kuliah.

Di luar dugaan, mata calon mertua gue itu justru langsung berbinar begitu mendengar kata bola. Beliau tersenyum lebar, lalu menepuk pundak gue cukup keras sampai motor sedikit bergoyang.

Plak!

"Wah, bagus! Laki-laki memang harus rajin olahraga. Badan sehat, sportifnya juga dapat! Dulu waktu muda, Om juga pemain bola andalan kampung, tahu!"

Rara yang berdiri di sebelah bapaknya langsung melengos sambil melipat tangan di dada. Wajahnya berubah sebal.

"Idih, Bapak malah komporin dia!" protes Rara. "Bab Satu skripsinya baru aja di-ACC, Pak. Jangan malah didukung main bola terus. Nanti kalau dia kebablasan, Bab Dua kapan dikerjainnya?"

Bokapnya tertawa lebar, sama sekali nggak terganggu dengan protes sang anak.

"Ah, Rara ini kurang peka. Namanya juga anak muda, wajar kalau punya hobi. Apalagi kalau hobinya sehat begini. Betul, kan, Franky?"

Melihat angin sedang berpihak pada kubu gue, insting bertahan hidup langsung aktif.

"Betul banget, Om! Kata pepatah, bola itu bundar, tapi tekad buat nyenengin anak Om itu bulat sempurna!"

Rara langsung memelototi gue.

Sementara itu, bokapnya malah terbahak-bahak puas.

"Wah, pinter juga ngomongnya!"

Setelah pamit dan mengucapkan terima kasih atas dukungan moral yang tidak terduga itu, gue buru-buru memasang helm. Sebelum Rara sempat mengeluarkan ancaman susulan, motor langsung gue nyalakan dan gue pamit menuju lapangan.

Sepanjang jalan, gue masih sempat tersenyum sendiri.

Lumayan. Ternyata punya calon mertua yang mantan pemain tarkam ada manfaatnya juga.

Suasana lapangan kampus sore itu sudah riuh rendah.

Jangan dikira yang datang cuma segelintir orang. Sekitar dua puluh pemain ikut meramaikan sesi latihan tambahan hari itu. Dari mahasiswa tingkat bawah sampai beberapa senior yang sesekali ikut bermain, semuanya tumpah ruah memenuhi lapangan yang sebagian rumputnya sudah mulai lenyap tergilas pull sepatu bola.

Meski begitu, pusat kendali tim inti tetap berada di tangan orang-orang yang sudah gue kenal.

Di bawah mistar gawang, Jujun sudah berdiri sambil melakukan pemanasan ringan. Dengan badannya yang tinggi menjulang, dia terlihat cukup meyakinkan sebagai penjaga gawang. Mudah-mudahan kali ini konsentrasinya nggak ikut pensiun sebelum latihan selesai.

Di lini tengah, Singit mondar-mandir sambil memamerkan kemampuan juggling bola. Sesekali dia menyempatkan diri melakukan gerakan memutar badan, seolah sedang mengikuti audisi pemain Barcelona.

Sementara itu, Hendri berdiri tegap mengawasi jalannya pemanasan.

Hebatnya, kali ini dia nggak cuma berdiri di pinggir lapangan sebagai pengamat. Sesuai tanggung jawabnya sebagai kapten, Hendri ikut turun langsung mengenakan rompi latihan dan bergabung di lini belakang sebagai bek tengah.

Rahmat juga sudah datang beberapa menit sebelum gue tiba. Dia sedang melakukan peregangan di dekat garis tengah sambil sesekali berbincang dengan pemain lainnya.

Di sisi kiri lapangan, Reza alias Kampleng sudah bersiap dengan gaya khasnya. Rambut kelimis basah yang lebih mirip habis di jilatin kucing, tubuh tinggi kurus, dan logat medok yang selalu berhasil menarik perhatian orang di sekitarnya.

"Walah, Mas Hendri! Bolanya jangan dioper pas saya lagi capek!"

Hendri mengernyit tipis.

"Fokus, Reza. Jangan kebanyakan ngelawak."

"Njih, Mas Kapten! Siap!"

Anak ini baru datang latihan saja sudah punya persyaratan sendiri.

Di tengah sesi pemanasan, sebuah mobil SUV mewah masuk ke area parkir pinggir lapangan. Kendaraan itu berhenti tidak jauh dari tempat kami meletakkan tas.

Pintunya terbuka.

Seorang cowok keluar dengan kaus desainer mahal, jam tangan yang mungkin harganya setara motor matic gue, dan sepatu bola putih bersih yang kelihatan belum pernah menyentuh lumpur.

Rangga.

Anak orang kaya di kampus yang terkenal paling santai sedunia.

Buat ukuran mahasiswa, gaya hidup Rangga memang agak di luar nalar. Dia punya kebiasaan yang bisa membuat kaum kere seperti gue menjerit dalam hati: kalau sepatu bola sudah kotor atau selesai dipakai bermain, kabarnya langsung dibuang ke tempat sampah dan besoknya beli yang baru.

Gue pernah melihat sendiri dia meninggalkan sepatunya di dekat tong sampah setelah bermain fun football. Waktu ditanya kenapa nggak dicuci, jawabannya cuma satu:

Males.

Bayangkan saja.

Buat gue, sepatu bola yang solnya mulai menganga masih menjadi barang berharga. Buat Rangga, sepatu yang sedikit terkena lumpur bisa kehilangan masa depan.

Namun, meskipun gaya hidupnya santai dan perlengkapannya serba mahal, Rangga bukan orang asing di lapangan. Beberapa kali dia pernah ikut fun football bersama anak-anak kampus. Dari situ, gue tahu dia punya kemampuan bermain yang cukup bagus, terutama ketika membantu serangan dari sisi sayap kanan.

Rangga berjalan mendekati pinggir lapangan sambil membawa botol air mineral impor.

"Yo, Pengki! Seru amat latihan sore ini," sapanya santai.

Gue yang kebetulan lewat menoleh.

"Baru mau mulai, Rang."

Rangga meneguk airnya, lalu memperhatikan pemain yang sedang melakukan pemanasan.

"Gue lihat kalian serius banget. Padahal cuma turnamen antarkampus, tapi latihannya kayak mau ikut Piala Dunia."

"Main bola itu bukan cuma soal turnamen, Rang. Ini soal harga diri dan gengsi," sahut gue.

Rangga tertawa renyah.

"Ah, elo bisa aja, Pengki."

Dia sempat terdiam sambil memperhatikan permainan Singit yang sedang mencoba melakukan gerakan tipuan dengan bola.

"Jujur, lihat kalian latihan begini, kayaknya seru juga. Gue ikut gabung boleh, lah? Daripada di rumah bosen."

"Lo mau ikut latihan?"

Lihat selengkapnya