Penjaga Ambang - Ketika Pintu Antara 2 Dunia Terbuka

Mohammad Riza
Chapter #2

Bab 2: Pagi Hari di Sindang Jaya

Sudah tiga hari berlalu sejak gempa aneh tersebut, dan Sindang Jaya telah kembali normal. Setidaknya ... tampak normal.

Di hari Jumat pagi, suasana rumah besar itu sudah sibuk. Dinda duduk di meja makan, menyantap potongan pepaya dan melon dari mangkuk kaca, sambil merapikan hijabnya. Sementara itu, terlihat ayahnya sedang bersiap untuk bergegas menuju ke rumah sakit.

"Maaf ya sayang, hari ini Papa ga bisa anter ke sekolah," ucap ayah Dinda sambil memakai sepatu. Ibu Dinda membantu merapikan tas kerja ayahnya.

"It's okay, Pa. Sudah jadi tugas Papa kan. Dinda bisa bareng temen-temen nanti." Dinda sudah mafhum dengan kesibukan ayahnya sebagai dokter spesialis bedah. Ini bukan pertama kalinya ada panggilan mendadak dari rumah sakit.

Dinda Ardelia Kartika adalah anak dari Dokter Agung dan Bu Ratna. Ia merupakan teman seangkatan Adit dan Riko, sekelompok remaja yang kini sama-sama berjuang melewati tahun kedua di SMA Sindang Jaya.

Dinda tersenyum tipis saat melihat ayahnya, karena hampir semua warga Sindang Jaya mengenal ayahnya.

"Ada yang bisa Dinda bantu, Mah?" tanya Dinda sambil beranjak dari meja makan.

"Ga perlu, sayang. Kamu siap-siap aja ke sekolah. Habisin ya buahnya," jawab ibunya tanpa menengok.

Dinda memutuskan untuk menelepon Arkan.

Ia menekan nomor Arkan dari jam tangannya, smartwatch generasi kelima. Meski sinyal proyeksi masih sering glitch di area pinggiran Sindang Jaya, Dinda beruntung tinggal di pusat kota dengan tower 6G yang stabil.

Nada sambung terdengar. "Hai, Dinda. Pagi amat nelpon," suara Arkan terdengar bersamaan dengan munculnya tampilan proyeksi holografik di atas pergelangan tangan Dinda.

"Pagi, Arkaaan. Maap ya. Nanti lo lewat depan rumah gue kan. Bareng ya ...."

"Oh ga dianter lagi hari ini, " ujar Arkan sambil terlihat mengangguk dalam proyeksi dengan latar belakang biru itu. "Oke, paham. Paling sepuluh menitan lagi gua jalan ya."

"Sip, thank you ya," ucap Dinda menutup percakapan.

Dinda menghabiskan sarapan buahnya lalu membawa mangkuknya ke cucian dapur. Melalui jendela dapur, di antara sinar matahari pagi yang menembus, dia bisa melihat kabut pagi yang tipis-tipis menyelimuti langit kota kecil ini. Jumat ini adalah jadwalnya: kemping dengan geng.

Ayah Dinda pamit untuk berangkat kerja. Dinda mencium tangan ayahnya dan mengantar hingga ke mobil.

Tak lama, bel pintu berbunyi, "Assalamu'alaikum, Dindaaa." Suara khas Arkan yang ceria terdengar dari intercom. "Wa'alaikumussalam warahmatullah." Dinda segera pamit ke ibunya, mengambil helm sepeda, dan membuka pintu pagar.

"Hati-hati ya nak Arkan," pesan Bu Ratna saat mengantar.

"Siap Tante," jawab Arkan cepat. "Om Agung emergency lagi ya?"

"Iya ada kecelakaan beruntun katanya," jelas Bu Ratna.

"Dokter Agung emang diandelin banget ya. Mamaku selalu bilang, tangan Dokter Agung itu ajaib," puji Arkan.

Dinda langsung menatap tajam. "Ga usah mulai pemujaan lagi deh."

Arkan tertawa. "Ahaha, tapi beneran semua bilang ...."

" ... kami beruntung Dokter Agung pindah ke sini." Dinda memotong dengan nada sarkas, sebelum Arkan menyelesaikan. "Iya tau. Hampir tiap pertemuan, pasti gue disebut sebagai ANAK DOKTER AGUNG," lanjutnya sambil menggoyangkepalanya dengan bercanda.

"Sudah sudah, malah berantem di sini." Bu Ratna tertawa kecil melihat interaksi anak-anak itu. "Ngomong-ngomong. Kamu juga siap untuk kemping nanti malam?" tanya Bu Ratna lagi kepada Arkan.

"Eh? Kemping? O iyaaaa ... malam ini ya?" Untuk kali ini suara Arkan berubah panik.

"Arkaaan!" Dinda sedikit berteriak sambil melompat ke sadel penumpang. "Kan kita udah janjian lama buat acara ini." Helaan napas Dinda terdengar berat.

Senyum lembut masih menghiasi wajah Bu Ratna. Anak-anak ini sudah sering berkumpul di rumah beliau, sehingga Bu Ratna paham bahwa acara outdoor seperti ini bukan kesukaan Arkan. "Ya sudah," ujar Bu Ratna dengan nada panjang. "Kalian diskusi sambil jalan aja. Nanti terlambat sekolah. Arkan ga perlu memaksakan ikut kok. Tante yakin kalian akan tetap berteman baik."

"Assalamu'alaikum. Berangkat yaa." Dinda dan Arkan pamit hampir berbarengan.

Lihat selengkapnya