Penjaga Ambang - Ketika Pintu Antara 2 Dunia Terbuka

Mohammad Riza
Chapter #6

Bab 6: Titik Buta yang Belum Tersentuh

Adit sudah berdiri di depan pintu gedung lab. Matanya kembali menerawang.

"Lu udah tau apa yang mau dicari, Dit?" Fajar mengingatkan.

"Sebetulnya masih samar Bang. Tapi gua kaya ada firasat."

"Firasat yang kaya gimana, Dit?" tanya Maya.

"Ya firasat kalau memang ada suatu rahasia di sini. Lalu sempat ada sekelebat memori tentang benda bersinar. Entah apa itu."

Dan yang lain pun sebetulnya penasaran dengan insiden terputusnya komunikasi pasca gempa semalam. Insiden yang ternyata kemungkinan hanya terjadi di sekitar wilayah kemping mereka.

Mereka sepakat untuk masuk dengan pelan-pelan, dengan hati-hati. Di barisan depan ada Adit ditemani Maya dan Riko. Di barisan belakang ada Fajar mendampingi Arkan dan Dinda.

"Liat-liat kali ini, Dit. Apa aja bisa terjadi kalau struktur rapuh gini. Jangan sampe gue harus tempeleng balok yang jatuh lagi."

Walaupun nadanya bercanda, Maya bermaksud serius agar semua waspada.

Mereka menelusuri jauh lebih dalam dibanding semalam. Suasana pagi hari yang terang membuat mereka lebih yakin kali ini. Setelah sampai di ujung koridor, Adit menengok kanan dan kiri, sebelum dengan mantap memilih belokan ke kanan. Maya dan Riko saling melirik, lalu menyertai Adit di belakangnya.

Adit terus melangkah dengan stabil meski dadanya bergemuruh. Memori masa kecil yang selama ini terkunci di balik trauma, kini menuntunnya melalui koridor beton yang retak. "Kita ke kiri setelah pipa di depan itu," gumam Adit pelan. Semua menyalakan senter untuk menerangi ruangan yang kini mulai tidak terjangkau cahaya matahari.

Sedikit demi sedikit, bayangan semakin banyak muncul di kepala Adit. Ornamen dan bentuk ruangan yang mulai ia kenali. Dia mengingat orang-orang berbaju putih yang hilir mudik berjalan di sini, percakapan dengan istilah-istilah rumit yang Adit tidak paham, perdebatan antara Ayah dan koleganya.

"GROAAARR!!!"

Adit tersentak dan tiba-tiba berhenti sejenak. Dia menyadari suara raungan itu bukan dari sesuatu di depannya saat ini.

"Kenapa, Dit?" Riko menghampiri.

"Hmmhh ... E ... Entah. Gua inget sesuatu yang bikin gua kaget. Tapi, suara apa itu...?"

Arkan di belakang menelan ludah. Dia mengeluarkan salah satu gadget-nya dan mulai mengotak-atik sesuatu.

Fajar mengarahkan senter ke depan, memastikan tidak ada struktur plafon yang akan runtuh. "Tetap fokus. Arkan, Dinda, jangan jauh-jauh dari gua," instruksi Fajar dengan suara rendah dan terjaga.

Mereka tiba di sebuah koridor yang memiliki dua pintu identik dengan posisi berseberangan. Adit membuka pintu sebelah kanan. Tampak seperti ruang kerja. Meja kayu besar yang sudah miring karena satu kakinya patah, bangku kerja yang sudah kehilangan semua rodanya, lemari besar dengan file yang sebagian besar terbakar.

Setelah memandang sekeliling, Adit seperti melihat tangan kecilnya sendiri yang sedang memainkan rubik di ruangan itu. Atau juga sedang menyusun kepingan puzzle.

"I ... ini ruangan kerja ayah."

Fajar menghampiri meja besar tadi dan melihat dokumen berserakan di atasnya. Beberapa map dengan warna berbeda terlihat bertumpuk dan sebagian terbuka. Arkan menghampiri untuk ikut mengecek.

Sementara Adit berkeliling ruangan, berusaha mengingat apa saja yang disimpan ayahnya di sini.

"Unlimited energy? Peradaban kuno?" Arkan bergumam dengan terkejut ketika membuka beberapa dokumen.

Yang lain mulai merubungi Arkan. Sementara itu Fajar membuka sebuah folder lusuh yang tebal dari laci dengan sobekan label bertuliskan VOLUNTEERS Batch 03-04

"A... Uh... Ini kok agak mengejutkan ya. Penelitian ayah lu, Dit," ucap Arkan dengan suara agak berat. "Hah, interdimensional portal??" dahinya berkerut.

Gestur tubuh Arkan mulai panik. "Ini sih kayaknya udah bukan urusan sepele deh guys. ANTAR DIMENSI!"

"Eh ... portal antar dimensi ya?" ucap Adit sambil memegang dahinya. Bola matanya membesar dan otot lehernya menegang.

"Mending kita keluar dan serahin ke yang berwajib aja guys. Ini bukan sesuatu yang bisa kita tanganin sendiri." Kepanikan Arkan masih berlanjut.

"Kita eksplor sedikit lagi. Adit masih nyari sesuatu." Riko coba menahan.

"Tapi ini bahaya buat KITA."

"Tapi ini penting buat ADIT!"

"Stop!" Fajar menginterupsi. Dia masih membaca isi folder tadi dengan wajah yang tegang. "Ini ... ini daftar orang."

Maya mendekat. "Hah? Daftar orang apa?"

Lihat selengkapnya