"Hmm, maaf Dit. Ini tempat kerja almarhum bokap?"
Pertanyaan Fajar menggantung tanpa jawaban.
Di kepala Adit berkelebat bayangan-bayangan. Pintu kaca gedung itu yang sekarang rusak dan pecah, tergambarkan sebagai sebuah pintu utuh dalam kepalanya.
Dinda mengajak Adit duduk terlebih dahulu. Riko menemani di samping Adit."Haduuuh. Ga ada yang berfungsi ini." Arkan masih panik dengan gadget-nya.
Walaupun dalam keadaan duduk, Adit merasakan dadanya berdebar. Dan sebelum pikirannya sempat memproses, kakinya sudah bergerak sendiri. Ia tiba-tiba berdiri dan kali ini setengah berlari ke arah gedung lama itu.
"DIT!" Beberapa anak menyeru bersamaan.
Namun hanya dalam beberapa lompatan, Maya berhasil menyusul dan menyetop Adit. Semua terkejut dengan spontanitas Adit.
"Oke. Mungkin ini lab almarhum bokap lu. Tapi kenapa lu mesti lari gitu?" tanya Fajar dengan sedikit kesal ketika mereka mengejar Adit dan Maya.
"G ... gua agak agak inget sesuatu." Adit mulai bersuara terbata-bata.
"Iya! Tapi bukan ujug-ujug lari sendiri kan!"
Maya memberi tanda ke Fajar dengan matanya. "Mungkin ada sesuatu yang harus Adit cari, Jar. Mungkin ada yang harus Adit pastiin." Maya bergantian memandang Fajar dan Adit.
"Tapi ga harus gegabah begitu. Ini masih gelap loh."
"Yaudah. Gini aja." Maya memberi jalan tengah. "Kita coba cek sebentar di balik pintu itu. Bareng-bareng. Saling ngawasin. Lihat situasi aja.""Liat lu langsung lari tadi, gua kirain lu kabur takut ketimpa tendanya Arkan." Riko meringis di samping Adit. Tapi kemudian nadanya berubah, "Gua temenin, Dit," ujar Riko mantap.
Adit menunduk sambil menggeleng pelan, berusaha menyembunyikan senyum tipis yang muncul di bibirnya.
Dinda menyalakan senter dari ponselnya, masih menatap raut wajah Adit."Yuks, pelan pelan aja," ajak Maya perlahan.
Fajar menghela napas berat dan menggelengkan kepala. Tapi ia ikut melangkah juga di belakang mereka.
Arkan yang masih lemas karena gempa, kini kakinya gemetar karena akan memasuki gedung seram itu. "Ini sih stereotip adegan film horor yang paling familiar," pikirnya.
Mereka berhenti di depan pintu gedung. Masing-masing mengeluarkan senter ponsel. Adit menatap pintu itu. Di kepalanya terbayang seseorang berbaju putih membukakan pintu sebelum kemudian mengajaknya masuk.
Maya dan Adit hati-hati menggeser pintu yang sudah menjadi rongsok itu. Adit melangkahkan kakinya ke dalam ketika tiba-tiba sebatang kayu dari atas terjatuh ke arah Adit. Adit yang terkejut langsung menutup mata dan menyilangkan tangan untuk melindungi kepalanya.
BRAAK!!
Dinda terperanjat dan menutup mulutnya. Fajar dan Riko bergegas maju. Pelan-pelan Adit membuka mata dan tangannya. Memeriksa kondisi badannya sendiri. Kayu itu ternyata sudah dihempaskan dengan tepisan lengan Maya sebelum mengenai Adit.
"Kan gua dah bilang." Fajar mengecek keadaan dua temannya itu.
"Makanya. Biasain ucap salam kalau masuk rumah atau gedung kosong kaya gini." Maya mendengus kepada Adit.
"I... iya, Kak. Makasih ya," ucap Adit. "Assalamu'alaikum ...."
Di balik pintu, mereka bertemu dengan ruang agak lowong, seperti sebuah lobi. Dengan meja menempel dinding ujung dan sebuah bangku rusak yang terletak dengan posisi terbalik di atas meja tersebut. Satu bangku rusak lagi ada di sudut dengan posisi membelakangi.
"Ga ada apa-apa kan?" Arkan menyahut di paling belakang.Adit ke arah kanan menuju koridor terbuka. Kali ini bayangan yang melintas di kepala Adit adalah, dia sedang digandeng seseorang melewati koridor ini.
Tak lama, suara derit kayu dan besi bergerak, terdengar dari atas. Debu pun terlihat berjatuhan.
"Dit, kayaknya udah cukup jauh. Di sana terlalu gelap. Kita ga tau kondisi bangunan tua ini abis gempa tadi. Better kita nunggu terang kalau emang mau eksplor lagi," jelas Fajar coba mencegah Adit melangkah lagi.
"Iya gue setuju. Kan Papa gue juga dah wanti-wanti. Stay in open area," tegas Dinda.
"Tapi...." Sudut mata Adit melirik belokan di ujung koridor. Lalu ia berpaling melihat teman-temannya. Riko mengangguk ke Adit.