Penjaga Ambang - Ketika Pintu Antara 2 Dunia Terbuka

Mohammad Riza
Chapter #1

Bab 1: Ketika Dunia Masih "Normal"

Juli 2025 | 11 tahun lalu

Udara di ruang penelitian bawah tanah ini terasa dingin. Bukan dingin biasa dari embusan AC, tapi dingin yang gigitannya meresap hingga ke tulang.

Ruangan steril ini penuh peralatan canggih. Di tengah ruangan, terpasang struktur aparatus modern yang mereka rancang sendiri—jajaran rak besi, untaian kabel tebal, layar monitor, serta berbagai jenis sensor yang berkedip teratur.

Dr. Bima Kusuma yang kini menginjak usia tiga puluh delapan tahun, berdiri di panel kontrol bersama rekannya, Dr. Rahman Wijaya. Keduanya memandang pusat dari aparatus tersebut. Sebuah kristal dengan ukuran jauh lebih kecil, bercahaya biru elektrik dengan pola yang berkilauan, bertengger dalam kompartemen khusus berkaca tebal dengan suspensi elektromagnetik.

Kristal tersebut tidak lebih besar dari kepalan anak bayi, namun usianya jauh lebih tua dari yang dibayangkan orang. Artefak yang dikatakan berusia kurang lebih dua ribu lima ratus tahun, diserahkan kepada mereka tiga tahun lalu setelah ditemukan tim survei arkeologi di sebuah reruntuhan kuno.

"Ayo, Bim. Kita sudah hitung semua variabel. Ini saatnya." Rahman berkata dengan nada bergetar saking semangatnya.

"Kita yakin resonansinya stabil? Kalau frekuensinya geser sedikit saja ...." Bima masih mencoba berhati-hati.

"Percaya pada kalkulasi kita. Percaya pada mimpi kita."

Tiga tahun. Tiga tahun sejak resonator diamanahkan kepada mereka.

Tangan Bima bergetar di atas tombol aktivasi. Kegugupan terlihat jelas pada gestur tubuhnya. Tiga tahun mereka mempelajari artefak ini. Ribuan jam menganalisis, membaca terjemahan inskripsi, membangun aparatus ini. Dan sekarang ... sekarang mereka akan membuktikannya.

"Kamu yakin?" Untuk pertama kalinya, suara Rahman justru terdengar tidak pasti.

Bima melirik layar monitoring terakhir kali. Semua parameter hijau. Protokol keamanan aktif. Emergency shutdown siap. Sekilas terlihat refleksi dari Rahman, dengan wajah cemas yang sama dan tangan bergetar yang sama.

"Tidak ada yang pasti dalam sains." Bima berkata pelan. "Catat waktunya Man. Bismillahirrahmaanirrahiim ...." sambil menarik napas dalam-dalam.

"Tepat pukul 19.33."

Bima menekan tombol. Kristal itu bergetar, memicu suara dengung rendah—‚wuung'. Udara di depan kristal mulai berubah dan bergerak. Seperti panas di atas aspal, tapi lebih intens. Kristal mulai memancarkan cahaya biru—tapi bukan biru yang pernah mereka lihat sebelumnya. Bukan biru langit, bukan biru laut, bukan biru layar ponsel.

Bima dan Rahman secara refleks mengerjapkan mata mereka setelah menatap cahaya kristal tersebut.

"Arrgh ...!" Bima memalingkan mukanya.

"Cahaya macam apa ini?" ujar Rahman sambil mengusap matanya yang mulai berair.

Tiba-tiba, retakan kecil. Bukan di aparatus, bukan di dinding, tapi di udara. Seperti gelas retak, tapi terjadi di ruang kosong itu sendiri, tepat di hadapan mereka. Dengan lebar hanya sekitar dua puluh sentimeter.

Kedua ilmuwan terdiam. Ini bekerja. Ini BEKERJA.

"Masya Allaah ... kita ... kita benar-benar membukanya." Bima berbisik saking terpesona dengan pemandangan di hadapannya.

Melalui celah tersebut mereka melihatnya, sekelebat dimensi lain. Bentangan alam aneh yang seakan vertikal dan horizontal secara bersamaan, cahaya asing, bentuk-bentuk yang tidak masuk akal untuk mata manusia.

Kedua ilmuwan sempat terdiam total. Dada bergemuruh.

"Tiga tahun kita merangkak di kegelapan laboratorium ini, Bim. Dan sekarang?" Rahman nyaris terisak.

"Tahan dulu," sergah Bima. "Segera ukur pancaran energinya."

Rahman segera tegak kembali. Dia mengetik beberapa perintah pada panel kontrol, lalu membawa alat kecil mendekati celah dimensi tadi.

"Mulai terbaca, Bim."

Lihat selengkapnya