Penjaga Suara Yang Hilang

Indra Afriza Arsad
Chapter #4

Sehari di Lereng Wangi

Hujan turun sejak subuh.

Bukan hujan deras yang membuat orang berlarian mencari atap, melainkan hujan tipis yang sabar. Hujan yang turun perlahan, seolah tidak berniat pergi dalam waktu dekat. Atap seng Lereng Wangi memantulkan bunyinya menjadi irama yang akrab.

Tik… Tik-tik… Tik…

Saras sudah bangun sebelum matahari muncul. Seperti biasa. Ia menyapu lantai warung, menyalakan kompor, lalu menjerang air dalam ketel besar yang mulai kusam dimakan usia. Aroma kopi perlahan memenuhi ruangan.

Bagi Saras, pagi selalu dimulai dengan aroma itu. Bukan karena kopi membuatnya terjaga. Melainkan karena kopi mengingatkannya bahwa hari baru telah datang. Hari baru berarti cerita baru. Untuknya pribadi, hidup selalu terasa sedikit lebih ringan jika dihadapi satu cerita dalam satu waktu.

Di sudut ruangan, radio kecil mengalunkan lagu lama dengan suara pelan. Sementara di bangku dekat jendela, Sena kecil masih tertidur pulas dengan selimut yang melorot setengah.

Saras tersenyum. Anaknya selalu bisa tidur dalam kondisi apa pun. Bahkan jika dunia sedang kiamat sekalipun, mungkin bocah itu masih sempat mendengkur.

"Mirip bapaknya." gumamnya sambil tertawa kecil.

Pintu warung terbuka. Dan hari pun dimulai.

***

Pelanggan pertama datang ketika kabut masih menggantung di jalan.

Seorang sopir bus antarkota bernama Ujang. Ia datang hampir setiap pagi. Selalu duduk di kursi yang sama. Selalu memesan kopi yang sama. Dan selalu mengeluh tentang sesuatu. Hari itu keluhannya adalah jalan raya.

"Rusak semua." gerutunya.

"Kayaknya aspalnya lebih banyak lubangnya daripada jalannya."

Saras menuangkan kopi.

"Masih bisa dilewati, kan?"

"Bisa."

"Nah."

"Tapi bikin kesel."

"Kalau gak kesel, nanti Bapak ngomong apa?"

Ujang terdiam. Lalu tertawa. Saras ikut tertawa. Masalahnya tidak selesai. Jalannya tetap rusak. Namun wajah Ujang tampak sedikit lebih ringan setelah itu.

***

Menjelang pukul sembilan, hujan mulai reda.

Seorang guru SD datang. Namanya Pak Rahmat. Ia biasanya ceria. Namun hari itu tidak. Matanya tampak lelah. Seperti seseorang yang kurang tidur selama beberapa malam. Ia memesan teh panas. Bukan kopi.

Itu saja sudah cukup membuat Saras tahu ada sesuatu yang berbeda.

"Kenapa?" tanyanya setelah beberapa saat.

Pak Rahmat menghela napas. Panjang.

"Saya mikir buat pindah sekolah."

Saras tidak langsung menjawab. Ia menunggu. Orang yang ingin bicara biasanya akan melanjutkan sendiri. Dan benar saja.

"Saya capek." Pak Rahmat menatap cangkirnya.

"Kadang saya merasa gak ada yang berubah."

"Maksudnya?"

"Saya ngajarin mereka baca."

Lihat selengkapnya