Penjaga Suara Yang Hilang

Indra Afriza Arsad
Chapter #10

Lahirnya Sebuah Kedai Kopi

Selama beberapa minggu setelah keluar dari pekerjaannya, Sena menjalani hari-hari yang ganjil. Untuk pertama kalinya sejak lulus kuliah, ia tidak memiliki jadwal tetap. Tidak ada alarm pagi yang memaksa bangun. Tidak ada rapat. Tidak ada target. Tidak ada laporan yang harus selesai sebelum pukul lima sore.

Awalnya terasa menyenangkan. Lalu membingungkan. Kemudian menakutkan. Karena kebebasan ternyata membawa pertanyaan yang lebih sulit daripada pekerjaan.

Apa yang harus dilakukan sekarang?

***

Sebagian orang mengira keputusan besar lahir dari momen besar. Padahal sering kali tidak. Sering kali keputusan besar lahir dari langkah kecil yang diambil berulang-ulang. Begitulah yang terjadi pada Sena.

Ia mulai menghabiskan waktu mengunjungi kedai-kedai kopi kecil. Bukan untuk belajar bisnis. Melainkan untuk mengamati manusia. Ia duduk berjam-jam. Memesan secangkir kopi. Lalu memperhatikan.

Ada mahasiswa yang mengerjakan skripsi. Ada sopir yang beristirahat sebelum melanjutkan perjalanan. Ada pasangan yang berbicara pelan. Ada orang yang hanya duduk sendirian memandangi hujan.

Dan semakin lama ia mengamati, semakin kuat satu keyakinan tumbuh di dalam dirinya. Kopi bukan alasan utama orang datang. Mereka datang karena mencari ruang.

***

Suatu sore, ketika matahari mulai turun, Sena melewati sebuah bangunan tua di pinggir jalan Citeureup. Bangunan itu nyaris terlupakan. Cat temboknya kusam. Jendelanya berdebu. Papan nama lamanya sudah dilepas. Rumput liar tumbuh di halaman depan. Normalnya orang akan melihat bangunan kosong. Namun Sena melihat sesuatu yang lain. Ia melihat kemungkinan.

Semesta kemungkinan itu membuat langkahnya berhenti. Ia berdiri cukup lama di depan pagar. Membayangkan meja-meja kayu. Membayangkan rak buku. Membayangkan aroma kopi. Membayangkan orang-orang datang dan tinggal sedikit lebih lama daripada yang mereka rencanakan.

Dan untuk pertama kalinya, mimpi yang selama ini hanya berupa kalimat di buku catatan mulai memiliki bentuk.

***

"Kamu serius?"

Lihat selengkapnya