Tangan Adit menyentuh panel di depan pintu lab itu. Terasa logamnya yang dingin.
Cahaya biru dari balik buntelan sempat berkedip sekali. Sangat cepat.
KLIK.
Pintu terbuka.
Udara dari dalam menyambut mereka seperti napas yang sudah lama tertahan. Lebih dingin dibanding hawa di koridor. Hidung mereka menghirup pekatnya bau logam, karat, dan debu. Beserta aroma lainnya yang tidak bisa mereka namai.
Mereka masuk satu per satu.
Ruangan ini berbeda dari semua yang mereka lewati di atas. Lebih terawat, seakan waktu berhenti lebih lambat di sini. Di tengah ruangan berdiri struktur aparatus yang masih kokoh meski berkarat di beberapa titik. Rak besi, kabel-kabel tebal yang sebagian terurai dari soketnya, layar monitor yang gelap, sensor-sensor yang tergantung tidak pada tempatnya. Di pusat struktur itu, sebuah kompartemen berkaca tebal.
Kosong.
Adit menatap tajam struktur tersebut. Lalu tertuju ke kompartemen kacanya di tengah. Lalu pandangannya beralih lagi ke buntelan yang dibawanya. Bergantian, coba menganalisa semuanya.
“Eh ini ….” Arkan berbisik. Matanya menyapu seluruh ruangan dengan tidak percaya. “Kayaknya ini yang tertulis di dokumen-dokumen tadi."
Fajar tidak menjawab. Matanya bergerak ke panel kontrol di dinding. Panel itu masih menyala redup. “Panel tadi masih berfungsi ya?” gumamnya pelan.
Arkan dan Adit sama-sama mendekat ke arah mesin besar tersebut, walaupun dengan alasan berbeda.
“Wuih … Ini suspense elektromagnetik kayaknya ya?” seru Arkan ketika mengamati pusat aparatus. “Dan kaca setebel ini, laminated insulated glass. Tapi lebih tebel dari umumnya yang gua tau,” lanjutnya masih dalam mode kagum.
Maya tidak merespons. Matanya ke arah pintu.
Terlambat. Mereka terlena.
Tiga orang masuk dari pintu yang baru saja mereka lewati. Dua lagi muncul dari arah yang terlewatkan di peta Arkan. Pintu kedua, tersembunyi di balik rak besi di sudut kanan ruangan. Itulah kenapa tadi mereka bisa berpapasan dari arah yang berlawanan.
Lima orang. Mengepung dari dua arah.
Maya bergerak maju satu langkah. Tubuhnya digerakkan lebih dulu oleh instingnya yang terlatih.
Tapi salah satu dari mereka sudah mengantisipasinya. Dia sigap mengeluarkan sebuah benda dari sabuknya—sebuah taser.
“Jangan terburu-buru ….” ujarnya sambil menyalakan taser tersebut.
Dan dia tidak mengarahkan senjatanya ke Maya. Tapi ke seorang yang posisinya paling terisolasi di dekat rak besi, jauh dari yang lain. Dinda ….
Fajar melihat itu. Tangannya bergerak ke bahu Maya, berusaha menahannya.
Maya meringis ketika tekanan itu mendarat tepat di bahunya yang baru saja dirawat Dinda. Matanya refleks melihat ke Dinda, lalu ke taser, lalu ke arah empat orang musuh lainnya. Keningnya berkerut.
Dengan anggukan lemah ke arah Fajar, Maya mengendurkan tangannya.
“Duduk dulu yuk, adik-adik.” Perintahnya sendiri tidak keras, tapi situasinya jelas tidak menyisakan ruang untuk saling tawar.
Mereka duduk di lantai, punggung menempel dinding. Tali plastik diikatkan dengan ketat ke pergelangan tangan mereka masing-masing.
Arkan dan Dinda melirik ke arah Maya. Fajar memberi tanda dengan gelengan kecil.
Seorang dari tim kemudian memakai masker dan sarung tangan yang terlihat sangat tebal, sembari mendekati Adit. Ia mengambil buntelan yang sejak tadi dipertahankan oleh Adit.
Orang itu mengambil dengan sangat hati-hati, seakan sudah tahu betul apa yang ada di dalamnya.
“Maaf anak-anak.” Orang yang memimpin berbicara, dengan nada tenang yang sama. “Kalian tidak akan disakiti. Ini bukan tentang kalian.”
Dia kemudian mengeluarkan perangkat komunikasi. Mengetik sesuatu singkat. Perangkat kemudian terhubung dengan pihak di sebelah sana.
“Prof. Kami di Core Lab. Kristal sudah diamankan.” Ia berhenti sejenak. “Dan putranya Bima ada di sini.”
Hening dari layar selama dua detik.