"Proses pembukaan ambang ... dimulai."
Kristal berdenyut.
Cahaya birunya menguat perlahan, mengisi kompartemen berkaca, merembes keluar melalui celah-celah kecil yang tidak bisa ditutup sepenuhnya. Dengung frekuensi rendah kembali hadir—dengung yang sudah mereka kenal. Yang membuat gigi ngilu. Yang pertama kali mereka rasakan tiga hari lalu di tanah lapang, lalu lagi di malam kemping.
Udara di depan kristal mulai berubah dan bergerak. Seperti panas di atas aspal, tapi lebih intens.
"Subhanallah ...." Dinda berbisik tanpa sadar.
Lalu muncul retakan. Bukan di dinding, bukan di lantai, tapi di udara itu sendiri. Seperti permukaan kaca yang retak dari dalam, dimulai dari satu titik lalu menjalar ke segala arah. Lebar awalnya hanya sejengkal, tapi terus melebar dengan dengung yang makin tinggi.
Cahaya yang keluar dari celah itu bukan cahaya normal. Bukan putih, bukan kuning. Sesuatu yang asing, warna yang tidak seharusnya ada, yang mata manusia tidak punya nama untuknya.
Di balik celah itu, sepersekian detik saja, mereka bisa melihat. Bentangan yang tidak masuk akal. Vertikal dan horizontal sekaligus. Bentuk-bentuk yang tidak punya referensi di dunia ini.
Ambang akhirnya terbuka kembali.
Rahman di layar membungkuk ke depan. Matanya memantulkan cahaya biru dari kristal. Wajahnya—untuk pertama kalinya sejak tampilan itu menyala—menampilkan sesuatu yang murni. Bukan seperti ambisi.
Tapi lebih seperti kerinduan.
"Bim ...." bisiknya, sangat pelan. "Kita berhasil lagi."
Tidak ada yang mendengar kecuali Adit.
Napas Adit mulai memburu, dadanya turun naik. Sesuatu yang selama ini terkunci rapat sejak usia tujuh tahun, sedikit retak. Bukan karena marah. Tapi karena mendengar nama ayahnya diucapkan dengan kerinduan yang tulus oleh orang yang ia tidak tahu harus ia benci atau tidak.
-----
Di tengah situasi terbukanya ambang yang menarik perhatian semua di sana, Maya berdiri perlahan. Tanpa suara.
Riko yang duduk paling dekat dengannya menyadari pertama. Adit setengah detik kemudian.
Maya memberi tanda dengan telunjuknya. Jangan bergerak dulu.
Tim Rahman terlalu fokus ke aparatus. Layar Rahman terlalu fokus ke ambang yang terbuka. Hanya satu orang yang berjaga mengawasi anak-anak—dan orang itu sedang berbalik, matanya tertarik ke celah cahaya yang terus melebar.
Maya bergerak.
Dengan berjinjit perlahan, ia melangkah ke orang yang berjaga tadi. Satu gerakan cepat, tangan kanan menutup mulut, siku kiri menghantam tengkuk. Cukup untuk membuat pingsan. Orang itu sempat memekik tertahan sebelum ambruk dengan perlahan. Maya menahan tubuhnya agar tidak menimbulkan suara, lalu menurunkannya ke lantai dengan hati-hati.
Fajar yang ikatan tangannya dilepas Maya, segera membantu melepaskan yang lain mulai dari yang terdekat. Dinda. Arkan. Adit. Lalu ia mendekati posisi Riko.
Tapi situasi sudah berubah.
-----
Dengung dari aparatus tiba-tiba meninggi. Tidak beraturan. Berdenyut-denyut tanpa pola, makin kencang makin tidak terkendali.
"Fluktuasi frekuensi!" Teknisi berkacamata berdiri dari kursinya. "Prof, resonatornya tidak stabil! Harus dimatikan ...!"