Penjara Kaki Lima

Nana Mangoenmihardjo
Chapter #1

Bab 1

Pagi ketika Munir kehilangan kepalanya, bau asam laut menyerbu pernapasan para pembunuh. Munir telah ditelanjangi dan sekarang tubuh dengan induknya juga telah terbelah menyisakan darah yang menggenang di sekitar bebatuan karang. Para pembunuh berbadan sapi dengan bau asap kretek mendengus mendengarkan jeritan-jeritan dari para muda-mudi telanjang dan basah oleh keringat asam.

Munir telah hilang nyawa, telah hilang dari pijakan kakinya, tergeletak macam ayam yang hendak di rebus, kaki dan tangannya terikat rapat oleh tali rafia merah merona, Munir tidak lagi terlihat manis, sekarang seasin air laut, sepahit asap kretek si pembunuh. Satu jam sebelum dia mati, Munir menangis saat mobil hitam itu menyeretnya menjauh dari penjara kaki lima, ketiadaan tenaga setelah berkali kali dinodai olah para bajingan berbadan sapi. Tubuh kurusnya menggigil saat salah seorang berbadan sapi itu menelanjangi dadanya, meraba-rabanya tepat pada luka segar yang telah disiram air limun, jerit itu mulai berbunyi lagi macam lonceng besi bengkok. Para bajingan berbadan sapi menyumpalinya dengan buntalan kacu, mendorongnya masuk pada terowongan mulutnya yang bernoda bulat-bulat menjijikkan.

Munir mencium keringat asam dari para bajingan sapi itu, bau manis dan asam dalam kesatuan, bau manusia setelah berkegiatan intim dengan entah laki atau perempuan. Disana orang sapi itu meraba-rabanya, barangtentu buat salam perpisahan, meloroti celananya, membuang pada bagasi belakang dan orang sapi itu mengambil rafia merah merona, mengikat Munir bagai ayam yang hendak disembelih.

Orang sapi itu meraba apa yang seharusnya terjaga, memincingkan mata saat melihat sifilis makin merembet kemana-mana, memandang seolah mainan kesayangan telah rusak dijarah penyakit. Desas-desus yang telah Munir dengar di penjara kaki lima bahwa segala mainan yang telah rusak bakal di bawa ke ujung bukit, jauh dari ketinggian permukaan laut. Dengan pikiran itu, munir berteriak dalam redaman kacu, menangis dan menggigil, matilah aku.

Seorang muda yang jauh lebih kurus dari Munir dan jauh lebih mungil telah diseret macam begini oleh orang-orang sapi, dengan bekal selembar celana tidur demi menutupi sifilis yang menggerogoti, kawan lamanya berteriak meronta-ronta memanggil manggil tuhannya. Semua yang ada pada penjara kaki lima itu hanya meringkuk di balik selimut, harap-harap cemas hari berikutnya bukan mereka sasarannya.

Pada hari itu, Munir masih dengan yakin sekiranya beberapa hari kedepan bukan dia yang bakal diseret, dia telah terjarah penyakit di sekitaran mulutnya, belum merembet pada hal-hal lain. Munir hanya berdoa si kurus itu bakal terbebaskan entah dengan jalan apa. Antara hidup memalukan atau mati memalukan pula.

Sekarang ini lain cerita, ini waktunya untuk mati, beraapa lama? Apakah kematian akan menyakiti bagai lamanya orang-orang sapi ini menodainya? Apakah selama saat seorang bau asap kretek itu menciumnya? Atau apakah seorang bajingan yang meraba tubuhnya itu pada malam saat dia kehilangan keperjakaannya?

Napasnya tersendat-sendat saat mobil hitam itu berbelok pada arah pantai, keringatnya sebesar biji jagung, menetes dari pelipisnya yang memar unggu. Isi kepalanya berdengung semacam lebah yang berterbangan di sekitaran telinga, suara tetesan air hujan juga menyerbu isi kepala, bau anyir yang entah datang darimana juga menelusup pada pernapasan. Munir diambang kesadaran, apa semua ini?

Lihat selengkapnya