Penjaga Ambang - Ketika Pintu Antara 2 Dunia Terbuka

Mohammad Riza
Chapter #13

Bab 13: Jejak dan Cerita Yang Tertinggal

Anak-anak di dalam yang kini tersisa lima orang, mulai beranjak untuk meninggalkan lab. Namun baru beberapa langkah ...

"Uh ... Guys ... Bentar, deh," Fajar mendadak terduduk kembali.

"Loh, Jar. Kenapa lo?"

"Ga tau ini. Sebetulnya dari tadi kepala gua udah sakit banget. Tapi masih gua tahan."

"Kak Fajar!" seru Dinda. "Hidungnya mimisan."

Benar saja. Terlihat mulai ada darah yang sedikit keluar dari hidung Fajar. Tidak mengalir, tapi jelas ada.

"Kenapa tiba-tiba? Lo ga papa?"

Arkan memperhatikan cahaya biru tipis dari buntelan yang dipeluk Fajar. "Bang. Mungkin lebih baik, kristalnya, Adit aja yang bawa," katanya mulai bersuara.

Maya melirik ke buntelan, lalu ke Adit. Dinda dan Fajar pun melakukan hal yang sama hampir bersamaan.

Fajar mengulurkan buntelan ke arah Adit sambil masih terduduk lemas. Adit sontak menghampiri.

"Gua percayain ke lu, Dit. Tolong ya," ucap Fajar ketika menyerahkan kristal ke Adit. Adit menerima tanpa berkata apapun. Matanya terlihat berkaca-kaca, tapi ia tidak menangis. Ia menggenggam buntelan kristal itu sambil teringat ayahnya, sambil teringat Riko. Tapi ia tidak menangis.

Setelah itu mereka bergegas lanjutkan menuju jalan keluar.

-----

Di B2, mereka melihat suasana lebih berantakan dibanding saat mereka tinggal tadi. Di suatu sisi, ada sebuah rak yang jadi patah beberapa bagian. Tampaknya sempat terjadi pergumulan antara tim Fondasi dengan makhluk yang keluar dari ambang tadi.

Mereka terus naik.

Melewati tangga, koridor, lobi, pintu kaca yang patah.

Cahaya pagi menyambut mereka. Matahari sudah cukup tinggi, langit bersih setelah semua yang terjadi semalam. Suara sungai masih ada di kejauhan, tenang dan tidak peduli. Tenda-tenda mereka masih berdiri di tanah lapang, berantakan seperti saat mereka tinggalkan.

Mereka berdiri di luar gedung dalam diam.

Maya terduduk di tanah. Bukan karena lututnya tidak kuat. Tapi karena tubuhnya memutuskan untuk berhenti dan tidak ada alasan untuk tidak menurut.

Dinda duduk di sampingnya. Tidak berkata apa-apa.

Fajar melepas kacamatanya. Memegangnya erat. Matanya terpejam.

Arkan duduk dengan lutut ditarik ke dada, topinya dilepas dan digenggam. Untuk pertama kalinya sejak mereka mengenal Arkan, dia benar-benar tidak punya kata-kata. Tanpa komentar. Tanpa pertanyaan.

Adit berdiri menghadap gedung. Kristal masih di tangannya.

Tanpa aba-aba, tubuh Adit sekonyong-konyong ambruk hingga ia berlutut.

"RIKOOOOO!!!" Adit pun akhirnya tidak kuat. Tangisnya pecah disertain teriakannya.

"Bego banget gua! Ngapain juga kita masuk ke situ!" Adit tersedu sambil menutup wajahnya ke tanah. "Dasar egois!" Adit terus menyalahkan diri sendiri.

Dinda ikut menangis melihat Adit. Maya mengepalkan tangannya dengan kencang, air mata terlihat mengalir tipis di pipinya.

Arkan yang sebetulnya juga berkaca-kaca, menghampiri Adit. Ia mengusap pelan punggung Adit. "Bukan salah lu, Dit. Mana mungkin lu bisa tau kejadiannya kaya gini," ujar Arkan dengan nada tercekat.

"Jelas-jelas salah gua! Riko masuk karena gua masuk!" teriak Adit. "Padahal lu udah coba ngingetin untuk keluar, Arkan. Tapi Riko milih tetap di dalam karena mikirin kepentingan gua!"

Lihat selengkapnya