Aku tahu persis kapan pertama kali aku kehilangan suamiku.
Bukan pada malam dia pulang terlambat dan wangi parfum asing yang tak kukenal melekat di kerah kemejanya. Bukan pada pagi-pagi buta ketika aku menemukan percakapan yang dihapus di handphone-nya. Bukan pada saat dia berbohong soal rapat yang tak pernah ada namanya di daftar agenda Bappeda.
Aku kehilangan Zarimuddin jauh sebelum itu.
Aku kehilangan dia pada sebuah sore di bulan Maret, ketika aku berdiri di depan kantor Bappeda Kabupaten Belitung Utara sambil memegang rantang bertingkat tiga berisi rendang daging yang kumasak sejak pagi. Rendangnya sudah mengering sempurna, cokelat tua, kering bersantan, beraroma kluwak dan lengkuas yang tumbuk sendiri. Aku tidak pernah setengah-setengah untuk hal-hal seperti ini.
Rendang itu adalah senjata. Bukan hadiah.
Semua ini bermula dari sebuah nama yang kudengar pertama kali di meja makan Dharma Wanita tiga minggu sebelumnya.
"Zarimuddin sekarang jadi koordinatornya bareng anak baru perantau Jawa itu, lho," bisik Bu Hartono, istri Kepala Seksi Perencanaan, sambil menggeser tatakan kue putu ke arahku. Bibir tipisnya tersenyum dengan keramahan yang terlalu banyak mengandung gula. "Rania, kalau nggak salah namanya. Anak fresh graduate, katanya. Ditempatkan di subbagian analisis program."
"Oh?" Aku mengangkat cangkir teh. Tanganku diam.
"Cantik. Langsing. Berjilbab rapi." Bu Hartono mengangguk dengan kecepatan yang mencurigakan. "Dan pinter banget, kata suami saya. Zarimuddin sampai bilang ke suami saya, 'Pak, yang ini beda. Analisisnya tajam.'"
Aku meletakkan cangkir.
Analisisnya tajam.
Kata-kata itu berputar di kepalaku sepanjang perjalanan pulang. Zarimuddin, suamiku yang tidur dengan punggung membelakangi setiap malam, yang menatap TV tanpa benar-benar menonton, yang terakhir kali memintaku cerita adalah dua tahun lalu, kini bicara soal "analisis yang tajam" kepada rekan kerjanya.
Tentang anak baru. Dari sebuah desa di Jawa Tengah. Bernama Rania.
Analisisnya tajam.
Aku tidak marah. Aku tidak cemburu, setidaknya begitu kubujuk diriku sendiri. Aku hanya ingin tahu. Aku hanya ingin melihat sendiri kebenaran di balik senyum keramahan Bu Hartono yang terlalu manis itu. Aku adalah jurnalis, dulu. Dan jurnalis tidak berhenti menginvestigasi hanya karena itu menyangkut pernikahannya sendiri.
Maka aku memasak rendang.
Pintu kaca Bappeda memantulkan bayanganku saat aku mendorong masuk. Resepsionis muda di balik meja informasi mendongak dengan ekspresi profesional yang mulai goyah ketika melihat rantang bertingkat di tanganku.
"Mau temui siapa, Bu?"
"Suami saya. Zarimuddin. Dari subbagian perencanaan."
"Oh, Pak Zarimuddin. Sebentar, ya, Bu. Saya hubungi dulu."
Aku berdiri di lobi. Hembusan AC yang terlalu dingin menggigit lenganku yang setengah terbuka. Kutahu aku overdressed untuk kunjungan ke kantor PNS di jam dua siang, blus sifon cokelat muda yang selalu kubeli karena kata Zarimuddin dulu bagus untukku, celana kulot hitam, rambut dikepang satu ke sisi. Aku terlihat seperti istri yang membawakan makan siang. Sempurna.
Itu memang yang aku rencanakan.
Petugas lobi mengantarku ke lantai dua. Lorong panjang berbau campuran kertas arsip dan semprotan pengharum ruangan murahan. Di ujung lorong, sebuah pintu kaca tembus pandang bertuliskan BIDANG PERENCANAAN EKONOMI DAN SDM dalam stiker huruf hitam yang mulai menggelupas.
Aku mendorongnya masuk.
Ruangan itu cukup besar untuk sebuah kantor kabupaten. Deretan meja kerja yang rapi, lemari arsip besi di sepanjang dinding kiri, papan whiteboard yang penuh coretan grafik di tembok kanan. Empat atau lima orang mengetik atau memegang berkas dengan gaya orang-orang yang terbiasa pura-pura sibuk.