Anak-anak tidak memahami kehilangan dengan cara yang sama seperti orang dewasa. Mereka tidak duduk berlama-lama memikirkan arti kematian. Mereka tidak menulis puisi tentang perpisahan. Mereka tidak bertanya kepada langit mengapa seseorang harus pergi. Mereka hanya mencari. Dan terus mencari.
Begitulah Sena ketika ibunya meninggal. Pada minggu-minggu pertama, ia masih sering menunggu suara langkah di depan rumah. Masih sering menoleh ketika mendengar perempuan berbicara di pasar. Masih percaya bahwa suatu hari ibunya akan pulang membawa roti atau buku cerita seperti biasa.
Kakek dan neneknya tidak pernah memaksa kenyataan masuk ke kepalanya. Mereka membiarkan waktu bekerja. Karena ada luka yang hanya bisa dijelaskan oleh hari-hari yang berlalu.
***
Sena tumbuh di Citeureup. Rumah kakeknya tidak besar. Dindingnya dipenuhi foto keluarga. Jam tua berdetak keras setiap malam. Dan di ruang tamu, ada sebuah radio yang hampir tidak pernah dimatikan. Neneknya senang mendengarkan sandiwara radio. Kakeknya lebih suka berita pagi.
Sena sendiri tidak terlalu peduli. Namun setiap kali mendengar suara penyiar perempuan, ia selalu berhenti melakukan apa pun yang sedang dikerjakannya. Lalu terpaku di hadapan sumber suara. Ada sesuatu yang terasa akrab. Meski ia tidak benar-benar mengingat apa.
***
Ketika berusia sebelas tahun, Sena menemukan sebuah buku gambar lama. Terselip di lemari kayu yang jarang dibuka. Di halaman terakhir terdapat gambar sebuah warung kecil. Atapnya miring. Ada papan nama. Ada meja. Ada beberapa orang sedang duduk. Gambarnya dibuat dengan krayon yang sudah pudar.
Tulisan tangan anak-anak memenuhi bagian bawahnya: Warung Ibu. Sena memandangi gambar itu lama, lalu membawanya ke nenek.
"Nek, ini apa?"
Nenek terdiam beberapa saat. Kemudian tersenyum.
"Itu warung ibumu."
"Ibu punya warung?"
"Pernah."
"Kok aku gak ingat?"
Nenek mengusap rambut cucunya. "Karena waktu itu kamu masih kecil sekali."
Malam itu Sena sulit tidur. Untuk pertama kalinya ia sadar bahwa ibunya memiliki kehidupan yang jauh lebih luas daripada yang pernah ia ketahui.
***
Masa SMP datang. Lalu SMA.
Seperti banyak anak seusianya, Sena sempat bingung menentukan dirinya sendiri. Ia tidak pandai olahraga. Tidak terlalu suka keramaian. Tidak punya cita-cita yang terdengar hebat. Namun ia menyukai satu hal: Kata-kata.
Awalnya karena tugas sekolah. Lalu karena penasaran. Lalu karena jatuh cinta. Ia mulai membaca puisi. Membaca cerpen. Membaca novel bekas yang dibeli dari lapak buku murah. Dunia tiba-tiba terasa lebih besar daripada yang ia bayangkan.
Dan anehnya, semakin banyak ia membaca, semakin sering ia memikirkan ibunya. Perempuan yang suaranya mulai kabur dalam ingatan. Tapi jejaknya muncul di tempat-tempat yang tidak terduga. Dalam cerita. Dalam lagu. Dalam aroma kopi yang sesekali tercium dari warung pinggir jalan.
***
Suatu sore, ketika hujan turun tipis di Jalan Sakanpari, Sena berdiri untuk pertama kalinya di depan mikrofon komunitas sastra. Tangannya gemetar. Kertas puisinya basah oleh keringat.
Teman-temannya menunggu. Beberapa orang tertawa. Beberapa sibuk mengobrol. Tak ada yang benar-benar memperhatikannya, dan justru itu yang membuatnya berani.