Suara itu datang dari balik kaca, lembut seperti gerimis pertama yang jatuh di musim kemarau. Bukan karena kata-katanya, tapi karena nada yang diucapkan dengan keyakinan, seolah setiap kalimat sudah melalui beribu malam sunyi sebelum akhirnya disiarkan. Saraswati, atau Saras seperti semua orang memanggilnya, duduk tenang di balik mikrofon. Senyum tak lekang dari wajahnya, meski hari itu paru-parunya terasa berat, dan napasnya lebih pendek dari biasanya.
Di ruang sebelah, Anwar mengamati indikator volume dan mengatur frekuensi dengan tangan yang sudah terbiasa. Ia tak pernah banyak bicara, tapi tak pernah pula absen dari satu pun siaran Saras. Seperti jam tua yang setia berdetak tanpa minta dilihat. Mereka tak perlu saling memanggil nama, karena suara sudah cukup sebagai pengikat.
Sena, yang masih berusia dua tahun waktu itu, duduk di pojok ruangan dengan bantal tipis dan radio kecil di tangannya. Setiap kali ibunya berbicara, ia menempelkan radio itu ke telinga, seolah ingin menangkap suara yang sama dua kali: satu dari ruang siaran, satu lagi dari udara. Saras menatapnya sekilas dan tersenyum. Lalu melanjutkan siarannya.
“Untuk kamu yang sedang mendengarkan di sela hujan atau mungkin di tengah keramaian kota… suara adalah rumah. Dan selama rumah ini masih ada, kamu tidak sendirian.”
Di luar studio, hujan turun tipis-tipis. Tidak cukup deras untuk membuat orang berlari mencari teduh, tapi cukup untuk meninggalkan jejak basah di trotoar dan membuat udara berbau tanah.
Saras melepas headphone dari telinganya ketika lagu mulai diputar. Lampu merah bertuliskan ON AIR masih menyala. Ia menyesap air hangat dari cangkir enamel yang sudah mulai kusam di bagian bibirnya.
"Dingin?" tanya Anwar dari ruang operator.
"Bukan."
"Lelah?"
Saras tersenyum kecil.
"Sedikit."
Jawaban itu menggantung di udara. Anwar tahu itu bukan seluruh kebenaran.
Beberapa minggu terakhir, napas Saras sering terputus di tengah kalimat. Kadang batuk datang tiba-tiba seperti tamu yang tidak diundang. Kadang wajahnya tampak pucat setelah siaran panjang. Tapi perempuan itu selalu punya cara untuk mengubah kekhawatiran menjadi senyum.
"Aku dapat surat lagi," kata Saras.
"Dari pendengar?"
"Iya."
Ia mengangkat sebuah amplop biru muda dari tasnya. Sudah menjadi kebiasaan. Setiap pekan, ada saja surat yang datang ke radio. Sebagian berisi salam. Sebagian lagi berisi curahan hati orang-orang yang bahkan tak pernah ditemuinya.
Saras membuka amplop itu perlahan.
"Kamu mau dengar?"
Anwar mengangguk.
Saras membaca.
"Untuk Mbak Saras. Saya tidak tahu apakah surat ini akan sampai atau tidak. Tapi saya ingin mengucapkan terima kasih. Tahun lalu saya kehilangan suami saya. Setiap malam saya merasa rumah menjadi terlalu sepi. Sampai suatu malam saya menemukan siaran Mbak. Sejak itu saya selalu mendengarkan. Mungkin Mbak tidak mengenal saya, tapi suara Mbak menemani saya melewati masa-masa yang sulit."
Saras berhenti membaca. Studio menjadi sunyi. Hanya ada suara hujan di luar dan lagu instrumental yang masih mengalun pelan.