Penjara Tika

Muhammad Sapril
Chapter #4

Bendera Perang

Status WhatsApp itu muncul pada pukul 02.17 dini hari.

Aku tidak seharusnya masih terjaga. Tapi mata yang terlatih mengawasi tidak pernah benar-benar bisa dimatikan, seperti alarm keamanan yang selalu standby di frekuensi tertentu bahkan ketika rumah terasa aman. Aku sedang rebahan dengan HP di dada, menggulir beranda tanpa tujuan, ketika gelembung kecil di pojok kanan atas ikon WhatsApp berkedip.

Satu pembaruan status.

Aku membuka.

Fotonya: sebuah tangan, tangan kurus dengan jari-jari yang panjang, menggenggam cangkir kopi dari tanah liat berwarna krem. Di latar belakang, berkas-berkas dokumen tersebar di atas meja kerja, di bawah cahaya lampu belajar yang hangat. Jam di sudut foto: 02.11.

Caption-nya:

"Lembur ditemani partner diskusi terbaik. The brain always wins. ✨"

Nama yang memposting: Rania.

Aku membaca kalimat itu tiga kali.

Partner diskusi terbaik.

Bukan sekadar kolega. Bukan sekadar rekan satu bidang. Partner diskusi terbaik, sebuah gelar yang diumumkan kepada siapa pun yang mau membacanya, termasuk istri dari laki-laki yang tangannya ada di dalam foto itu.

Karena aku tahu tangan itu.

Tangan kurus dengan jari-jari yang panjang dan ruas-ruas yang menonjol, ruas yang selalu kulihat saat Zarimuddin menandatangani slip gaji yang tidak pernah cukup, saat ia memperbaiki atap rumah yang bocor sendiri karena tidak ada uang untuk tukang, saat ia mengelap meja makan setiap pagi sebelum berangkat kerja dengan diam-diam tanpa pernah memintaku berterima kasih.

Tangan itu ada di dalam foto Rania. Di atas meja kerja Rania. Pada pukul dua lewat sebelas pagi.

Aku duduk tegak di kasur.

Di sampingku, Zarimuddin tidur dengan punggung menghadapku, seperti selalu. Napasnya teratur. Wajahnya tidak bersalah, seperti selalu.

Aku memeriksa HP-nya yang tergeletak di charger sisi kanannya. Layarnya mati. Tidak ada notifikasi yang menyala.

Aku tidak membangunkannya.

Aku tidak menunjukkan foto itu kepadanya.

Aku tidak bertanya "Kamu di mana jam dua tadi?" karena aku tahu jawabannya, dia ada di sini, di kasur ini, tidur dengan punggung membelakangi seperti biasa. Tangan yang ada di foto itu bisa saja tangan siapa pun yang memegang kopi di lembur kantor.

Tapi otak yang sudah memutuskan bahwa ada pelaku dan ada korban tidak mau mendengar klarifikasi. Otak seperti itu hanya mencari konfirmasi.

Dan konfirmasi sudah ditemukan.

Status WhatsApp itu bukan sekadar pembaruan kehidupan yang tidak bersalah. Status itu, aku yakin sepenuhnya pada dini hari yang panas itu, adalah pesan.

Diposting pukul 02.11. Terkirim langsung ke story WhatsApp yang visible bagi semua kontak. Termasuk aku. Termasuk semua orang yang mengenal Zarimuddin.

Partner diskusi terbaik. The brain always wins.

Ini bukan kebetulan. Ini bukan perempuan yang polos memposting selfie-lembur tanpa pikir panjang. Ini adalah deklarasi. Bendera perang yang dikibarkan di tengah malam, tepat di wajahku, dengan tangan yang sangat mungkin milik suamiku sebagai buktinya.

Itu yang kupercayai. Itu yang terus kupercayai selama bertahun-tahun sesudahnya.

Bahwa Rania tahu persis apa yang dilakukannya.

Pagi harinya, aku menunggu sampai anak-anak berangkat sekolah.

Kemudian aku menunggu sampai Zarimuddin selesai sarapan, aku memasak bubur ayam, yang tidak pernah kulakukan di hari kerja, karena perempuan yang sedang mempersiapkan pertengkaran besar selalu memasak lebih dulu dari biasanya, entah kenapa.

Zarimuddin makan dengan tenang. Tidak ada yang mencurigakan di wajahnya. Tidak ada rasa bersalah di cara dia menyendok bubur. Dia hanya laki-laki biasa yang sarapan sebelum berangkat kerja.

Lihat selengkapnya