Penjaga Ambang - Ketika Pintu Antara 2 Dunia Terbuka

Mohammad Riza
Chapter #7

Bab 7: Mimpi Kita Berawal Dari Sini

Maya membuka knop pintu. CKLEK.

Pintu terbuka dengan derit perlahan. Debu masih terlihat beterbangan. Maya mengibaskan tangannya untuk melindungi mulut dan hidungnya.

Ruang terbengkalai yang serupa. Dengan meja dan kursi yang juga rusak. Namun hampir tidak ada file yang tersisa di lemari kabinet, hanya beberapa yang masih berserakan.

Mereka masuk satu per satu. Dengan penasaran, dengan waspada.

Dinda melihat sesuatu di dinding. “Guys... lihat itu deh.”

Sebuah foto yang masih tergantung. Posisinya miring, rangka pigura sisi kanan sudah patah, kaca sedikit retak. Satu-satunya benda yang terlihat personal di ruangan ini.

Foto Bima dan Rahman. Dengan paras dan postur yang masih sangat muda. Mereka berdua tersenyum lebar, terlihat bahagia. Masing-masing memegang sebuah piagam dan juga medali yang terkalung di leher. Banner di belakang bertuliskan. "Indonesian Science & Innovation Challenge 2018".

Di bawah foto ada tulisan tangan "Mimpi kita berawal dari sini. Juara ISIC 2018. B & R"

“Padahal mereka sahabat baik ya, Dit.” Suara Dinda tercekat memandang foto itu.

Adit menatap dalam. Ayahnya terlihat... bahagia. Mata berbinar. Dan senyum Om Rahman juga sangat tulus. Tangannya merangkul bahu ayahnya seperti saudara.

“Dit.” Riko menyentuh bahunya pelan. “Kita mesti fokus.”

Adit mengangguk. Matanya yang tadi sempat berkaca-kaca, dikedipkan. “Iya. Ayo kita mulai cari.”

Tanpa dilihat yang lainnya, Dinda masih memandang foto itu satu detik lebih lama.

“Kita cari lagi kaya tadi,” instruksi Maya. “Kali ini lebih teliti. Apapun yang keliatan mencurigakan.”

Mereka menyebar kembali. Entah kenapa terlihat lebih bersemangat.

Sedangkan Adit ... Adit berdiri di tengah ruangan. Matanya terpejam, mencoba merasakan suasana. Apakah dia bisa ingat sesuatu, apakah dia pernah ke ruangan ini.

Tiga menit berlalu...

Dinda berhenti di area sudut kanan belakang ruangan. Ia berjongkok tepat di belakang lemari yang telah digeser Riko dan Fajar. Tangannya meraba sesuatu di dinding, dia arahkan punggung tangannya ke titik tersebut. “Lebih dingin,” gumamnya pelan. Tipis bedanya, tapi terasa.

Guys. Kayaknya ada sesuatu di sini.”

Semua mengarah ke posisi Dinda. Ada retakan dan sekilas terlihat ada rongga di baliknya.

“Iya kayaknya gua juga reading radiasi berbeda di sini.” kata Arkan sambil membaca layarnya.

Lihat selengkapnya