Penjaga Ambang - Ketika Pintu Antara 2 Dunia Terbuka

Mohammad Riza
Chapter #3

Bab 3: Memanggil Nama yang Salah

Agustus 2027 | 9 tahun lalu

Suara langkah kaki terdengar pelan dan hati-hati menyusuri lorong dan tangga sepi di tengah malam itu. Setiap beberapa meter, langkah itu berhenti. Memberi waktu untuk mendengarkan dan memperhatikan sekitar.

Ketika sampai di depan sebuah pintu, pemilik langkah itu merogoh saku bajunya untuk mengeluarkan sebuah kartu kecil. Setelah menempelkan kartu pada mesin, dia menekan beberapa tombol angka untuk membuka celah pemindai sidik jari. Orang tersebut meletakkan jempolnya pada celah pemindai, diikuti dengan suara yang sudah terprogram. "Welcome Doctor Bima. You are authorized to enter."

Doktor Bima segera memasuki pintu yang otomatis terbuka dan berusaha menutupnya lagi dengan cepat.

Walaupun ia sadar bahwa ini tengah malam dan tidak ada orang yang hadir, namun kewaspadaannya tidak kendur. Udara dingin pun tidak bisa mencegah keringat yang mengucur di dahinya.

Dengan tangan bergetar, Doktor Bima membuka beberapa file dalam komputer mainframe. File penelitian sukarelawan batch 01-07. Data resonansi dimensional. Beberapa video dokumentasi.

Matanya berkaca-kaca ketika ia mengetik beberapa perintah penghapusan. Di pikirannya berkelebat kenangan semua kerja keras yang dilakukan lebih dari lima tahun terakhir. Pahit manis dan naik turun sudah dialaminya dalam proyek ini.

Air matanya tak kuasa tertahan saat akhirnya doktor Bima mengeksekusi perintah yang dia buat sebelumnya. "Ini yang terbaik. Tidak ada lagi yang harus jadi korban."

Tiba-tiba terdengar suara kartu terbaca oleh mesin dan suara tombol ditekan. Ada yang datang ....

-----

Oktober 2036 | saat ini

"Assalamu'alaikum ...." Adit pulang dari shalat 'Ashar di masjid dekat rumah. "Wa'alaikumussalam warahmatullah ...." jawab Bu Dita, mama dari Adit.

"Perlengkapan kamu sudah siap semua, nak? Ada yang lupa ga?"

"Siap kok, Mah. Adit udah nyicil nyiapin dari dua hari yang lalu."

Bu Dita tersenyum getir. Senyum yang selalu muncul tiap kali Adit mempersiapkan sesuatu sendiri. Adit memang sudah terbiasa mandiri sejak kecil. Lebih tepatnya, sudah dipaksa terbiasa mandiri, sejak kematian mendadak ayahnya.

"Riko nanti jemput kan?" tanya Bu Dita memastikan. "Iya, Mah. Dia bilang berangkat ba'da 'Ashar dari rumah," jawab Adit.

Memang begitulah Riko. Ibunda Adit itu selalu ingat bagaimana Riko yang pertama kali menghibur Adit setelah tragedi itu. Walaupun dari keluarga yang sangat sederhana, Riko selalu berbagi dengan Adit. Karena itulah Bu Dita sayang pada Riko seperti anak sendiri dan ia pun dekat dengan Ibunda Riko seperti keluarga.

Bu Dita merapikan tas Adit. "Eh, Mama lupa. Hari ini kalian ke daerah mana?"

"Kali ini ga terlalu jauh dari Sindang Jaya, Mah. Ke hutan pinggir kota," jelas Adit.

"Hutan kan luas. Sebelah mana kempingnya?"

"Nanti pinggir sungai. Disana ada reruntuhan gedung tua itu. Nah, dekat situ kata Kak Maya ada tanah lapang yang enak buat diriin tenda."

Bu Dita terdiam, ia merasa mengingat sesuatu. Sekelebat memori datang ketika mendengar reruntuhan gedung tua dekat sungai disebut. Namun kepalanya tiba-tiba sakit. Ketika Bu Dita berusaha memperjelas memori itu, semakin sakit juga kepalanya.

Adit bergegas mendekat panik. "EH. MAMA. Kenapa mah? Mama ga apa-apa?"

"Ga apa, nak. Tadi pusing sedikit. Tolong ambilin minum di meja."

Adit segera mengambil segelas air dan menyerahkan ke ibunya. "Kalau mama sakit, lebih baik Adit di rumah aja."

"Ish sakit apa sih. Pusing biasa. Ini habis minum sudah seger lagi."

"Tapi mah ..."

Omongan Adit terpotong. "Assalamu'alaikum. Adiiit." Suara Riko terdengar di luar.

"Wa'alaikumussalam warahmatullah," jawab penghuni rumah bersamaan.

"Tuh Riko sudah datang," tukas Bu Dita. "Cepet siap-siap kamu."

Bu Dita segera memakai bergo dengan rapi sebelum mempersilakan Riko masuk.

"Assalamu'alaikum, Mama," ucap Riko dengan khidmat. "Wa'alaikumussalam warahmatullah," jawab Bu Dita.

"Eh, Mama sakit? Kok pucat?" tanya Riko yang memperhatikan raut wajah Bu Dita.

"Mama ga kenapa-kenapa. Tadi sempet pusing kecapekan, kemarin ngajar pelajaran tambahan."

Lihat selengkapnya