Penjara Tika

Muhammad Sapril
Chapter #5

Ekuestrian dan Kuitansi

# BAB 4: Ekuestrian dan Kuitansi

Jakarta, Agustus 2027.

Pagi itu, Baskoro memakai kemeja linen biru langit yang membuatnya terlihat seperti pria yang belum pernah menderita sehari pun dalam hidupnya. Dan mungkin memang benar, setidaknya bukan jenis penderitaan yang kubawa dalam koper dari Pulau Belitong.

"Udah siap, Riz?" tanyanya dari balik meja makan panjang kami yang terbuat dari kayu akasia solid. Di depannya, laptop tipis menyala menampilkan grafik saham yang bergerak-gerak seperti elektrokardiogram.

Fariz muncul dari kamarnya dengan jaket riding baru. Helm berkuda hitam mengkilap terjepit di ketiak kanannya. Sepatu jodhpur kulit cokelat yang harganya setara dengan satu bulan gaji kotor PNS Golongan IIIb berdetak di lantai marmer.

"Siap, Om."

Om. Bukan Ayah. Bukan Papa. Fariz memanggil Baskoro dengan panggilan itu sejak pertama kali mereka berkenalan. Satu tahun pernikahan tidak mengubah apa pun. Baskoro tidak pernah memaksa, tidak pernah menyinggung, tidak pernah menunjukkan kekecewaan. Dia hanya mengangguk dan tersenyum setiap kali kata itu keluar dari mulut anak laki-lakiku yang keras.

Aku menyesap kopi dari cangkir keramik Jepang buatan tangan, hadiah Baskoro dari pameran seni di Roppongi tahun lalu, dan mengamati mereka berdua dari ujung meja.

Ada yang salah dengan pemandangan ini. Tapi aku belum bisa menunjukkan apa.

Jakarta Equestrian Club berada di kawasan Pulomas, menempati lahan seluas tiga hektare yang dikelilingi pepohonan rindang dan pagar besi tempa setinggi dua meter. Gerbangnya dijaga dua petugas berseragam yang membungkuk sopan ketika Range Rover hitam Baskoro memasuki halaman parkir yang dipenuhi mobil-mobil Eropa.

Aku turun dari kursi penumpang. Udara pagi yang seharusnya segar terasa berat oleh bau jerami dan pelana kulit.

"Ini instruktur utamanya, Herr Müller," Baskoro memperkenalkan seorang pria Jerman berusia lima puluhan dengan bahu lebar dan tangan yang terlihat lebih terbiasa memegang tali kekang daripada gelas champagne. "Dia yang melatih tim ekuestrian nasional Indonesia di SEA Games kemarin."

Herr Müller menjabat tangan Fariz. Anak itu langsung tegak, matanya menyala. Aku mengenali ekspresi itu, persis seperti ekspresi Zarimuddin dua puluh tahun lalu ketika dia baru mendapat SK penempatan di Bappeda Belitung Utara. Campuran antara ambisi dan kepolosan yang hanya dimiliki oleh orang-orang yang belum tahu harga sesungguhnya dari keinginan mereka.

"Untuk paket Gold Membership, Pak Baskoro," sekretaris klub menjelaskan sambil menyodorkan selembar kertas di ruang tunggu ber-AC yang didekorasi dengan foto-foto kuda thoroughbred, "sudah termasuk delapan sesi per bulan dengan Herr Müller, akses arena indoor dan outdoor, perawatan kuda personal, seragam lengkap, dan asuransi."

Baskoro mengangguk tanpa membaca angkanya.

"Nominal totalnya Rp 9.750.000 per bulan, Pak. Atau kami bisa bundle setahun penuh di harga Rp 108.000.000. Kalau ditambah biaya pendaftaran dan deposit kuda, totalnya jadi,"

"Seratus dua puluh juta," potong Baskoro ringan. Dia sudah mengeluarkan dompet kulitnya. "Setahun penuh, ya. Langsung."

Dia menggesek kartu hitamnya di mesin EDC.

Aku berdiri di sampingnya. Kakiku terasa terpaku di lantai keramik ruang sekretariat itu. Mataku terpaku pada layar kecil mesin EDC yang menampilkan angka 120.000.000 dan tulisan APPROVED yang berkedip hijau.

Seratus dua puluh juta rupiah. Satu gesek. Tiga detik.

Tanpa jeda napas. Tanpa kerutan di dahi. Tanpa pertanyaan "Kamu yakin, Riz? Kamu nggak mau coba yang paket biasa dulu?"

Lihat selengkapnya