Penjara Tika

Muhammad Sapril
Chapter #7

Pena yang Patah

Aku tidak bisa tidur.

Baskoro sudah masuk ke kamar sejak pukul sepuluh, setelah mencium keningku dan berbisik "Selamat malam" dengan ketenangan seorang laki-laki yang baru saja menumpahkan rahasia terbesar hidupnya dan merasa lega karenanya. Dia tidur telentang, napasnya teratur, seolah kata-kata yang ia ucapkan di meja makan tadi tidak menghantam siapa pun.

Aku duduk di sofa ruang tengah, memeluk bantal, menatap langit Jakarta dari balik kaca jendela penthouse yang membentang dari lantai ke langit-langit. Di luar, kota ini tidak pernah benar-benar gelap. Lampu-lampu gedung bertingkat tidak pernah benar-benar padam.

"Waktu lo dipindah ke biro cabang dan ketemu Zarimuddin di Belitung Utara... gue udah siapin cincin."

Kalimat Baskoro terus berputar. Dan setiap kali berputar, ia menarikku semakin dalam. Bukan ke masa kini, tapi ke masa yang sudah lama kubunuh dalam ingatan.

Malam ini, bantal sofa mewah ini bukan tempat untuk tidur. Ia menarikku ke belakang.

Belitung Utara, awal tahun 2005.

Aku turun dari pesawat kecil berbaling-baling dua di bandara HAS Hanandjoeddin dengan koper berisi tiga pasang kemeja murah, satu recorder analog, dua buku catatan spiral, dan seluruh kepercayaan diri perempuan dua puluh tiga tahun yang mengira dunia bisa diubah oleh berita.

Udara Pulau Belitong menyambutku dengan tamparan lembap yang tak pernah kualami di Jakarta. Campuran garam laut, tanah merah, dan asap bakaran sampah. Aku menarik napas dalam-dalam dan tersenyum. Ini adalah pengasingan sukarela, pindah dari redaksi pusat di ibu kota ke biro cabang di kepulauan timah, demi mengejar cerita-cerita yang tidak akan pernah diliput oleh jurnalis metropolitan yang lebih tertarik mengintip skandal selebriti.

"Mbak Tika?" Seorang pria berkacamata tebal menjemputku di pintu keluar terminal. Namanya Rusdi, kepala biro daerah yang tubuhnya sekurus tiang antena dan suaranya sekeras pengeras masjid. "Selamat datang di Pulau Belitong, Mbak. Kantor kita cuma dua ruangan setengah, tapi warung kopi depannya enak banget."

Aku tertawa. "Aku nggak butuh kantor besar, Bang. Aku butuh narasumber yang berani buka mulut."

Rusdi menatapku dengan senyum tipis yang menyimpan arti ganda. "Di sini semua orang buka mulut, Mbak. Masalahnya, yang keluar biasanya cuma gosip atau basa-basi. Fakta itu barang langka."

Bulan pertamaku di Belitung Utara, aku menulis delapan artikel yang semuanya ditolak editor pusat. Terlalu lokal, katanya. Tidak ada angle nasional. Siapa peduli soal tambang timah rakyat yang merusak mangrove di teluk-teluk kecil Pulau Belitong? Siapa peduli soal nelayan yang kehilangan tangkapan karena kapal isap mengeruk dasar laut? Siapa peduli soal anggaran desa yang menguap di tangan kepala dinas yang hobi main golf di Pangkalpinang?

Aku peduli, ingin kujawab. Tapi idealisme tidak membayar tagihan telepon satelit.

Bulan kedua, aku mulai menyesuaikan strategiku. Menulis feature yang lebih halus, menyisipkan data di antara narasi-narasi yang terasa human. Aku mencoret kata "kafe" dari kosakataku, karena di Pulau Belitong tahun 2005, "kafe" identik dengan "kafe semak", tempat minum-minum para pekerja tambang inkonvensional. Sebagai gantinya, aku belajar minum kopi hitam berampas di warkop legendaris.

Pusat kehidupanku bergeser ke Kawasan KV Kaveling Senang, tepat di jantung kota Tanjungpandan lama, berseberangan dengan Jam Gede peninggalan GMB-timah Belanda. Di sanalah, di salah satu meja marmer tua milik Warkop Ake pada suatu pagi di bulan April yang terik, aku pertama kali bertemu Zarimuddin.

Dia duduk di sudut warkop dengan segelas kopi O dan setumpuk dokumen. Kemeja putih lengan panjang yang sudah digulung sampai siku. Celana kain abu-abu yang sedikit kusut di bagian lutut. Sepatu pantofel hitam, bukan sneaker. Di tengah kepungan bapak-bapak dan para sopir yang tertawa membicarakan harga timah, laki-laki ini tetap berpakaian seperti sedang menghadiri sidang kabinet.

Yang pertama kali kunotis bukan wajahnya. Wajahnya biasa saja, rahang yang tidak terlalu tajam, mata yang tidak terlalu besar, dagu yang tidak terlalu menonjol. Bukan tipe laki-laki yang membuat kepala perempuan menoleh di jalan.

Yang kunotis adalah caranya membaca.

Lihat selengkapnya