Penjaga Ambang - Ketika Pintu Antara 2 Dunia Terbuka

Mohammad Riza
Chapter #4

Bab 4: Yang Terbuka di Tanah Lapang

Canda dan tawa keenam anak muda tersebut terdengar riuh dalam angkot yang mereka naiki. Riko duduk di bangku kecil dekat pintu. Bagian depan rambut ikalnya terlihat melambai karena tertiup angin. Tepat di sampingnya adalah Maya yang sedang ngobrol serius dengan Fajar. Arkan sesekali melihat ponselnya, mencuri waktu melanjutkan permainan game. Mereka sudah siap menikmati liburannya dengan bermain di alam.

Sekitar sepuluh menit kemudian, mereka turun di perbatasan Sindang Jaya, hanya beberapa ratus meter sebelum memasuki hutan. Dari situ mereka harus melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki hingga lokasi berkemah.

Beberapa warung makan mereka lewati sepanjang jalan sebelum memasuki hutan. Tampaknya tidak terlalu ramai pengunjung pada hari itu. Sesekali kicau burung terdengar dari hutan. Ada pula dua ekor kucing yang berkejaran, entah memperebutkan apa.

Di depan sebuah warung soto mie, terlihat seorang ibu berhijab dengan daster panjang ungu, sedang menyapu halaman dengan sapu lidi. Membersihkan daun-daun kering yang berguguran terkena angin sore.

Ketika keenam anak itu melewatinya, ibu itu spontan menengok. "Eh, ini nak Adit ya? Adit kan?" tanyanya tiba-tiba.

Adit tersentak, Riko ikut menengok. "Ibu kenal saya?"

"Bener nak Adit. Waaah udah gede bener kamu."

"Mmmh, maaf Ibu. Saya ga inget. Pernah ketemu dimana ya?" Adit membetulkan posisi carrier-nya dengan gugup.

"Dulu Profesor Bima kan sering makan di tempat ibu. Nah pernah sekali bawa kamu ikut makan di sini."

Deg.. Dada Adit berdegup tiba-tiba. Tadi Mamanya sempat menyebut ayahnya, sekarang Ibu ini juga. Dalam satu hari yang sama. Ada apa ini?

"Oooh ... Doktor Bima langganan makan di tempat Ibu?" Fajar coba mencairkan. "Enak ni pasti sotonya."

"Ya kan memang beliau dan teman-teman profesornya hampir tiap hari ke hutan itu. Kerjaannya di dalam sana. Dulu enak masih ada jalan setapak yang lapang." Suara ibu itu mulai memelan. "Sampai tragedi itu ...."

Dinda yang merasakan kecanggungan, berinisiatif menyela. "Eh, maaf guys. Kalau ga jalan sekarang, bisa-bisa kita nyampe udah gelap loh."

"Oh, iya bener. Ayok guys jalan lagi." Maya mengarahkan teman-temannya.

"Kami permisi ya bu," pamit Adit. "Assalamu'alaikum."

"Wa'alaikumussalam warahmatullah. Hati-hati ya kalian nak. Jangan memaksakan diri."

Akhirnya mereka melanjutkan.

Tepat di pinggir hutan, Dinda mengeluarkan GPS. "Tadi Arkan udah set GPS gue sesuai lokasi yang dijelaskan kak Maya. Lokasi kemping kita kurang lebih cuma dua kilometer kok dari sini. Kalau jalan santai, kira-kira setengah jam Insya Allah sampe."

"Oke. Kita mulai." Maya memimpin jalan. "Stay close ya guys."

Anak-anak itu mulai memasuki hutan dengan yakin. Di belakang mereka, sang ibu penjaga warung soto tadi masih memperhatikan.

Tanpa ada yang menyadari, ada sepasang mata lagi yang juga ikut memperhatikan. Di balik jendela sebuah toko kelontong, seseorang melihat kepergian mereka, dengan wajah khawatir ....

-----

"Astaghfirullah!"

Dinda menyebut istighfar ketika kakinya terpeleset batu yang licin. Maya menopang lengannya, tepat ketika Dinda hampir jatuh.

"Pelan-pelan aja, Din. Kan jalan santai." Maya mengingatkan.

"Iya makasih, Kak."

Sebagai navigator, Dinda berjalan di baris depan. Diikuti Maya, yang selalu mengambil peran penjaga dengan badan atletis dan kemampuan bela dirinya.

"Aduuuh. Belum juga gelap, udah digigitin nyamuk." keluh Arkan sambil menepuk kulit tangan dan pipinya. Setelah itu matanya melirik Adit yang ada di sampingnya.

"Mmmm, Dit." Arkan merapikan topinya. "Almarhum bokap lu dulu sempat kerja di sini?"

Lihat selengkapnya