Penjaga Suara Yang Hilang

Indra Afriza Arsad
Chapter #7

Hari Ketika Lereng Wangi Tutup Lebih Awal

Pagi itu tidak berbeda dari pagi-pagi lainnya.

Kabut masih turun dari perbukitan. Udara masih membawa aroma tanah basah. Dan Lereng Wangi masih membuka pintunya seperti biasa. Jika seseorang kebetulan lewat di depan warung itu, ia tidak akan melihat apa pun yang aneh.

Saras masih tersenyum. Masih menyeduh kopi. Masih menyapa pelanggan yang datang. Masih menjadi dirinya sendiri. Atau setidaknya berusaha. Namun tubuh manusia kadang memiliki rencana sendiri.

Menjelang siang, ketika sedang menuangkan kopi untuk seorang pelanggan, tangan Saras sedikit bergetar. Cangkir bergemerincing pelan di atas tatakan. Nyaris tidak terdengar. Nyaris tidak terlihat. Namun Anwar melihatnya. Dan begitu melihatnya, ia tidak bisa lagi berpura-pura tidak khawatir.

"Saya bantu." katanya.

"Aku masih bisa." jawab Saras.

Terlalu cepat. Terlalu otomatis. Seolah kalimat itu sudah berkali-kali ia ulangi dalam kepalanya.

Pelanggan terus datang. Dan Saras terus melayani. Seorang petani. Seorang guru. Dua sopir bus. Tiga mahasiswa yang sedang libur kuliah. Semuanya seperti biasa. Namun setiap kali berbalik menuju dapur, langkah Saras sedikit lebih lambat.

Sedikit. Sangat sedikit. Cukup untuk diperhatikan sahabat lama. Tidak cukup untuk diperhatikan orang lain.

***

Menjelang pukul dua siang, warung mulai lengang. Hanya tersisa suara radio. Suara kipas angin. Dan suara hujan tipis yang mulai turun di luar.

Saras sedang menyusun cangkir ketika tiba-tiba ia berhenti. Tangannya bertumpu pada meja. Kepalanya menunduk. Diam. Sangat diam.

"Sar."

Tidak ada jawaban.

"Sar."

Kali ini Saras mengangkat kepala. Berusaha tersenyum. Namun wajahnya lebih pucat dari biasanya.

"Aku cuma pusing." katanya.

Dan untuk pertama kalinya dalam hidupnya... Anwar marah. Bukan marah karena kesal. Melainkan marah karena takut.

"Jangan bohong."

Warung mendadak terasa sunyi. Radio masih berbunyi. Namun suara penyiar terdengar jauh. Seolah berasal dari ruangan lain.

Saras memandang sahabatnya. Lalu menghela napas. Panjang. Sangat panjang. Untuk pertama kalinya di hari itu, ia tampak lelah. Benar-benar lelah. Bukan lelah setelah bekerja. Bukan lelah karena kurang tidur. Melainkan lelah yang datang dari tempat yang lebih dalam. Tempat yang tidak bisa disembuhkan dengan istirahat semalam.

"Aku capek, War." Kalimat itu keluar pelan.

Hampir seperti bisikan. Dan justru karena pelan, kalimat itu terdengar jauh lebih berat.

Hujan mulai turun lebih deras. Membasuh kaca jendela. Memburamkan jalanan di luar. Sementara di dalam Lereng Wangi, Anwar berdiri tanpa tahu harus berkata apa. Karena tidak ada kata-kata yang bisa memperbaiki keadaan. Tidak ada kalimat bijak. Tidak ada lelucon. Tidak ada solusi. Kadang yang bisa dilakukan seseorang hanyalah tetap tinggal.

Lihat selengkapnya