Penjaga Ambang - Ketika Pintu Antara 2 Dunia Terbuka

Mohammad Riza
Chapter #9

Bab 9: Menuju ke Tempat Bermula

Udara terasa berbeda begitu pintu tertutup. Lebih berat dan lebih dingin. Aroma debu yang sudah lama tidak diganggu, menyengat hidung mereka.

Tangga besi yang mereka turuni berakhir di sebuah ruang yang lebih luas dari yang mereka bayangkan sebelumnya. Langit-langitnya tinggi. Di sepanjang dinding berjejer meja kontrol panjang dengan monitor-monitor yang sudah gelap, kabel-kabel tebal yang sebagian terlepas dari soketnya, dan panel-panel saklar yang kacanya sudah retak.

“Jalan terus.” Maya mengingatkan tanpa menoleh, tangannya masih sesekali menekan bahunya, berharap bisa meredakan sisa rasa nyerinya.

Ruangan di lantai ini terbuka ke segala arah. Tidak ada ruangan terpisah. Tidak ada sudut yang cukup gelap. Sepertinya memang didesain untuk memudahkan lalu lintas orang banyak.

“Kita mau lari kemana, Kak?” Dinda berbisik sambil menyalakan senter ponselnya. “Di sini ga aman kayaknya.”

“Makanya kita jalan terus,” balas Fajar.

Langkah mereka cepat, setengah berlari. Cahaya senter mereka bergerak ke segala arah, menyapu permukaan dinding dan lantai. Suara sepatu mereka bergema di ruangan setengah kosong itu—gema yang sedikit terlalu keras bagi Maya.

“Psst.” Arkan tiba-tiba berhenti.

“Arkan jalan ….” Maya hampir menegur.

“Tunggu sebentar, Kak.” Arkan tidak bergerak. Matanya terpaku ke satu titik di dinding sebelah kiri. Sebuah papan besar terpasang di sana, tertutup sebagian oleh lembar plastik transparan yang sudah menguning. Di baliknya terlihat garis-garis, angka-angka, dan kotak-kotak yang tersusun rapi.

Sebuah diagram. Besar. Masih terbaca.

Fajar segera menghampiri. Matanya cepat menyapu apa yang dilihat Arkan.

“Foto aja, Arkan,” perintah Fajar pendek.

Arkan sudah menyiapkan kamera ponselnya. Tiga kali jepretan cepat, flash dimatikan. Tangannya sedikit gemetar tapi hasilnya cukup.

“Ayo lanjut.” Fajar sudah kembali bergerak sebelum Arkan sempat cek hasil fotonya.

Mereka terus melaju. Di ujung ruangan, tersembunyi di balik deretan lemari logam yang sebagian sudah roboh, ada pintu lain. Dan di balik pintu itu, tangga lagi.

Makin ke bawah ….

Mereka sampai di ujung tangga tadi. Berhenti dan melihat sekeliling. Berbeda dengan lantai sebelumnya.

Kali ini langit-langitnya lebih rendah. Koridornya juga lebih sempit, bercabang ke kanan dan kiri. Ada pintu-pintu tertutup di sepanjang jalan, beberapa dengan kaca intip kecil di bagian atas.

“Kalau di sini mungkin bisa sembunyi,” Riko berbisik.

Maya sudah mendorong salah satu pintu yang tidak terkunci. Mereka masuk satu per satu, cepat dan senyap. Pintu ditutup pelan dari dalam.

Gelap. Mereka menyalakan senter dengan kecerahan paling rendah.

Ruangan kecil. Rak-rak logam berjejer, sebagian masih penuh dengan kotak-kotak berlabel. Meja kerja kecil di sudut. Tidak ada jendela.

Mereka berdiri berhimpit, mengatur napas. Maya terduduk.

Fajar mendekati Maya. “Bahu lu masih nyeri?”

Sadar bahwa Fajar mengetahui cederanya, Maya masih sempat tersenyum meringis. “Aman lah gitu doang. Udah ga terlalu, kok”

“Eh? Kak Maya cedera?” Dinda buru-buru ikut mendekat. “Sini aku cek dulu,” lanjutnya sambil mengeluarkan first-aid kit dari tas.

“Udah ga kerasa kok, Din,” elak Maya. “Jangan bandel ah. Kak Maya udah keren tadi ngelindungin kita. Giliran aku sekarang,” paksa Dinda.

Fajar tertawa kecil. “Lu tu May. Emang dari dulu kaya gini.”

“Diagram tadi.” Arkan menyela sambil membuka ponselnya. “Gua liat sekilas. Kayaknya itu denah fasilitas ini.”

“Sebentar.” Fajar menahan tangan Arkan. Ia mendekati pintu dan menempelkan telinganya. “Denger dulu.”

Hening. Jauh di atas mereka, terdengar samar-samar suara langkah kaki.

Lalu senyap lagi.

Riko menggeser posisinya ke samping Adit tanpa berbicara apapun.

“Kayaknya masih aman,” bisik Dinda akhirnya sambil tetap memeriksa bahu Maya di pojokan.

Fajar mengangguk ke Arkan. “Okeh, Arkan.”

Arkan membuka foto diagram tadi. Yang lain merubunginya dengan senter Fajar diarahkan ke layar.

“Ini denah B1,” ucap Arkan ketika menunjuk bagian atas diagram. “Ruang kontrol utama, ruang server, ruang penyimpanan.”

Jarinya bergeser. “Ini B2. Ada beberapa lab kecil, ruang observasi, dan …” Arkan terdiam sejenak.

“Dan apa?” Maya mendekat.

“Ruangan yang di sini,” tunjuk Arkan. “Labelnya tertulis Containment Area.”

Tidak ada yang langsung merespons.

"Dan B3," lanjut Arkan dengan suara yang makin pelan. "Cuma ada satu ruangan besar di sana. Labelnya Core Lab."

Adit menatap layar itu nyaris tanpa berkedip. Core Lab. Sesuatu di dadanya berdenyut aneh.

Di luar ruangan, koridor masih sepi.

“Gue mau cek sesuatu,” Maya bergerak menuju keluar.

Lihat selengkapnya