Penjara Tika

Muhammad Sapril
Chapter #6

Laki Laki yang Menunggu

Makan malam di kediaman kami yang baru selalu memiliki koreografi yang ketat.

Maria, asisten rumah tangga yang sudah bekerja untuk Baskoro sejak pria itu pertama kali membeli apartemen penthouse ini, akan menghidangkan makanan tepat pukul tujuh malam. Tidak ada piring berdenting keras. Tidak ada suara televisi yang memekakkan telinga. Baskoro akan duduk di ujung meja, aku di sebelah kanannya, dan Fariz di sebelah kiriku.

Sangat berbeda dengan meja makan berpelitur kusam di rumah KPR di Belitung Utara dulu. Di sana, makan malam adalah arena perang. Zarimuddin akan mengunyah makanannya dalam kebisuan yang padat, sementara aku mengisinya dengan tagihan koperasi, keluhan soal atap bocor, dan target nilai rapor Sari.

Tapi malam ini di Jakarta, dikelilingi lampu kristal chandelier, semuanya terasa empuk dan bisa dikunyah.

"Om, kudanya Herr Müller tadi gila banget speed-nya pas di cornering," cerita Fariz dengan mata membelalak antusias. Mulutnya penuh dengan wagyu steak yang dimasak medium well. "Tadi Om sempat videoin, kan?"

"Sempat dong." Baskoro tersenyum, menyodorkan ponselnya untuk menunjukkan rekaman Fariz di atas pelana. Laki-laki itu mendengarkan celotehan anak tirinya dengan penuh perhatian, penuh kesabaran.

Aku memotong dagingku kecil-kecil, mengamati Baskoro.

Dia pria tampan dengan garis wajah Jawa yang tenang, rambut yang mulai diwarnai sedikit uban di pelipis, dan rahang yang menunjukkan bahwa dia pernah bekerja keras sebelum menjadi triliuner. Kami seumuran. Tahun-tahun di media massa awal reformasi dulu pernah mempertemukan kami dalam satu koridor redaksi yang sama, sebelum akhirnya aku dimutasi ke biro daerah dan dia pindah jalur menjadi pengusaha tambang.

Dulu, dia tidak terlihat setenang ini. Dulu, Baskoro yang kukenal adalah aktivis pers kampus yang meledak-ledak. Yang tidak aku sangka adalah, ketika kami bertemu lagi di Jakarta, saat aku sedang di titik terendah kehidupanku sebagai janda dengan tanggungan seorang anak laki-laki remaja, dia menawariku perlindungan yang absolut. Tidak ada pertanyaan.

"Pelan-pelan makannya, Riz," tegurku pelan saat Fariz tersedak air es.

"Biarin aja, namanya juga anak laki-laki lagi excited," sahut Baskoro santai. Dia memotong dagingnya sendiri, lalu menoleh padaku. "Kamu tadi meeting sama anak event organizer buat launching pameran lukisan itu lancar?"

"Lancar. Proposalnya udah di meja kerjamu." Aku meletakkan garpuku. Ada satu pertanyaan konyol yang menahan tenggorokanku sejak siang tadi di klub berkuda. Pertanyaan yang tiba-tiba muncul karena terlalu banyak rasa mual akibat perbedaan dua kehidupanku. "Mas."

"Ya?"

Lihat selengkapnya