Penjaga Suara Yang Hilang

Indra Afriza Arsad
Chapter #3

Pagi yang Dulu Pernah Ada

Saras bukan hanya penyiar. Ia juga ibu tunggal yang tabah, penyeduh kopi yang tekun, dan kadang-kadang tukang cerita dadakan untuk pelanggan yang mampir ke warungnya. Gaji dari radio tidak pernah cukup. Maka ia membuka kedai kopi kecil di halaman samping rumah—sederhana, hanya satu meja panjang, dua bangku kayu, dan rak gantung dari tali tambang. Namanya tidak pernah tertulis resmi di spanduk, tapi orang-orang menyebutnya "Lereng Wangi" karena aromanya tercium hingga gang depan.

Warung itu hidup di pagi hari. Saras bangun sebelum fajar, menggiling biji kopi dengan tangan, lalu menyeduhnya perlahan, seperti sedang merangkai kalimat di udara. Anwar sering mampir sebelum ke studio. Kadang untuk membantu membetulkan kompor, kadang hanya untuk mencuri dua teguk kopi dan satu menit obrolan ringan.

Pagi di Lereng Wangi selalu dimulai dengan bunyi-bunyi kecil. Bukan suara mesin pembuat kopi seperti kedai-kedai modern yang kelak bermunculan di kota. Bukan pula suara musik dari pengeras suara mahal. Yang terdengar hanya gesekan batu penggiling kopi, denting sendok menyentuh gelas, dan sesekali kokok ayam dari rumah tetangga.

Saras menyukai bunyi-bunyi itu. Menurutnya, pagi tidak perlu terlalu ramai untuk terasa hidup. Ia membuka jendela kayu satu per satu. Udara dingin dari lereng bukit segera masuk membawa aroma tanah basah dan dedaunan. Lalu ia mulai bekerja.

Tangannya bergerak cekatan menimbang kopi, menyalakan kompor minyak, menyiapkan cangkir-cangkir enamel yang berjajar rapi di rak kayu. Sena kecil masih tidur di kamar belakang.

Sesekali anak itu terbangun karena aroma kopi, lalu berjalan keluar sambil mengucek mata.

"Ibu..."

"Iya?"

"Lagi bikin kopi?"

Saras tertawa. "Kalau bukan bikin kopi, masa bikin kapal selam?"

Sena terkikik lalu memeluk kaki ibunya. Itulah kebiasaan mereka. Pagi selalu dimulai dengan kopi dan pelukan.

***

 

Pelanggan pertama hampir selalu orang yang sama. Pak Darto, guru SD yang rumahnya berada dua gang dari sana. Pria itu datang setiap pagi dengan sepeda ontel tua dan tas kulit yang warnanya sudah sulit ditebak.

"Pagi, Bu Saras."

"Pagi, Pak Guru."

"Yang biasa."

Saras mengangguk. Tidak perlu bertanya lagi. Kopi tubruk tanpa gula. Selalu begitu selama bertahun-tahun. Pak Darto sering duduk sambil memeriksa buku tugas murid-muridnya. Kadang ia mengeluh tentang anak-anak yang lebih suka bermain layangan daripada belajar. Kadang ia bercerita tentang murid yang diam-diam menulis puisi di belakang buku matematika. Dan Saras selalu mendengarkan. Bukan karena ia punya solusi. Melainkan karena ia tahu sebagian orang datang ke kedai kopi bukan untuk minum. Mereka datang untuk didengar.

***

Lihat selengkapnya