Hari-hari menjelang turnamen antarkampus rasanya berjalan sepuluh kali lebih cepat dari biasanya.
Setelah resmi menyandang nama FC Rombeng, Hendri langsung menerapkan program latihan yang sukses membuat seluruh anggota skuad nyaris merangkak pulang dari lapangan. Sebagai kapten, dia tampaknya punya satu prinsip sederhana: kalau ingin menang, jangan berharap bisa mendapatkannya dengan latihan setengah hati.
Puncaknya baru terasa keesokan paginya.
Grup WhatsApp FC Rombeng mendadak dibanjiri pesan ratapan penuh penderitaan.
Seperti biasa, Singit menjadi orang pertama yang membuat keributan.
Grup WhatsApp — FC Rombeng
Singit: [Mengirim foto kedua kakinya yang diolesi balsem]
Kampret lu, Kap! Paha belakang gue rasanya pindah ke betis. Jalan aja sekarang kayak nggak punya tulang.
Tak lama kemudian, muncul pesan suara dari Kampleng.
Kampleng (voice note):
Mas Hendri... aku udah nggak kuat, Mas. Badan rasanya remuk semua. Buat berdiri aja kaki aku gemetar kayak jeli, Mas. Ini latihan apa mau mengirim kita ke selat Ukraina?
Gue yang sedang selonjoran di kamar cuma bisa nyengir membaca dan mendengarkan keluhan mereka.
Belum sempat membalas, Rangga ikut nimbrung.
Rangga: Gila, sumpah. Ternyata jadi wing-back yang harus lari naik-turun itu siksaan mental dan fisik. Besok-besok gue pakai sepatu biasa aja. Percuma sepatu mahal kalau badan remuk begini.
Hendri: Banyak komentar. Jangan lupa stretching dan pemulihan. Minggu depan kita sudah masuk turnamen, jadi jangan ada yang malas latihan.
Singit: Kapten kita memang nggak punya hati.
Hendri: Kalau masih punya tenaga buat protes, berarti latihan kemarin kurang keras.
Gue spontan tertawa.
Kasihan. Kapten kita ternyata lebih kejam daripada dosen pembimbing.
Badan gue sendiri sebenarnya nggak jauh berbeda. Paha dan betis masih terasa pegal akibat latihan intensif kemarin sore, terutama setelah beberapa kali harus beradu fisik dengan Hendri dalam simulasi pertandingan.
Tapi di tengah rasa linu massal itu, dunia nyata tetap berjalan.
Malam harinya, Rara datang ke rumah gue sambil membawa sebungkus ketoprak.
Belum sempat gue keluar kamar untuk menyambutnya, suara emak sudah lebih dulu terdengar dari ruang tamu.
"Eh, calon mantu dateng!"
Gue langsung menoleh ke arah pintu kamar.
Waduh. Emak kalau sudah mulai begitu, biasanya nggak ada yang bisa menghentikan mulutnya.
"Main, Neng! Tuh si Engky ada di dalem. Masuk aje, Neng. Jangan malu-malu nape!"
"Aduh, Tante..." terdengar suara Rara, sedikit malu. "Saya cuma mau nengok Engky."
"Masuk aje nape! Orang rumeh sendiri kok malu-malu."
Rumah sendiri apanya, Mak? Itu masih pacar gue, belum resmi jadi anggota keluarga.
Beberapa detik kemudian, Rara muncul di ambang pintu kamar sambil membawa bungkusan ketoprak.
"Engky, kamu lagi apa?"
Gue yang sedang selonjoran langsung berusaha duduk lebih tegak.
"Ini, lagi menikmati penderitaan setelah latihan."
Rara meletakkan bungkusan makanan di meja, lalu memperhatikan gue dari ujung kepala sampai kaki.
"Katanya mau jadi pemain profesional. Masa baru latihan sehari udah kayak korban perang?"
"Ini namanya proses pembentukan atlet, Sayang."
"Pembentukan atlet atau pembentukan tukang tidur?"
Rara menggeleng sambil membuka bungkusan ketoprak.
"Nih, makan dulu. Aku bawain buat kamu."
Gue langsung melirik makanan itu.
"Wah, ketoprak! Tumben perhatian banget."
"Memangnya biasanya aku nggak perhatian?"
"Perhatian, sih. Cuma biasanya perhatian kamu disertai ancaman."
Rara mendengus, tetapi sudut bibirnya terlihat menahan senyum.
Setelah gue mulai makan, dia mengeluarkan sebuah catatan kecil dari tasnya. Isinya beberapa hal yang perlu gue perhatikan untuk mengerjakan Bab Dua skripsi.
"Jangan lupa, ya. Kamu boleh latihan, tapi kuliah tetap jalan."
"Iya, Bu Dosen."
Rara tersenyum tipis.
"Satu lagi. Jangan sampai cedera. Aku nggak mau nanti kamu malah nggak bisa jalan gara-gara terlalu semangat."