Langkah kaki di luar akhirnya terdengar juga oleh anak lainnya.
Adit segera membungkus lagi kristal yang mereka temukan dan mendekapnya erat. Yang lain secara insting mengikuti langkah Adit dan merapikan semua yang mereka perlu bawa.
Maya membuka pintu dan melihat kondisi sekitar dengan hati-hati. “Mendingan kita ke arah dalam dulu. Kalau ke arah pintu masuk tadi, nanti bakal papasan dengan mereka.”
“Emang kenapa kalau sampai papasan, Kak?” Dinda bertanya-tanya.
“Perasaan gue ga enak dengan mereka,” jawab Maya sambil matanya tetap mengawasi jalan. Intuisinya mengatakan ini bukan tamu yang mereka harapkan.
Mereka jalan pelan ke dalam.
“Sebelum ujung koridor ini, ada belokan ke kanan. Ga jauh dari belokan ada semacam pantry,” Adit masih menunjukan jalan. “Mungkin kita bisa sembunyi di sana.”
Mereka makin bergegas.
Tepat sebelum mereka mencapai belokan yang dimaksud, dua orang muncul dari arah berlawanan mengenakan rompi taktikal berwarna abu-abu.
Kedua kelompok ini sama sama berhenti, sama sama tersentak.
Seorang di antara orang asing itu mendekat. “Anak-anak... Sedang apa kalian di sini? Ini bukan tempat main.” Nadanya tenang, tapi tegas.
Fajar dengan cepat memproses situasi. “Maaf, Pak. Kami semalam kemping di tanah lapang tidak jauh dari sini. Waktu gempa terjadi, kami panik dan masuk ke sini cari perlindungan. Kami ga tau ini bangunan apa.” Suaranya datar, tanpa ragu.
Salah satu dari orang tersebut, dengan postur lebih pendek dan rambut yang terpangkas rapi, memandang mereka satu per satu. "Berapa lama kalian ada di dalam sini?”
“Baru sebentar, Pak. Sebelumnya kami cuma berdiam di sekitar lobi.” Dinda menambahkan dengan nada polos.
Orang kedua yang lebih tinggi dan lebih diam sejak tadi, tidak ikut berbicara. Matanya justru yang aktif bergerak. Memperhatikan anak-anak dengan seksama.
Dan pandangannya berhenti.
Ke tangan Adit. Lebih tepatnya, ke sela-sela kain buntelan yang berada di tangan Adit. Lorong yang gelap ini tidak bisa menyembunyikan satu hal, cahaya biru tipis yang merembes tenang dari celah kain itu.
“Buntelan apa itu?”
Semua tubuh menegang dalam detik yang sama.
“Oh ini?” Arkan coba membantu sebelum sempat berpikir. “Sleeping bag. Tadi keburu-buru bungkus pas gempa, jadi ....” Suaranya agak gemetar.
Hening.
Riko melirik Arkan. Dinda melirik Arkan. Bahkan Fajar melirik Arkan.
Cahaya biru masih merembes tenang dari sela-sela kain di tangan Adit.
Arkan menelan ludah. “... ya emang sleeping bag-nya agak ... unik.”