Penjaga Suara Yang Hilang

Indra Afriza Arsad
Chapter #6

Suara yang Disimpan Langit

Penyakit punya cara yang aneh untuk mengubah hubungan seseorang dengan waktu. Sebelumnya, hari-hari berjalan seperti biasa bagi Saras. Pagi di warung kopi. Siang mengurus rumah. Sore menemani Sena bermain. Malam bersiaran di radio. Semua terasa panjang. Semua terasa masih tersedia dalam jumlah yang cukup.

Namun belakangan, ia mulai memperhatikan hal-hal yang dulu luput dari perhatian. Embun yang bertahan di ujung daun. Suara Sena tertawa saat berhasil menangkap capung. Aroma kopi yang baru selesai digiling. Lagu-lagu lama yang diputar di sela siaran.

Hal-hal kecil yang sebelumnya hanya lewat begitu saja, kini terasa ingin disimpan lebih lama. Seolah hidup diam-diam sedang mengajarinya cara berpamitan. Tentu saja Saras tidak menyukai pikiran itu. Ia masih terlalu muda untuk berbicara tentang perpisahan.

Masih terlalu banyak buku yang belum dibaca. Masih terlalu banyak kopi yang belum diseduh. Masih terlalu banyak pagi yang ingin ia lihat bersama Sena.

Tapi tubuh tidak selalu meminta izin sebelum menyampaikan kabar buruk. Batuk yang dulu datang seminggu sekali kini muncul hampir setiap hari. Napasnya mulai pendek saat menaiki tangga studio. Dan kadang-kadang, ketika siaran malam selesai, ia harus duduk beberapa menit hanya untuk menenangkan dadanya.

Kepada orang lain, ia tetap tersenyum seperti biasa. Kepada Sena, ia tetap menjadi ibu yang sama. Namun kepada dirinya sendiri, ia mulai mengakui sesuatu yang selama ini berusaha dihindari. Bahwa mungkin waktu yang ia punya tidak selama yang ia bayangkan. Bukan berarti ia menyerah. Saras bukan tipe orang yang mudah menyerah. Justru karena itulah ia mulai memikirkan apa yang harus ditinggalkan.

Bukan harta. Bukan rumah. Bukan benda-benda mahal yang memang tidak pernah ia miliki. Melainkan sesuatu yang lebih sederhana. Sesuatu yang selama ini menemani hidupnya.

Suara.

Karena sepanjang yang ia ingat, hampir seluruh hidupnya tersusun dari suara. Suara pendengar yang menelepon ke radio. Suara cangkir yang beradu di Lereng Wangi. Suara hujan di atap studio. Suara Sena memanggilnya dari kamar belakang. Dan di antara semua itu, ada satu suara yang paling sering ia dengar.

Suaranya sendiri.

Maka suatu sore, ketika studio sedang sepi dan matahari mulai turun di balik gedung-gedung tua, Saras membuka pintu ruang arsip radio. Ruangan itu jarang didatangi orang. Kecuali ketika mereka sedang mencari sesuatu yang nyaris terlupakan.

Kemudian Saras mulai sering datang lebih awal ke studio. Kadang satu jam. Kadang dua jam. Tidak ada yang benar-benar mempermasalahkannya. Di radio kecil seperti tempat mereka bekerja, semua orang sudah terbiasa melihat Saras datang dengan termos kopi dan tas kain berisi tumpukan kertas.

Tapi Anwar memperhatikan sesuatu. Saras mulai lebih sering duduk sendirian di ruang arsip. Ruangan itu kecil. Dindingnya dipenuhi rak-rak kayu berisi kaset siaran bertahun-tahun. Debu tipis menempel di punggung-punggung kotak rekaman. Aroma pita magnetik tua bercampur bau kertas menguning memenuhi udara.

Suatu pagi, Anwar menemukannya sedang mendengarkan rekaman lama. Suara Saras yang lebih muda mengalun dari speaker kecil. Masih ceria. Masih ringan. Masih bebas dari batuk yang kini mulai sering datang.

"Ngapain?" Tanya Anwar.

Saras melepas headphone. "Mendengarkan masa lalu."

"Seru?"

"Kadang lucu."

Anwar duduk di kursi sebelahnya.

Dari speaker terdengar suara Saras dua belas tahun lebih muda.

"Selamat malam pendengar setia. Semoga hari ini memperlakukan kalian dengan baik..."

Saras terkekeh. "Dulu aku ngomong cepat banget ya."

"Masih mending."

"Mending apa?"

"Masih lebih cepat daripada cara kamu nyuci gelas."

Saras melempar tisu ke arah Anwar. Mereka tertawa. Lalu hening kembali. Rekaman terus berputar. Dan untuk beberapa saat, mereka mendengarkan suara seorang perempuan yang bahkan tidak lagi sepenuhnya sama dengan orang yang sedang duduk di ruangan itu.

***

"Kamu pernah mikir gak, War?"

Lihat selengkapnya