Penjara Tika

Muhammad Sapril
Chapter #3

Aplikasi yang Salah

Ada jenis kecurigaan yang tumbuh pelan seperti jamur di musim hujan, tidak terasa sampai tiba-tiba sudah memenuhi seluruh dinding.

Selama tiga minggu setelah kunjungan ke Bappeda, aku meyakini diriku sudah berhasil mengendalikannya. Aku tidak bertanya apa-apa kepada Zarimuddin. Tidak ada interogasi di meja makan. Tidak ada pertanyaan

"Hari ini lembur sama siapa?" yang disampaikan dengan nada datar tapi bermuatan. Aku melakukan segalanya dengan benar, memasak, menemani anak-anak belajar, mengantar Sari ke kursus menari, menyiapkan baju kantor Zarimuddin setiap pagi.

Aku adalah istri yang sempurna. Di permukaan.

Di bawah permukaan, aku sedang menginventarisasi.

HP Zarimuddin adalah sebuah Samsung lama berjaket karet hitam yang selalu tergeletak di charger-nya di sudut meja TV setiap malam. Dia tidak pernah membawanya ke kamar mandi. Tidak pernah memegangnya dengan cara yang menunjukkan ada sesuatu yang perlu disembunyikan, tidak ada layar yang dimiringkan ketika aku lewat, tidak ada ketik-ketikan yang berhenti tiba-tiba.

Zarimuddin adalah tipe laki-laki yang paling susah dibaca karena dia tidak pernah bertingkah mencurigakan. Diam bukan berarti aman. Diam bisa juga berarti sangat mahir menyembunyikan.

Suatu malam di bulan April, ketika Zarimuddin tidur lebih awal dari biasanya karena kelelahan setelah rapat koordinasi yang dia sebut "maraton tiga hari", dan Fariz serta Sari sudah pulas, aku mengambil HP-nya dari charger.

Aku tidak berencana mengintip. Aku hanya ingin memastikan.

Layar menyala menampilkan jam 23.47 dan enam ikon aplikasi yang terbagi di halaman pertama. WhatsApp, Gmail, Google Maps, YouTube, BNI Mobile Banking, dan satu ikon yang tidak pernah kulihat sebelumnya.

Ikon hijau tua berbentuk gembok tertutup di tengahnya.

Signal.

Aku tidak langsung panik. Jurnalis tidak panik, mereka mencatat dulu, menghubungkan kemudian.

Signal adalah aplikasi pesan enkripsi ujung ke ujung. Berbeda dari WhatsApp biasa, Signal tidak menyimpan metadata percakapan di server mana pun. Pesan bisa diatur untuk menghapus diri sendiri dalam rentang waktu tertentu. Tidak ada cadangan otomatis ke Google Drive yang bisa ditelusuri.

Aku tahu ini karena dulu, semasa masih menjadi jurnalis, aku menggunakan Signal untuk berkomunikasi dengan narasumber yang takut identitasnya terekspos.

Signal bukan aplikasi orang biasa yang tidak punya apa-apa untuk disembunyikan.

Aku membuka aplikasinya.

Hanya ada satu kontak yang aktif. Nama yang disimpan sangat formal dan kaku, persis seperti gaya Zarimuddin menyimpan nomor rekan kerjanya: Rania Alfiansyah - Analis Kebijakan.

Percakapannya tidak bisa dibaca, pengaturan disappearing messages sudah aktif, semua pesan yang tersimpan berumur tidak lebih dari dua puluh empat jam. Yang tersisa hanya satu pesan terakhir yang belum terhapus, dikirim pukul 22.03 malam ini:

"Data RPJMD sudah aku kirim ke email dinas. Besok kita finalisasi di ruangan Pak Kadis. Tidur dulu."

Dan balasan Zarimuddin, dikirim tiga menit kemudian:

"Oke. Makasih."

Dua kata. Singkat. Tidak ada tanda-tanda yang biasanya digunakan dalam percakapan orang-orang yang sedang menyembunyikan perasaan, tidak ada emoji berlebihan, tidak ada "hati-hati ya", tidak ada tanda seru yang tak perlu.

Lihat selengkapnya