Penjaga Suara Yang Hilang

Indra Afriza Arsad
Chapter #2

Suara Dari Gelombang Radio

Malam selalu terdengar berbeda dari balik kaca studio radio.

Di luar, dunia bergerak seperti biasa. Motor melintas. Warung-warung menutup pintunya. Lampu rumah menyala satu per satu. Namun di dalam studio, waktu seolah berjalan lebih lambat. Hanya ada lampu indikator. Mikrofon. Tumpukan kaset lagu, dan suara.

Banyak sekali suara.

***

Saras menyukai siaran malam. Jauh lebih suka dibanding siaran pagi atau siang. Pagi terlalu terburu-buru. Siang terlalu ramai. Malam lebih jujur. Orang-orang cenderung mengatakan hal yang sebenarnya ketika langit sudah gelap. Mungkin karena kesepian. Mungkin karena lelah. Mungkin karena tidak ada lagi tenaga untuk berpura-pura. Apa pun alasannya, Saras menyukai itu.

Karena dari balik mikrofon, ia belajar bahwa manusia sering kali lebih mirip satu sama lain daripada yang mereka kira.

***

Lampu merah bertuliskan ON AIR menyala.

Operator memberi isyarat. Saras mendekat ke mikrofon. Tersenyum. Kebiasaan yang tidak pernah hilang meski pendengar tidak bisa melihatnya.

"Selamat malam, Batujati." sapanya.

"Masih bersama saya, Saras, di program Teman Tengah Malam."

Ia membuka catatan kecil di depannya.

"Lagunya tetap sama. Kopinya mungkin sudah dingin. Tapi semoga hati kita masih hangat."

Operator di balik kaca mengacungkan jempol. Saras tertawa kecil. Lalu lagu pertama mengalun.

***

Telepon pertama masuk lima belas menit kemudian. Seorang pemuda. Suaranya gugup. Nyaris berbisik.

"Halo?"

"Halo." jawab Saras.

"Ada siapa di sana?"

"Rudi."

"Selamat malam, Rudi."

Sunyi sesaat.

Kemudian suara itu berkata, "Mbak Saras..."

"Iya?"

"Saya sebenarnya gak mau request lagu."

"Kalau begitu?"

Lihat selengkapnya