Penjaga Suara Yang Hilang

Indra Afriza Arsad
Chapter #8

Lereng Wangi, Sekali Lagi

Tiga minggu sebelum kepergiannya…

Kabut masih menggantung rendah di lereng bukit kecil pinggiran kota. Saat orang-orang kota terburu mengejar jam masuk kerja, Saras justru sedang menggiling kopi dengan tangan, di warung kecil berdinding papan yang ia beri nama “Lereng Wangi.”

Warung itu cuma berisi dua meja kayu dan satu rak buku tua berisi novel-novel usang—semuanya sumbangan dari kantor radio tempat ia bekerja. Di luar, papan buatan tangan tergantung miring, dengan tulisan tangan: Lereng Wangi – Kopi & Cerita.

Hari itu sebenarnya bukan hari istimewa. Tidak ada ulang tahun. Tidak ada perayaan. Tidak ada pelanggan ke seratus atau keuntungan besar yang layak dikenang. Justru sebaliknya. Pagi itu berjalan biasa-biasa saja. Dan mungkin karena itulah Saras ingin mengingatnya.

Beberapa pelanggan datang lalu pergi. Pak Darto sempat mengeluh tentang murid yang lebih suka menggambar robot daripada belajar pecahan. Seorang sopir angkot meminum kopinya terlalu cepat hingga lidahnya kepanasan. Dua anak sekolah membeli teh hangat lalu menghabiskan hampir satu jam hanya untuk bermain tebak-tebakan.

Tidak ada yang luar biasa.

Namun saat berdiri di balik meja kasir sederhana miliknya, Saras tiba-tiba merasakan sesuatu yang sulit dijelaskan. Bahwa kebahagiaan mungkin memang sering menyamar sebagai hari biasa.

Ia memandangi warungnya perlahan. Papan nama yang sedikit miring. Bangku kayu yang sudah beberapa kali diperbaiki. Kaleng biskuit yang catnya mulai terkelupas. Rak buku tua yang jumlah isinya tidak pernah tetap karena pelanggan sering meminjam tanpa mengembalikan.

Semua tampak sederhana. Terlalu sederhana bahkan. Tapi di situlah hidupnya berlangsung. Di situlah ia belajar bahwa tidak semua hal berharga harus tampak megah. Kadang yang paling layak dikenang justru hal-hal yang hampir luput diperhatikan.

***

Sena sedang duduk di lantai dekat rak buku. Lidahnya menjulur sedikit saat mewarnai gambar yang entah apa bentuknya. Sesekali ia menengadah.

"Ibu."

"Hm?"

"Kalau awan jatuh ke tanah jadi apa?"

Saras berpikir sebentar.

"Jadi hujan."

"Bukan lumpur?"

"Bukan."

"Oh."

Sena kembali menggambar.

Lima detik kemudian: "Ibu."

"Hm?"

"Kalau hujan capek jatuh terus gimana?"

Lihat selengkapnya