Pertandingan uji coba di lapangan Kampung Ciputat itu benar-benar berubah menjadi ujian mental sekaligus ketahanan fisik yang enggak main-main.
Sejak insiden Kampleng yang dihajar tekel keras Bang Jefri di menit-menit awal, permainan langsung dikuasai para veteran Ciputat. Serangan demi serangan datang silih berganti, membuat lini pertahanan FC Rombeng harus bekerja ekstra keras.
Beberapa kali gawang yang dijaga Jujun nyaris kebobolan. Setiap kali para bapak-bapak brewokan itu melepaskan tendangan keras dari luar kotak penalti, jantung kami rasanya ikut terlempar ke depan gawang.
Untungnya, kami masih punya dua pemain yang cukup bisa diandalkan untuk menjaga pertahanan: Hendri dan Rangga.
Hendri tampil tanpa kompromi. Dia berkali-kali berhasil membaca arah bola, memotong umpan lawan, dan melakukan tekel bersih untuk menghentikan serangan sebelum semakin berbahaya.
Sementara itu, Rangga yang awalnya gue kira bakal lebih sibuk menjaga penampilan borjunya daripada menjaga pertahanan, justru menunjukkan kemampuan yang cukup mengejutkan. Dia beberapa kali berlari turun membantu Hendri, bahkan sempat melakukan overlap untuk menutup ruang gerak pemain sayap lawan.
Ternyata, anak sultan itu bukan cuma jago mengoleksi sepatu bola mahal.
Berkat kerja keras keduanya, gawang Jujun masih berhasil kami selamatkan.
Meski terus ditekan, FC Rombeng bukannya sama sekali nggak punya perlawanan.
Salah satu peluang terbaik kami datang ketika Kampleng berhasil memotong umpan lawan di sisi kiri. Dengan percaya diri, dia melewati seorang gelandang, lalu mengirimkan umpan lambung ke arah kotak penalti.
Singit mencoba menyambut bola dengan tendangan akrobatik. Namun, bukannya mengarah ke gawang, bola malah melambung tipis di atas mistar.
Dia langsung menjambak rambutnya sendiri.
"ARRRGHH! YA GUSTI, KENAPA HARUS DI ATAS MISTAR?!"
Gue cuma bisa menggeleng sambil menahan tawa. Peluang sebagus itu malah berakhir dengan pertunjukan akrobatik yang nggak menghasilkan apa-apa.
Namun, keberuntungan akhirnya berpihak kepada FC Rombeng menjelang akhir babak pertama.
Saat mencoba membangun serangan dari tengah, gue berhasil merebut bola dari kaki salah satu pemain lawan. Baru beberapa langkah membawa bola, tiba-tiba sebuah tekel keras datang dari belakang dan membuat tubuh gue terempas tepat di luar kotak penalti.
Prittt!
Wasit lokal yang sejak tadi memimpin pertandingan langsung meniup peluit. Tanpa banyak pertimbangan, dia menunjuk titik pelanggaran yang posisinya cukup strategis di depan kotak penalti.
"Tendangan bebas yang bagus!" teriak Singit dari kejauhan.
Gue bangkit sambil membersihkan debu yang menempel di celana. Sementara itu, Rahmat sudah berjalan memegang bola.
Tanpa banyak bicara, dia meletakkan si kulit bundar di tempat yang ditunjuk wasit. Setelah memastikan jaraknya, Rahmat mundur beberapa langkah dan mengambil napas panjang.
Gue tahu dia punya kemampuan mengeksekusi bola mati. Tapi melihat posisi tendangan bebas kali ini, gue juga nggak mau berharap terlalu tinggi.
Begitu peluit dibunyikan, Rahmat mengambil ancang-ancang dan melepaskan tendangan melengkung.
Bola meluncur melewati pagar hidup, berbelok tajam, lalu menghujam pojok kanan atas gawang.
Kiper veteran Ciputat hanya bisa melompat tanpa hasil.
GOL!
"YESSS!"
Gue langsung berlari menghampiri Rahmat dan memeluknya. Anak-anak FC Rombeng yang lain ikut berhamburan merayakan gol tersebut.
Singit bahkan berlari sambil mengangkat kedua tangannya, seolah-olah dia sendiri yang baru saja mencetak gol penentu kemenangan di final World Cup.
Nggak lama setelah itu, wasit meniup peluit panjang tanda berakhirnya babak pertama.
Skor sementara: 1-0 untuk keunggulan FC Rombeng!